Ahmad Musyaddad

Alumnus Penghafal al Quran yang Kini Jadi Imam Masjid di UEA

“Berani bermimpi, teguh menghadapi dan menyelesaikan semua tantangan, berani mengambil risiko, ambil setiap kesempatan yang datang”

Ahmad Musyaddad adalah alumnus Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2019. Ia kini tengah menjalani profesi sebagai imam masjid di salah satu masjid ternama Uni Emirat Arab (UEA), Masjid Abdullah Sulthan As-Syarhan, Ras Al-khaimah.

Syaddad, panggilan akrabnya, besar dalam lingkungan pondok pesantren. Momen peralihan dari santri menjadi mahasiswa menjadi proses yang tidak mudah bagi Syaddad. Tahun 2019, ia resmi menjadi mahasiswa UNAIR lewat jalur undangan. Ia mengaku, saat itu juga, dirinya merasa terkendala proses adaptasi lingkungan kampus yang benar-benar berbeda.

“Kendala utama adalah adaptasi dengan lingkungan kampus, dari yang sebelumnya di pondok pesantren. Kemudian mengatur waktu dan menjaga hafalan Al-Quran agar tetap bisa seimbang dengan tugas kuliah,” ungkap Syaddad.

Berpegang Teguh pada Nilai Pesantren

Memasuki dunia perkuliahan, Syaddad tidak ingin meninggalkan nilai-nilai yang telah ia pelajari selama di pondok. Oleh karena itu, ia mengikuti kegiatan dan organisasi di bidang keagamaan, misalnya UKM-TQ. “Maka dari itu saya memutuskan untuk bergabung dengan UKM Tahfidzul Quran UNAIR sebagai organisasi pertama dan satu-satunya yang saya ikuti di kampus. Keputusan ini sangat menunjang target saya sebagai mahasiswa untuk tetap mendalami Al-Quran sambil kuliah di UNAIR,” tuturnya.

Tidak hanya itu, dengan membagi waktu belajar di kelas juga aktif berkegiatan bersama UKM-TQ, Syaddad berhasil memaksimalkan diri secara seimbang. Baik akademis, maupun non-akademis. Kepiawaian dalam menyeimbangkan diri itulah yang juga membantu Syaddad mewujudkan mimpinya sebagai imam masjid di luar negeri.

“Alhamdulillah Allah memberikan jalan yang sempurna dengan memudahkan saya mewujudkan cita-cita saya untuk mengamalkan ilmu yang saya dapatkan sampai ke luar negeri. Tentunya semua ini linier dengan kegiatan yang saya geluti di kampus terutama bersama teman-teman sesama penghafal Al-Quran di UKM-TQ UNAIR ,” ujarnya.

Mimpi Jadi Nyata

Sejak dulu, pemuda kelahiran Gresik ini telah memiliki keinginan untuk belajar sekaligus mengamalkan ilmunya hingga ke luar negeri. Keinginan itu semakin besar setelah ia mengetahui tidak sedikit alumnus UNAIR yang bisa berkiprah di luar negeri. Selain itu, ia juga mengidolakan para imam besar di Masjid Makkah dan Madinah. Sehingga, ia terpantik untuk mengikuti jejak mereka dengan memanfaatkan ilmu yang ia miliki.

Gayung bersambut, mimpi Syaddad untuk berkiprah di luar negeri khususnya menjadi imam masjid menemui titik cerah. Pada Mei 2023, beriringan dengan proses pengerjaan skripsi, salah seorang temannya mengajak dirinya untuk mengikuti seleksi perekrutan imam masjid UEA yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Awalnya, Syaddad hanya ingin mencoba untuk mencari pengalaman, mengingat saat itu ia masih memegang status sebagai mahasiswa tingkat akhir. Namun ternyata, berbekal bakat, pengalaman, dan kemampuan yang dimiliki, Syaddad berhasil terpilih sebagai imam dan diberangkatkan langsung ke UEA tepat setelah ia lulus.

“Dari 500-an peserta dari seluruh indonesia, saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan interview dengan peserta yang semakin mengerucut menjadi 115 peserta. Dan alhamdulillah dari sekian peserta saya terpilih menjadi salah satu dari 40-an peserta yang diberangkatkan ke UEA untuk menjadi imam. Tepat setelah saya lulus tahun 2023, saya berangkat untuk menjalankan tugas,” terangnya.

Menjalani karir di negara lain tentu tidak mudah. Syaddad mengaku sempat kesulitan beradaptasi dengan budaya dan lingkungan yang berbeda selama beberapa bulan awal. Namun, kesulitan adaptasi itu bisa segera ia tepis. Kini, dirinya telah mantap dalam menikmati profesinya sebagai imam masjid di UEA.

Syaddad tidak ingin menjadi satu-satunya alumnus UNAIR yang berkiprah di luar negeri sebagai imam masjid penyiar agama Islam. Oleh karena itu, ia berharap agar UNAIR terus memfasilitasi mahasiswa yang tertarik dengan ilmu keagamaan untuk terus mengembangkan minat dan bakatnya. Dengan demikian, akan lahir sosok Syaddad yang lainnya di masa depan. Hal ini juga sejalan dengan motto UNAIR, excellence with morality. 

“Semoga perhatian terhadap mahasiswa penghafal Al-Quran tetap atau bahkan lebih baik dengan pendampingan dan dukungan bagi mereka yang memiliki prestasi di bidang Al-Quran. Karena saya yakin mahasiswa penghafal Al-Quran punya hal spesial dan istimewa yang tidak semua orang miliki,” tutupnya.

Riwayat Pekerjaan

  • Imam Masjid di UEA

    Masjid Abdullah Sulthan As-Syarhan Uni Emirat Arab

    2023 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Bahasa dan Sastra Inggris

    Universitas Airlangga

    2019 - 2023

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga