Dirikan Yayasan, Stasiun Radio, hingga Perjuangkan Akses Air dan Ketahanan Pangan Sumba
Nama Heinrich Dominggus Dengi, S.Si, Apt. telah melanglang buana dalam jejak perjalanan masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menemukan sumber air dan ketahanan pangan. Lulusan Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1989 tersebut menceritakan bagaimana jalan panjang kariernya hingga kini tenggelam bersama masyarakat Sumba.
Heinrich, sapaan akrabnya, menuturkan bahwa semasa kuliah dirinya hanya mahasiswa biasa-biasa saja dalam akademik. Dirinya dahulu lebih aktif berkegiatan dan bekerja di salah satu radio di Surabaya. Sementara itu seusai lulus dari UNAIR dirinya memilih untuk mengikuti keahlian akademiknya dengan bekerja di beberapa apotek di Jawa maupun NTT. Bahkan di tahun 2003 hingga 2005, Heinrich pernah mengajar dan menjadi dosen tidak tetap di Akademi Perawat Kupang.
Akan tetapi, lelaki kelahiran 22 Juni 1970 tersebut memulai pengembaraan kariernya saat memilih kembali ke kampung halamannya di Waingapu, Sumba Timur. Salah satu wilayah Indonesia dengan iklim panas yang tinggi serta akses air yang begitu rendah.
Kondisi Sumba Mengubah Karier dan Jalan Hidupnya
Setelah bertahun-tahun bekerja di bidang kefarmasian, Heinrich bercerita bahwa pada satu titik, kondisi Sumba serta progres kefarmasian Indonesia mendorongnya terjun lebih dalam pada aksi pengabdian masyarakat. Dari tahun ke tahun angka lulusan farmasi Indonesia semakin bertambah dan regenerasi berjalan lancar. Sementara dirinya melihat bahwa isu krisis air di Sumba masih terus berlangsung tanpa adanya solusi pasti.
Heinrich menceritakan kondisi Sumba, khususnya di Waingapu saat itu begitu memprihatinkan. “Ada wilayah yang sama sekali tak bisa dapat air. Anak-anak harus berjalan naik turun tebing selama dua jam hanya untuk mencari dua jerigen air. Air ada jauh di bawah, sementara pemukiman penduduk ada di ketinggian,” ungkap pembina Kelompok Tani Sumba Timur tersebut.
Akhirnya pada tahun 2003, Heinrich memilih untuk menekuni dunia jurnalistik dan penyiaran dengan merintis stasiun radio yang ia namakan Max FM Waingapu. Pendirian radio yang mengudara di 96.9 FM itu sendiri terinspirasi dari Radio Suara Surabaya, di mana Heinrich mengenal dekat sang CEO. Heinrich sendiri melihat radio sebagai media informasi yang paling mudah menjangkau dan dijangkau masyarakat Waingapu. Melalui Max FM dirinya membagikan berbagai informasi dan berita, termasuk update situasi pandemi Covid-19.
Kerja keras Heinrich untuk membangun image dan kredibilitas radionya membuat Max FM kini secara rutin tidak hanya membagikan berita, akan tetapi juga mengundang berbagai narasumber dan menggelar banyak talkshow. “Belum lama ini ada narasumber dari Australia. Beberapa hari ke depan ada narasumber arkeolog dari Jakarta yang akan membahas situs Lambanapu di Waingapu,” ungkap Direktur Max FM tersebut.
Ketekunannya itu ternyata mampu mengantarkan Heinrich meraih beberapa beasiswa belajar keluar negeri. Seperti pada tahun 2008, dirinya pernah terbang ke Belanda untuk belajar selama satu bulan di Radio Netherland Werelomroep. Kesempatan tersebut akhirnya membuka jalan bagi Heinrich untuk membangun jejaring bagi perjuangannya menemukan sumber air bagi masyarakat Sumba.
Dirikan Yayasan dan Ajak Kawan Belanda Bangun Kincir Air dan
Sistem Pengairan
“Saat kami datang berkata akan membawa sumber air ke atas, mereka tidak percaya,” kenang Heinrich.
Pada tahun 2012, Heinrich memulai langkah mencari akses sumber air dengan menggali sumur bersama beberapa kawannya. Langkah tersebut tidak hanya ia lakukan di Waingapu, akan tetapi juga di beberapa desa dan kecamatan lain di Sumba Timur. Tantangan yang dihadapi sendiri tidak dapat dianggap mudah. Pernah pada satu waktu mereka harus menggali hingga kedalaman 45 meter untuk menemukan sumber air.
Tantangan itulah yang kemudian mendorong Heinrich untuk mendirikan Yayasan Komunitas Radio Max (YKRM) Waingapu yang difokuskan pada usaha pencarian sumber air dan pemberdayaan pertanian masyarakat. Melalui yayasan tersebut Heinrich menghimpun dana, bantuan, serta sumber daya manusia yang ingin ikut serta dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Selain itu, Heinrich mengajak beberapa kolega dan LSM asal Belanda untuk turun tangan membantu masyarakat Sumba.
Bersama mereka, Heinrich membangun kincir air serta sistem pengairan Barsha yang ternyata begitu cocok diaplikasikan pada kondisi tanah dan kontur daerah Sumba. Sistem tersebut juga sangat e isien karena hanya memanfaatkan putaran air sebagai sumber energinya. Progres besar tersebut akhirnya membawa Heinrich kembali melangkah lebih jauh tidak hanya untuk menemukan sumber air, akan tetapi juga mengupayakan ketahanan pangan masyarakat Sumba.
Terharu Melihat Anak Waingapu Sehat dan Mampu Beli Ponsel Baru
Beberapa tahun belakangan, Heinrich bersama staf YKRM mulai memfokuskan aksi mereka pada sektor pertanian di Sumba. Akibat sulitnya akses air, masyarakat dulunya hanya mampu menanam dua bedeng sayur dengan panjang 5-10 meter. Sumber airnya pun hanya dapat diambil secara manual dari kedalaman 3-4 meter. Akan tetapi saat Heinrich bersama YKRM hadir, petani Sumba kini mampu menghasilkan 100-150 meter bedeng sayur karena sistem pengairan kini mampu membawa puluhan liter air menuju perkebunan warga.
“Jumlah itu cukup untuk mengairi 2 sampai 3 hektar lahan. Kini yang ditanam tidak hanya jagung, tapi ada bawang, sawi, selada, tomat, dan berbagai macam sayur lain. Perputaran uangnya bisa sampai puluhan juta rupiah,” ungkap peraih beasiswa belajar selama satu bulan di University of Queensland, Australia tersebut.
Besarnya hasil panen itu akhirnya membuat masyarakat Sumba mampu menjual hasil panen mereka di pasaran. Heinrich dan YKRM pun turut mencarikan pasar serta menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan perkebunan warga. Namun di atas itu semua, pengalaman paling berkesan Heinrich terletak pada reaksi dan senyum bahagia anak-anak Sumba.
“Mereka bercerita setelah makan sayur mereka lebih sehat. Pencernaan mereka lancar dan mereka semakin pintar di sekolah. Selain itu beberapa anak yang awalnya tak punya ponsel untuk pelajaran jarak jauh, kini sudah bisa membeli ponsel sendiri dari hasil kebun yang mereka tanam,” ungkap inisiator Sekolah Radio Max FM untuk Siswa Waingapu selama pandemi tersebut.
Dari belasan tahun perjuangannya, Heinrich pernah berkesempatan menjadi salah satu narasumber bagi proyek ilm Channel News Asia yang menyoroti masalah perubahan iklim. Selain itu, jejak perjuangannya juga didokumentasikan dalam liputan Metro TV bertajuk Air untuk Sumba. Dari berbagai penghargaan dan capaian lain yang diraih di sepanjang perjalanan kariernya, kini Heinrich hanya berharap agar masyarakat Sumba mampu hidup sejahtera dalam situasi apapun.
“Panas itu berkat, kalau kita tahu solusinya. Di masa depan saya harap masyarakat Sumba tidak lagi takut dengan tanah gersang atau iklim panas. Karena percayalah, panas ini berkah yang secara sah Tuhan berikan pada kita,” tutup sang pejuang air Sumba tersebut.