Sempat Frustasi Saat Kuliah, Kini Jadi Direktur Sekolah Staf Dinas Luar Negeri
Nama Renata Bulan Hanrungguan Siagian bukanlah sosok baru di Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Menjabat sebagai Direktur Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Republik Indonesia,
Renata merupakan sosok yang inspiratif sekaligus memiliki banyak pengalaman menarik. Ia merupakan salah satu alumni terbaik Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga.
“Saat ini saya berdinas di UPT Sesdilu (Sekolah Staf Dinas Luar Negeri, red), Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementrian Luar Negeri Indonesia yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta,” Buka Renata.
Memiliki karir yang cemerlang sebagai bagian dari Kementrian Luar Negeri, Renata ternyata pernah merasa kesulitan di awal masa perkuliahannya. Renata yang merupakan lulusan SMA jurusan Biologi harus belajar lebih keras di jurusan Hubungan Internasional, bidang yang sangat berbeda dengan apa yang ia tekuni sebelumnya.
“Saat itu saya mendapat kesempatan untuk memilih jurusan dari ilmu sosial, meskipun saya dari jurusan biologi. Saya pun memilih hubungan internasional, dengan harapan bias membawa saya untuk berkeliling ke berbagai belahan dunia,” ungkapnya.
Di awal masa perkuliahannya, ia sempat merasa frustasi dan kesulitan memahami apa yang dijelaskan oleh para dosen. Renata bahkan tak memiliki bayangan tentang apa yang akan ia pelajari sebagai seorang mahasiswa Hubungan Internasional. Beruntungnya, ia mendapatkan banyak bantuan dari para dosen maupun teman- temannya.
“Dalam keterbatasan saya, teman-teman dan dosen sangat banyak membantu saya. Saya belajar bahwa segala sesuatu dapat dipelajari, selama kita punya keinginan yang kuat,” kenangnya.
Berkaca dari bantuan yang ia dapatkan selama berkuliah, Renata pun menjadikannya sebagai sebuah semangat untuk berbagi. Renata tak segan membagikan informasi dan pengetahuan yang ia miliki pada teman-teman sejawat maupun lingkungan sekitarnya.
“Berbagi ilmu dan pengetahuan tidak akan mengurangi apa yang saya miliki, tetapi justru memperkaya saya,” ujar Renata.
“Nilai-nilai itulah yang saya bawa hingga kini. Setiap kali saya menemukan kesulitan dan mulai frustasi, saya akan kembali mengingat setiap langkah kecil yang saya tekuni untuk belajar di awal masa perkuliahan saya,” lanjutnya.
Awali Karir sebagai Resepsionis Perusahaan Jerman
Saat bicara soal perjalanan karir, Renata mengungkapkan bahwa perjalanannya cukup bervariasi. Berbekal kemampuannya dalam berbahasa Jerman, ia mencoba melamar ke beberapa perusahaan.
“Kebetulan saya diterima di Ferrostaal, perusahaan Jerman yang menyediakan layanan industri. Disana saya melamar sebagai resepsionis,” kisahnya.
Renata sama sekali tak keberatan dengan posisinya di perusahaan tersebut. Baginya, pengalaman bisa didapatkan dari pekerjaan apapun. Selain itu, Renata ingin meningkatkan kemampuannya berbahasa Jerman.
Dalam perjalanannya, Renata kemudian bergabung dengan salah satu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat, red) yang menyalurkan dana dari USAID. Ia bertindak sebagai Project Coordinator untuk penanganan dan pemberdayaan anak-anak jalanan di Jakarta. Ia bergabung dalam proyek tersebut selama satu tahun lebih.
Pada 1994, Renata memulai karirnya di Kementrian Luar Negeri RI. Mulai dari awal penugasan hingga saat ini, ia telah ditempatkan di tiga pos luar negeri, yaitu di KBRI Ottawa-Kanada, KBRI Bern-Swiss, dan KBRI Den Haag-Belanda.
“Untuk di dalam negeri saya sempat menangani isu pelucutan senjata multilateral, politik, dan keamanan ASEAN, dan di bidang pendidikan dan pelatihan,” tambahnya.
Pengalaman Selama Kuliah Sebagai Pelecut Semangat
Menjadi bagian dari Kementrian Luar Negeri tentunya memberikan banyak pengalaman berkesan bagi Renata. Ia berhasil mewujudkan keinginannya untuk berkeliling dunia, baik dalam rangkaian tugas kedinasannya maupun secara pribadi.
“Puji Tuhan, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa benua. Pengalaman tersebut benar-benar membuka wawasan dan cakrawala saya mengenai keragaman berbagai bangsa dan budayanya,” ujar wanita yang hobi berolahraga ini.
Sebagai diplomat, Renata harus mengikuti rotasi berkala dalam penugasannya, baik di pos dalam negeri maupun luar negeri. Dengan proses belajar yang tak ada habisnya dan tantangan baru yang mengikuti, Renata menjadikan pengalamannya selama berkuliah sebagai penyemangatnya.
“Dalam tiap kesulitan dimana saya ingin menyerah, saya selalu mengingat kembali semua pengalaman saya di bangku kuliah, khususnya di masa awal perkuliahan. Hal itu selalu menyemangati saya untuk bangkit lagi,” akunya.
Berkaca dari pengalamannya terdahulu, Renata berpesan pada para mahasiswa Indonesia untuk memiliki mental yang kuat. Mental kita harus selalu mengatakan bahwa kita bisa dan tidak membatasi diri, karena bagi Renata, it’s all about state of mind.
Renata juga mengungkapkan bahwa ungkapan sharing is caring sangat relevan dalam kehidupan sebagai mahasiswa. Saat kita berbagi dengan orang lain, khususnya dalam berdiskusi, maka kita akan memperkaya semua pihak, termasuk diri sendiri. Keberanian untuk berbagi juga menunjukkan kebesaran hati dan keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
“Indonesia merupakan negara besar yang membutuhkan orang- orang yang peduli terhadap sesama dan negara,” tegasnya.
“Kita bisa memulai dari lingkungan kampus untuk membangun kepedulian kita, baik lewat berbagi ilmu, pengetahuan, dan informasi, maupun melalui empati yang kita tunjukkan pada teman dan orang- orang di sekitar,” tutupnya.