Abdul Aziz Alimul Hidayat

Membuat Perubahan Melalui Tulisan 

Merubah sesuatu tidak harus dengan menyuruh atau memerintah”, 

Begitulah yang diungkapkan Abdul Aziz, wakil rektor I Universitas Muhammadiyah Surabaya. Lelaki kelahiran Lamongan 45 tahun silam ini merupakan sosok yang tertantang untuk terus melakukan perubahan. Salah satu jalan yang diambilnya adalah dengan cara menulis. 

Hingga saat ini Aziz telah menulis 13 buku dan puluhan karya ilmiah dalam jurnal/prosiding. Ia mengaku mulai menggeluti bidang tulis-menulis sejak tahun 2001. Aziz melihat banyak peluang yang didapatkan melalui tulisan, termasuk dapat memberikan perubahan. 

Sebagai sosok yang mengenyam kuliah di bidang keperawatan, Aziz melihat banyak penyimpangan yang terjadi dalam dunia keperawatan. Seperti perawat yang juga ditugaskan untuk menyapu dan mengepel ruangan di rumah sakit, hingga membersihkan jendela. Menurut Aziz hal-hal semacam itu bukanlah tugas dari perawat. Perawat merupakan mitra dokter, sehingga tugasnya adalah memberikan perawatan kepada pasien. 

Dari sana Aziz mulai berfikir untuk melakukan perubahan atas hal-hal yang dilihatnya. Ia kemudian menulis buku yang berjudul Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan. Tidak hanya itu, buku- buku lain yang berkaitan juga ditulisnya seperti, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan, dan masih banyak lagi. 

Buku-buku tersebut kemudian banyak dipakai oleh instansi-instansi di berbagai daerah. Sebelumnya, buku semacam itu belum ada di Indonesia, sehingga mahasiswa keperawatan membutuhkan buku panduan itu. Aziz sendiri mulai melihat perubahan yang terjadi setelah bukunya banyak digunakan. Saat ini perawat tidak lagi bertugas membersihkan ruangan, tetapi memberikan perawatan kepada pasien. 

“Salah satu pintu yang dapat merubah paradigma adalah dengan menulis buku. Saya tidak dapat merubah rumah sakit, tapi saya bisa menulis buku, ungkapnya. “Kalau mengganti seprai itu memang benar tugas perawat, karena bagaimana mengatur posisi pasien dengan penyakit tertentu itu sangat perlu, tapi untuk membersihkan jendela tidak”, tambah Aziz. 

Dalam hidupnya, Aziz berpegang teguh pada konsep yang tertera dalam hadist yaitu, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lain”. Sehingga, di manapun Aziz berada, ia tidak ingin menjadi orang yang tergantung kepada orang lain. 

Bagi Aziz menjadi Wakil Rektor merupakan salah satu jalan yang dapat diambil untuk terus melakukan perubahan dan kebaikan. Jika dulu sebelum memegang jabatan ia banyak menulis untuk melakukan perubahan, saat ini ia pun juga bisa membuat kebijakan untuk melakukan perubahan. itulah sebabnya Aziz mau menerima amanah untuk menjadi Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS). 

Keinginan Aziz untuk menjadikan UMS menjadi lebih baik dan terus berkembang saat ini sudah terlihat hasilnya. Dulu UMS sangat jarang dilihat bahkan diragukan oleh orang. Cara yang dilakukan Aziz adalah dengan memberikan contoh kepada para dosen UMS untuk mempublikasikan dan membuat banyak tulisan sehingga dapat terlihat hasilnya. 

“Dengan sistem, pola, dan budaya yang sama sebagaimana sebelumnya, maka UMS tidak akan berkembang. Jika tidak mengembangkan UMS dari dalam, maka UMS tidak akan berubah”, begitulah pendapat Aziz. 

Aziz ingin mengejar ketertinggalan UMS dengan perguruan tinggi Muhammadiyah yang lain, seperti Universitas Umahmmadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Universitas Muhammadiyah Malang(UMM). 

Bagi Aziz UMS adalah tempat yang tepat untuk mengabdikan diri. Selain menjunjung tinggi nilai agama juga terdapat kebebasan mengembangkan diri dan kebebasan bekerja di sana. Ia juga ingin membuktikan kepada orang bahwa bekerja di Universitas Muhammadiyah juga bisa menghasilkan uang. 

Mempublikasikan tulisan merupakan hal penting yang juga menghasilkan uang. Berkarya sama halnya dengan memberikan dampak. Hingga banyak dosen mulai menulis. Aziz juga berpesan kepada para dosen di UMS untuk mengajar penuh dengan hati dan kedispilinan, dan menganggap bahwa kendala adalah bagian yang berperan penting untuk mematangkan diri. Kesan yang dirasakan Aziz selama menjabat sebagai Wakil Rektor I adalah banyaknya terjadi konflik saling mengkritik dan sering memerintah, tapi mereka sendiri tidak sadar. Bagi Aziz sikap-sikap tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, sehingga Aziz melihat peluang bahwa memerintah dapat dilakukan dengan memberi contoh yang dilakukan oleh diri sendiri terlebih dahulu. Sehingga kemudian banyak orang yang ikut melakukannya tanpa diperintah. 

Semasa kuliahnya di Universitas Airlangga dulu, Aziz menyampaikan bahwa ia sangat terkesan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh para dosen. Bahkan ia masih mengingat siapa saja dosen-dosen yang memberinya pelajaran sangat berharga. Salah satunya adalah Prof Setiawan yang mengajarkan cara mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah. Aziz mengaku bahwa ia sangat bangga menjadi alumni UNAIR. 

“Substansi dari mata kuliah memang penting untuk dimengerti. Belajar tidak hanya duduk di dalam kelas dan mendengarkan substansi mata kuliah. Tapi lihatlah nilai-nilai yang diajarkan oleh para dosen, pembelajaran apa yang didapatkan. Jangan percaya langsung apa yang disampaikan dosen, tetapi bagaimana meyakinkah apa yang diajarkan agar diri kita terus berkembang”, pesan Aziz untuk para mahasiswa UNAIR. 

Riwayat Pekerjaan

  • Wakil Rektor I

    Universitas Muhammadiyah Surabaya

  • Sekretaris

    Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Muhammadiyah Surabaya

    2011 - 2013

  • Sekretaris

    LPPM Universitas Muhammadiyah Surabaya

    2005 - 2006

  • Wakil dekan 1

    Fakultas Ilmu Kesehatan

    2006 - 2013

Riwayat Pendidikan

  • S3 Kesehatan Masyarakat

    Universitas Airlangga

    2009 - 2013

  • S2 Kesehatan Masyarakat

    Universitas Airlangga

  • S1 Pendidikan Ners

    Universitas Airlangga

    1999

  • D-3 Keperawatan

    Universitas Muhammadiyah Surabaya

    1996

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga