Sejak Mahasiswa Menggemari Penelitian Bidang Kebudayaan
Irsyad Zamjani, Ph.D, lahir di Gresik pada 30 Agustus 1980. Dia merupakan Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) Republik Indonesia. Alumnus Fakultas Sastra (Ilmu Budaya, red) Universitas Airlangga (UNAIR) tahun 2005 tersebut, sejak SMA, menyukai mata pelajaran sejarah karena ia menganggap nilai sejarahnya adalah yang terbaik.
Selepas SMA, Irsyad melanjutkan kuliahnya di program studi Ilmu Sejarah UNAIR tahun 1999 dan menamatkannya pada tahun 2005. Meski berkuliah selama enam tahun, Irsyad sangat aktif berkegiatan di dalam dan luar kampus.
Di Fakultas Sastra, tempat ia menimba ilmu, Irsyad pernah menjadi wakil ketua Himpunan Mahasiswa (HMD) Ilmu Sejarah. Dan diluar kampus, Ia pernah menjadi peneliti di Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (eLSAD), Surabaya. Lembaga ini dikelola oleh mahasiswa dan alumni UNAIR, dengan beberapa mentor berkompeten, salah satunya Prof. Soetandyo Wignyosubroto dan Dr. Dede Oetomo.
“Di lembaga tersebut saya menulis dan mengelola sebuah jurnal pemikiran. Selain itu, saya juga terlibat dalam berbagai forum diskusi dan pelatihan yang diorganisir oleh LSM tersebut di berbagai daerah di Jawa Timur,” ungkapnya.
Capaian Terbesar Selama Kuliah
Irsyad menuturkan, capaian terbesar selama kuliah, adalah ketika telah menyelesaikan skripsi, dan berhasil mengundang seorang profesor dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), sebagai salah satu penguji. Skripsi tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul “Sekularisasi Setengah Hati: Politik Islam Indonesia Dalam Periode Formatif”.
Buku itu mengungkap sekularisasi yang dilakukan oleh partai politik islam jauh sebelum Nurcholish Madjid (Cak Nur) mengungkap konsep sekularisasi. Ia juga menggunakan konsep Cak Nur sebagai landasan untuk menganalisa kelompok islam di Indonesia. Yang dalam penulisannya, ia menggunakan penelusuran titik pangkal sekularisasi dari sudut pandang historis.
Setelah Lulus dari UNAIR
Selepas lulus dari Ilmu Sejarah UNAIR, Irsyad melanjutkan kuliah Magister Sosiologi di Universitas Indonesia (UI) sambil bekerja paruh waktu sebagai peneliti di beberapa lembaga di Jakarta. Setelah lulus S2, Irsyad diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud pada akhir tahun 2009.
Pada 2012 Irsyad memperoleh beasiswa untuk melanjutkan Doktoral Sosiologi di Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Setelah lulus, Irsyad kembali ke Jakarta akhir tahun 2016, Dan pada bulan Mei 2019, Irsyad memperoleh promosi menduduki jabatan sebagai Kepala Bidang Penelitian Kebudayaan, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia.
“Selepas lulus saya bekerja di sebuah lembaga penelitian pelat merah di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tugas saya adalah mengkoordinasikan kegiatan penelitian kebijakan di bidang kebudayaan,” jelasnya.
Memilih Karir Sebagai Peneliti Budaya
Sejak menjadi mahasiswa, Irsyad memang menyukai pekerjaan yang terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang kebudayaan. Baginya, hal itu menjadikannya bisa berkarir di Kemendikbud, yang merupakan garis tangan Tuhan daripada pilihan karir pribadinya.
Sebelum bekerja di Kemendikbud, Irsyad pernah bekerja di tempat lain dengan penghasilan yang lebih baik. Namun, karena ajakan teman yang tidak pernah terduga, Irsyad ikut berbagai tahapan seleksi CPNS dan pada ujungnya diterima bekerja di lembaga pemerintah.
Bagi Irsyad, beberapa pelajaran berharga selama berkarir adalah pentingnya bisa berempati, kritis dengan disertai solusi, dan bisa berkolaborasi dalam tim karena merupakan gaya bekerja di abad 21.
Dan yang terakhir, sebagai peneliti kebudayaan, Irsyad berpesan bahwa aset terbesar semua bangsa bukan sumber daya alam, namun sumber daya manusia. Lebih spesifik dia menyebut, aset paling berharga dari manusia adalah pikiran. Karena dari pikiran, lahir inovasi dan peradaban.
“Tantangan pendidikan di Indonesia ke depan adalah mengembangkan manusia bukan sebagai sumber daya ekonomi, namun sebagai individu-individu yang unik, inovatif, dan berbudaya,” pungkas Alumnus Sejarah tersebut.