Kuswardani

Merasa Passionnya di dunia Obat-Obatan

Saat kuliah Pernah manggung di Tunjungan Plaza

LAHir di Makassar, Kuswardani mengenyam pendidikan dasar hingga ga SMA di Magetan. Ketika kuliah, Kuswardani memutuskan untuk merantau ke Surabaya dan mengambil gelar sarjana di Universitas Airlangga program studi Farmasi pada tahun 1989 dengan lulus profesi apoteker pada tahun 1996. Semasa menempuh perkuliaan di Unair, Kuswardani juga turut 

mengikuti pendidikan Sepa PK/PSDP dengan jurusan Akmil pada tahun 1994-1995 selama 6 bulan.
Kesibukan Kuswardani selain melakukan aktivitas di bidang perkuliahan, juga termasuk mahasiswa yang aktif di bidang organisasi dan seni. Di bidang organisasi, Kuswardani menjadi anggota Senat mahasiswa (kini BEM), serta menjadi anggota organisasi ekstra kampus. Di bidang seni Kuswardani tergabung ke dalam kelompok vocal group farmasi angkatan 1989.
 

Bersama teman-teman vocal groupnya, Kuswandari sering tampil di berbagai tempat di Surabaya. “Saya dulu sering manggung di TP, di Hotel Tunjungan dll,” ujarnya. Kuswandari bersyukur dengan hasil yang dia dapatkan dia dapat gunakan untuk berbagai kebutuhan kuliah, salah satunya bisa digunakan untuk membeli makanan enak.
Bagi Kuswandari, masa kuliah adalah masa perjuangan. Untuk mencukupi segala kebutuhan semasa kuliah, Kuswandari selalu mencari beasiswa. Dan beruntung, dia berhasil mendapatkan beasiswa semasa kuliah di Unair. Kuswandari juga berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan ABRI pada tahun 1993 dan memutuskan cuti kuliah di Unair untuk sementara waktu.
 

Bertugas di kepolisian
Sekembalinya menempuh pendidikan ABRI, Kuswandari melanjutkan pendidikan kuliahnya hingga tamat profesi apoteker di Universitas Airlangga dan melanjutkan jenjang pendidikan ABRI sembari menyelesaikan gelar master di Universitas Indonesia.
Berbekal pendidikan ABRI (dari bidang keilmuan), selesai kuliah profesi apoteker tahun 1996 Kuswardani langsung bertugas di kepolisian Jakarta di bagian Pasi Polijang Sie Yankes Diskokkes Polda Metro Jaya (1997-1999).


Setelah di tempatkan di bagian umum, kemudian pada tahun 1998 Kuswandari ditugaskan di bagian sarana prasarana hingga tahun 2007 dengan jabatan Kaur Matkes Set Disdokkes Polda Metro Jaya (1999-2003) dan Kaur Matkes Subbid Yanmat Faskes Biddokes Polda Metro Jaya (2003-2007).
Saat bertugas di bagian sarpras kepolisian, Kuswandari telah berhasil meningkatkan layanan kesehatan dengan meningkatnya sarana prasarana di bidang keseh atan, pergudangan serta klinik yang dibuat lebih modern. Kuswadari juga berhasil membangun apotek dan klinik NASATRA yang berfungsi merawat pecandu narkotika yang menjadi cikal bakal BNN (Badan Narkotika Nasional).


Berdasarkan perintah dan surat keputusan Kapolri untuk mengembangkan laboratorium narkotika sehingga pada 2007 Kuswardini ditugaskan di BNN dengan jabatan kapten. Pada tahun 2007 inilah, pertama kali Kuswardani mulai bertugas sebagai Kasubbud Laboratorium Narkoba Puslab T & R Badan Narkotika Nasional (2007).
Pada awal bertugas, meskipun dengan jumlah anggota laboratorium yang masih sedikit Kuswardani mencoba menjalankan fungsi laboratorium BNN dengan maksimal dengan belajar metode, cara melayani, mendapatkan legalitas dari hasil kita, dan bagaimana agar hasil laboratorium dapat diakui di pengadilan. Kemudian Kuswardani bergeser menjadi Kasubbud Stand T & R Penyakit Kompl. Bid. Penyakit Kompl. Pus T & R (2007-2008).
Setelah mengikuti workshop di Korea Selatan dengan materi ‘Asean Workshop on Drugs’, kemudian Kuswardani ditugaskan menjadi Pjs. Kepala UPT Laboratorium Uji Narkoba Badan Narkotika Nasional (2008-2010). Saat bertugas di sini, Kuswardani sekaligus menjalankan sekolah lanjutan polisi. Dari sekolah ini tercipta karya tulis yeng berjudul ‘Reorganisasi Subbid Laboratorium BNN’ yang menginginkan laboratorium menjadi kantor sendiri. Dan setelah diajukan, ide inipun dikabulkan sehingga lab mempunyai kantor sendiri yang mandiri atau satuan kerja baru dengan jabatan Letkol. Kuswardani kemudian ditugaskan menjadi Kepala UPT Laboratorium Uji Narkoba Badan Narkotika Nasional (2010-2014).


Tidak berhenti sampai di sini, kemudian Kuswardani kembali memperjuangkan struktur laboratorium BNN menjadi balai laboratorium dengan ditugaskan menjadi Kepala Balai Laboratorium Narkoba Badan Narkotika Nasional (2014-2019) dengan jabatan Kolonel Komisaris Besar Polisi. 
Tahun 2016 Kuswardani mengajukan pembangunan laboratorium tersendiri dan masuk diprioritas nasional. Dan pada tahun 2017 dibangunlah laboratorium di Bogor dan selesai pada tahun 2018. Kemudian, Kuswardani juga mengajukan laboratorium menjadi laboratorium Pusat Narkotika Nasional dan berhasil disetujui oleh pusat pada bulan Februari 2019. Kini laboratorium berganti nama menjadi Pusat Laboratorium Narkoba Badan Narkotika Nasional.
Selain mengembangkan laboratorium, Kuswandari juga pernah menjadi Sparring Comite di Asean pada tahun 2012-2013. Untuk menunjang kariernya, Kuswardani sering mendapatkan tugas pelatihan di berbagai negara seperti Korea Selatan, Switzerland, Malaysia, Kamboja, Brunei, Jepang, Thailand, Singapura dan Amerika.
Harapan ideal untuk Indonesia di masa depan adalah dengan banyaknya laboratorium yang tersebar di Indonesia, Kuswandari berharap terdapat badan laboratorium nasional yang nantinya bisa mengkoordinasikan semua laboratorium yang ada di Indonesia.
Dengan adanya badan tersebut, meski laboratorium tidak dalam satu tempat diharapkan setiap laboratorium dalam berkolaborasi lebih baik, tidak egosentris terhadap lembaga masing-masing dan dapat berjalan efektif. (*)

Copyright © Universitas Airlangga