Ghesa Ririan Mitalia

Jadi Arsiparis, Jaga Relevansi Ilmu

“Sejarah itu potensinya banyak. Setelah aku menjadi arsiparis, aku menyadari bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi dan mengimplementasikan ilmu kita”

Tidak banyak orang tahu bahwa Ilmu Sejarah memiliki prospek kerja yang begitu beragam. Salah satunya adalah menjadi seorang arsiparis. Barangkali, profesi ini lebih sering terdengar di kalangan mahasiswa atau lulusan Ilmu Kearsipan dan Ilmu Perpustakaan. Namun, ternyata arsiparis juga bisa berasal dari lulusan Ilmu Sejarah. Seperti halnya Ghesa Ririan Mitalia, alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang kini berkarir sebagai seorang arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Ghesa, sapaan akrabnya, resmi diangkat sebagai arsiparis di ANRI sejak 2018. Perjalanan karirnya pun terbilang cukup panjang. Lulus pada tahun 2012, Ghesa sempat menjajaki berbagai profesi. Misalnya, ia sempat magang sebagai document controller pada perusahaan sang ayah, juga sempat menjadi staf admin pada salah satu perusahaan rintisan bidang pariwisata selama satu tahun.

Jadi yang Pertama dan Satu-Satunya

Pada 2013 silam, Ghesa mengaku mendapatkan informasi mengenai seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Tak berpikir panjang, ia pun mencoba mengikuti, dengan harapan ini adalah kesempatan dan peluangnya untuk bisa menjajaki karir yang lebih baik. “Saat itu aku mendaftar di ANRI, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan DKI Jakarta, karena saat itu masih bebas memilih instansi, belum seperti sekarang. Aku lolos di ANRI tahun 2014, dan resmi diangkat sebagai PNS pada 2015,” ceritanya.

Menariknya, Ghesa satu-satunya peserta lolos seleksi dengan latar pendidikan ilmu sejarah. Tidak hanya itu, ia juga seolah menjadi pendobrak jalan, lantaran sebelumnya belum ada peserta lolos seleksi yang berasal dari kampus di ujung Jawa Dwipa itu.

“Dulu pas aku keterima di ANRI, (calon) arsiparis dari Ilmu Sejarah cuma aku satu-satunya dari satu angkatan, sekaligus juga orang pertama dari UNAIR. Jadi banyak yang penasaran, kok bisa ini jauh banget masuk ANRI karena biasanya mentok dari (lulusan) Jawa Tengah-Yogyakarta. Jadinya waktu di ANRI orang-orang pada tahu kalau UNAIR juga ada jurusan sejarah dan bagus,” ujarnya sembari bernostalgia.

Ingin Aplikasikan Ilmu

Ghesa bercerita, sebelumnya profesi arsiparis tidak ada dalam benaknya. Yang ia harap saat itu hanyalah ingin mendapatkan pekerjaan yang selaras dengan ilmu yang ia dapat, di mana ia bisa berkontribusi dan mengaplikasikan ilmu sejarah yang ia pelajari selama duduk di bangku perkuliahan.

“Memang ada keinginan supaya aku bisa mengimplementasikan ilmu saat kuliah. Waktu itu aku enggak mencari tahu apa itu arsiparis, hanya menyiapkan seleksinya saja. Justru baru tahu seluk-beluk profesi itu setelah di ANRI,” terangnya.

Untuk menjadi arsiparis, Ghesa baru menyadari bahwa ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, dengan proses yang membutuhkan waktu cukup lama. Diklat, ujian kompetensi, satu per satu harus dijalani untuk bisa resmi menjadi seorang arsiparis. Kendati tak mudah dan tak sebentar, tetapi ia merasa puas lantaran profesi itu ternyata sangat relevan dengan pendidikannya selama di UNAIR. 

“Ternyata arsiparis itu relevan banget sama yang dulu dipelajari saat kuliah. Kebetulan aku ditempatkan pada bagian yang mengelola arsip statis, jadi banyak ilmu yang dipakai, termasuk mengelola arsip dan membuat publikasi dari arsip,” tuturnya.

Terus Kembangkan Diri

Selama menjadi arsiparis, Ghesa juga terus mengembangkan diri dengan belajar banyak hal baru. Misalnya, ia mendapat kesempatan kursus belajar paleografi, yaitu ilmu yang mempelajari perkembangan tulisan-tulisan kuno. “Kursus itu menjadi salah satu yang bermanfaat banget, ya. Apalagi kalau mempelajari arsip abad 18, 19 yang masih pakai tulisan tangan, jadi aku bisa bacanya dan semakin bisa berkontribusi lebih banyak untuk kegiatan-kegiatan di ANRI,” katanya.

Tidak hanya itu, Ghesa juga berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Gadjah Mada, dengan bidang yang sama. Selesai menamatkan studinya, Ghesa mendapatkan kepercayaan untuk mengemban kegiatan-kegiatan publikasi kearsipan seperti pameran arsip hingga penerbitan naskah sumber arsip. “Sebetulnya itu jadi sesuatu yang cukup menantang, ya, karena bisa dibilang ini adalah hal baru buatku yang tidak terbiasa berinteraksi dengan orang. Tapi karena telah diberi kepercayaan, jadi dicoba saja dan Alhamdulillah-nya bisa,” imbuhnya.

Pesan dan Harapan

Tidak berlebihan rasanya jika kita menyebut Ghesa sebagai salah satu alumni penting yang memiliki banyak kontribusi. Selain karena ia menjadi lulusan pertama yang berhasil menembus seleksi CPNS di ANRI, ia juga aktif menjalin komunikasi dengan almamaternya guna membuka peluang untuk berkolaborasi, misalnya dalam hal pencarian arsip hingga informasi lainnya seperti kesempatan magang bagi mahasiswa.

Dalam pesan-pesannya, Ghesa berharap agar para lulusan Ilmu Sejarah UNAIR juga bisa bersaing dengan lulusan-lulusan dari perguruan tinggi lain. Menurutnya, peluang dan kesempatan berkarir bagi lulusan Ilmu Sejarah kini semakin luas. Selain menjadi seorang arsiparis seperti dirinya, profesi lain seperti akademisi, influencer, content creator, hingga wirausaha juga bisa menjadi pilihan. 

“Sekarang aku lihat banyak di media sosial, konten-konten kesejarahan juga potensial dan banyak digemari. Jadi, teman-teman harus lebih optimistis. Informasi dan jejaring alumni bisa jadi sarana untuk meningkatkan karir teman-teman,” pungkasnya.

Riwayat Pekerjaan

  • Analis Kearsipan

    Arsip Nasional Republik Indonesia

    2015 - 2018

  • Arsiparis

    Arsip Nasional Republik Indonesia

    2018 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Ilmu Sejarah

    Universitas Airlangga

    2008 - 2012

  • S2 Universitas Gadjah Mada

    2020 - 2023

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga