Agus Budiawan

Belajar dari Pengalaman, Beradaptasi dengan Tantangan

“Untuk mewujudkan harapan cukup upayakan, lalu pasrahkan.”

Pengalaman adalah guru terbaik kehidupan. Kalimat itu terlontar dari Agus Budiawan, S.Hum., alumnus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR). Agus, sapaannya, menganggap pengalaman sebagai sebuah proses untuk terus bertumbuh. Salah satunya, pengalaman di bangku perkuliahan yang menjadi bekal Agus dalam meniti karier impian.

Saat ini, Agus menjabat sebagai editor bahasa di Jawa Pos cabang Jakarta. Tentu keberhasilan tersebut merupakan buah dari usaha dan kegigihannya. Sebagai ksatria Airlangga, jiwa pantang menyerah telah melekat dalam diri laki-laki kelahiran Gresik itu.

Komunitas Jadi Wadah untuk Berkembang

Selama menempuh studi di UNAIR, Agus mempunyai prinsip bahwa ilmu dapat diperoleh dari mana saja. Oleh karena itu, ia memanfaatkan waktu luang usai kuliah dengan mengikuti organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Departemen Sastra dan Bahasa Indonesia (HMD Sasindo).

Selain aktif organisasi, ia juga mewarisi kebiasaan mahasiswa pada umumnya, yakni nongkrong bersama teman sejawat. Menurut Agus, nongkrong tidak selalu berkonotasi negatif. Justru aktivitas tersebut, katanya, bisa mempererat relasi antar teman dari lintas angkatan, jurusan, bahkan luar kampus.

“Terkenalnya anak FIB kan suka nongkrong, sebenarnya inilah yang bikin berkesan karena kalau di kelas kita hanya dapat materi. Tapi berkumpul dengan teman-teman, kita banyak mendapatkan insight baru,” tutur Agus.

Lebih lanjut, ia bercerita pengalamannya saat bergabung dalam komunitas sastra Cak Die—nama komunitas ini diambil dari warung kopi yang menjadi tempat berkumpul—sesuai dengan ketertarikannya pada bidang kepenulisan. Adanya komunitas itu pun menyimpan kenangan manis dalam perjalanan karier Agus.

“Memang dari awal inginnya kerja di media massa atau jurnalistik, yang tidak jauh dengan dunia menulis. Nah, pengalaman ikut komunitas ini sedikit banyak memberikan ilmu yang bermanfaat ketika diaplikasikan di dunia kerja,” jelasnya.

Selama berproses di komunitas Cak Die, Agus semakin giat menulis dan beberapa kali pernah terpilih menjadi penulis buku antologi sastra. Tak heran, ia menganggap pengalaman berkomunitas sebagai pelajaran yang berharga.

Memilih Antara Karier atau Passion

Berhasil menyandang gelar sarjana pada tahun 2011, Agus kemudian mencoba peruntungan karier sebagai content writer di salah satu portal media online. Namun, karena tantangan media baru yang membutuhkan waktu sehingga menjadi alasan dirinya hanya bertahan selama enam bulan.

Setelah itu, Agus bekerja sebagai jurnalis di media surat kabar harian, Surabaya Post. Berjalan selama dua minggu, ia merasa profesi jurnalis bukanlah passion-nya dan memilih untuk mengundurkan diri. “Kurang cocok dengan dinamika kerjanya, lebih nyaman kerja di belakang meja yang tidak banyak interaksi,” terang Agus.

Terjebak antara pilihan karier atau passion, Agus mengaku sempat tidak bekerja hampir satu tahun lamanya. Kendati begitu, ia tetap bertekad untuk berkarier di ranah pers. Pada tahun 2014, ia akhirnya diterima menjadi editor media cetak Jawa Pos hingga pernah menjabat sebagai koordinator editor bahasa tahun 2017 sampai 2021.

Di balik pencapaian tersebut, rupanya ada pengorbanan Agus yang rela merantau ke Jakarta demi seimbangkan karier dan mimpi. “Memang dari awal editor Jawa Pos sudah menjadi tujuan. Kebetulan di Jakarta buka cabang baru dan saya langsung apply, Alhamdulillah keterima sampai sekarang,” ujar laki-laki yang hobi menulis itu.

Adaptasi Adalah Kunci

Tak bisa dipungkiri, kemampuan adaptasi menjadi kunci sukses dalam dunia kerja. Hal ini dikatakan Agus selaku editor, yang mana pekerjaan tersebut selaras dengan latar belakang pendidikannya. Namun, ia juga masih harus menyesuaikan diri dengan gaya bahasa dan penulisan di Jawa Pos.

“Tantangan editor tentunya berkutat dengan naskah-naskah. Jadi kita memang harus adaptasi, belajar soal materi dan aturan penulisan bahasa karena setiap media punya ciri khasnya sendiri,” kata Agus.

Selain adaptasi perihal dinamika kerja, tantangan lain yang tidak kalah penting bagi Agus yaitu sosialisasi dengan orang-orang baru, termasuk rekan kerja. “Ketemu teman-teman baru yang multikultural dan multireligius, apalagi dari Surabaya ke Jakarta kulturnya berbeda jadi harus menyesuaikan diri,” tambahnya.

Kini hampir satu dekade Agus mengabdi di Jawa Pos, di sela-sela kesibukannya ia juga menerima tawaran seperti menyunting buku atau novel. Salah satu pengalaman berkesan, ia pernah terlibat dalam penulisan buku yang memuat kritik terhadap pemerintah. Baginya, karya ‘berani’ tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.

Pada akhir, Agus merefleksikan perjalanan karirnya sebagai proses belajar tanpa henti. Dalam hal ini, lanjutnya, belajar dari setiap pengalaman dan tantangan yang ada. Selain itu, berusaha untuk tidak hanya tertuju pada satu jalan, namun berani mengambil risiko.

“Jadi lewat jalan mana pun tidak apa-apa, asalkan tujuan tetap satu. Seperti saya mencoba peluang di media dan jurnalis, nantinya pengalaman itu bisa menuntun kita untuk meraih apa yang kita inginkan meski membutuhkan waktu. Maka yakin, usahakan, dan pasrahkan saja,” pungkas penggemar sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu.

Riwayat Pekerjaan

  • Creative content news portal www.cukupsatu.com

    PT Media Virtual Indonesia

    2011 - 2012

  • Jurnalis Surabaya Post

    2012

  • Editor bahasa

    Jawa Pos Jakarta

    2014 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Bahasa Dan Sastra Indonesia

    Universitas Airlangga

    2007 - 2011

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga