Bangun Kapasitas dengan Interaksi dan Adaptasi Perubahan Lanskap Bisnis Digital
Universitas Airlangga (Unair) khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), patut bangga berhasil melahirkan alumnus-alumnus yang sangat berprestasi. Salah satunya adalah Didik Prasetiyono SE. Arek Suroboyo asli ini, merupakan lulusan Manajemen FEB Unair Angkatan 1993.
Didik menjalani masa perkuliahan di tengah politik Indonesia yang sedang bergejolak. Namun hal itu justru mematangkan pengalaman Didik dalam berorganisasi. Sederet jabatan pernah diemban selama berstatus aktivis mahasiswa.
Saat duduk di bangku kuliah, Didik sempat mengemban amanah sebagai salah satu ketua komisi di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan anggota Senat Mahasiswa tingkat fakultas. Pengalaman berorganisasi Didik semakin matang karena juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang salah satu organisasi gerakan mahasiswa nasional.
“Hal paling menarik di masa kuliah adalah, saya berada di era pergerakan, menjadi mahasiswa era tahun 1996 sungguh beruntung, dimana interaksi pergerakan mahasiswa sedang hangat-hangatnya. Dimana mahasiswa mulai banyak melakukan konsolidasi gerakan. Seperti melakukan kajian dan kelompok studi, rapat aksi, hingga pada puncaknya adalah aksi reformasi di tahun 1998,” kenang Didik.
Bangun Kapasitas dengan Interaksi
Selama kuliah dan memulai karir, hal pertama yang dilakukan Didik adalah memastikan jika ilmu yang didapat dari kampus harus didukung oleh soft skill dan social skill yang baik. Menurutnya, membangun networking melalui berbagai event dan pengalaman adalah hal penting. Karenanya, Didik tidak membiarkan berbagai kesempatan besar yang datang ke dalam hidupnya berlalu begitu saja.
Contohnya ketika memulai karir sebagai komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur pada 2003-2008. Didik mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Indonesia dalam rapat-rapat perwakilan KPU se-dunia untuk persiapan pemilihan umum untuk Iraq yang diadakan Election Canada, IFES dan UNDP. Rapat tersebut berlangsung di Canada, pada 2004.
Pada 2006, Didik juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kursus penyelenggaraan pemilu oleh Australia Electoral Commission (AEC), yang diselenggarkan di Melbourne dan Canberra, Australia.
Tak cukup hanya disitu, pria yang akrab dipanggil Didonk ini mendapat kesempatan berharga untuk menimba ilmu dan menguatkan jaringan. Pada 2007, Didik menjadi salah satu pemantau pemilu internasional pada pemilu Presiden Prancis putaran pertama, yang diselenggarakan French Ministry of France di Paris dan Versaillers, Prancis.
Di tahun 2008, Didik berkesempatan menjadi peserta program International Visitor Leadership Program (IVLP) pada kegiatan Pemilu Presiden Amerika Serikat.
“Mengikuti program IVLP di John F. Kennedy School of Government Harvard University menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan. Saat itu program IVLP menjadi election international observer di Pemilu Amerika Serikat. Menyaksikan langsung dari jarak dekat Presiden Obama berkampanye di Denver, sungguh pengalaman luar biasa. Interaksi dengan berbagai delegasi perwakilan 80 negara, memperluas wawasan karena beragamnya cara pandang dalam melihat persoalan,” terang peselam scuba bersertifikat PADI ini.
Pengalaman di kancah Internasional tersebut tidak berhenti. Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 2016, Didik kembali terpilih menjadi delegasi Indonesia pada ASEAN Next Generation Leaders, yang diselenggarakan Kedutaan Besar Korea Selatan dan Korea Foundation.
Dan juga, pada 2017 Didik menjadi delegasi Indonesia yang dipimpin Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Yaitu pada World Materials Forum yang diselenggarakan WMF Steering Committee di Nancy, Prancis.
Adaptasi Perubahan Lanskap Bisnis Digital
Bergabung di perusahaan pengelola kawasan industri PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) mulai 2016, pada September 2022, Didik mendapatkan amanah menduduki jabatan Direktur Utama SIER. Berhasil membawa kawasan industri SIER di PIER Pasuruan menjadi salah satu tempat site visit Delegasi Business 20 dalam rangkaian sherpa track G20 menjadi agenda perdana yang Didik capai.
Target Didik kemudian adalah semakin membawa SIER untuk menjadi pilihan investor internasional dalam meletakkan investasinya, membangun pabrik, yang akan menyerap tenaga kerja dan menumbuhkan ekonomi. Kemampuan adaptasi perusahaan akan hal ini sangatlah penting, mengingat perkembangan dunia teknologi digital yang cepat, perusahaan harus lincah dan dinamis untuk merespon permintaan pasar dengan cepat pula.
"Dunia digital berkembang begitu cepat. Sehingga menjadi keharusan bagi perusahaan untuk mengambil peran proaktif dalam pengelolaan transformasi digital. Globalisasi mengubah ekosistem bisnis, menambah lapisan baru kompleksitas peraturan. Kami di SIER sadar harus ada langkah-langkah strategis digitalisasi yang segera harus diambil agar investor semakin tertarik dan sustainability perusahaan bisa terjaga," kata Didik.
Menurut Didik, transformasi digital memungkinkan untuk bekerja lebih efisien, dengan proses yang lebih efisien dan data yang relevan, memungkinkan pengambilan keputusan lebih cepat dan memanfaatkan peluang baru dengan bantuan teknologi yang memadai.
"Era digital telah merevolusi tugas-tugas administrasi yang akan memakan waktu, berhari-hari atau berminggu-minggu yang kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Oleh karena itu, SIER merasa perlu untuk semakin memperkuat digitalisasi agar meningkatkan pengendalian dan kinerja perusahaan," jelas Didik
Pesan untuk Mahasiswa
Sebagai mahasiswa, menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban. Ilmu tersebut wajib dikuasai karena merupakan hard skill penting, tetapi mahasiswa juga meningkatkan kualitas dengan harus mengasah soft skill.
Karenanya, Didik berpesan, agar para mahasiswa memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin untuk mengasah pengalaman. Baik kesempatan untuk berorganisasi, magang di berbagai instansi, pertukaran pelajar, maupun kesempatan-kesempatan baik lainnya.
“Kemudian, kemudahan teknologi komunikasi dan mendapatkan informasi saat ini sebaiknya dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh mahasiswa, agar dapat memperdalam keilmuannya, dulu saat generasi saya kuliah, cari buku, jurnal minta ampun susahnya, mahasiswa era sekarang sangat beruntung” ungkapnya.
Didik juga mengapresiasi Unair yang terus bergerak maju, menjadi semakin baik hingga mencapai target untuk menjadi universitas Top 300 dunia. Didik berharap, Unair dapat terus menjadi lebih baik dan menjadi api obor penerang bagi seluruh masyarakat Indonesia khususnya terkait pola pengembangan pendidikan yang baik. (*)