Sehari Cabut 70 Gigi, Syok Temukan 10 Siswi Hamil
Menjadi dokter di kawasan kepulauan tidaklah mudah. Tetapi, kecintaannya kepada sesama mengantarkan Drg. Zahrotur Riyad istikamah pada profesinya. Dia menjadi dokter gigi di Puskesmas Galang, Pulau Galang, Kota Batam.
Berkat dedikasinya, Drg. Zahrotur menuai banyak prestasi. Pertama, dia menjadi dokter teladan tingkat Provinsi Kepulauan Riau. Kedua, dokter teladan tingkat nasional tahun 2016.
Zahro, panggilan akrab Drg. Zahrotur Riyad, mengawali karir sebagai dokter gigi dengan menjalani masa pengabdian tidak tetap (PTT) pada 2006 di Puskesmas Belakangpadang, Kota Batam. Setahun berselang, Zahro ditugaskan menjadi dokter gigi di Puskesmas Tanjung Sengkuang selama dua tahun.
Tak butuh waktu lama, Zahro kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil pada tahun 2010. Dia ditugaskan di Puskesmas Galang, Pulau Galang, sebuah puskesmas yang memiliki wilayah kerja 140 pulau. Jumlah pulau yang berpenghuni mencapai 40 pulau.
Berbekal keinginan memberikan yang terbaik kepada masyarakat, Zahro menjalani tugasnya dengan tulus. Misalnya, dua kali seminggu, bersama rekan-rekannya yang tergabung pada Puskesmas Galang, dia mengunjungi penduduk-penduduk yang bermukim di pulau-pulau itu.
Maklum saja, sarana transportasi yang terbilang mahal membuat masyarakat pulau, atau biasa dikenal dengan masyarakat hinterland, jarang memeriksakan kesehatan.
"Pulau itu, meski termasuk dalam kawasan kerja Puskesmas Galang, lokasinya terbilang jauh. Menuju ke pulau itu memerlukan waktu dua jam menggunakan perahu pancung," urainya.
Minimnya transportasi membuat masyarakat pulau terisolasi. Keluar dari pulau, Zahro menyebut hanya dua jalan, menumpang perahu pancung yang hilir-mudik ke pulau-pulau atau menyewa. "Untuk menyewa perahu pancung, harus siap dana Rp 1,5 juta," ceritanya.
Ada pengalaman mendebarkan yang pernah dialami Zahro. Ketika dia melakukan kunjungan, tiba-tiba mesin perahu mati. Perahu terombang-ambing di tengah laut. Padahal, ombak tengah tinggi-tingginya. "Untung saja kerusakan itu bisa diperbaiki dan kami melanjutkan perjalanan kembali," kenang Zahro.
Karena itu, saat tim dari Puskesmas Galang berkunjung, warga memanfaatkannya. "Bahkan pernah saya sampai mencabut gigi 70 pasien dalam satu hari kunjungan," katanya.
Di sisi lain, minimnya ketersediaan sarana berobat tak jarang membuat Zahro dan tim Puskesmas Pulau Galang harus memberikan layanan kesehatan di mana saja. Baginya yang terpenting adalah memberikan kesehatan gigi dan mulut untuk masyarakat di pulau-pulau tertinggal itu. Mulai di bawah pohon, warung, saung, hingga emperan rumah pun tak jarang menjadi lokasi pemberian layanan kesehatan.
Selain sebagai dokter gigi di Puskesmas Pulau Galang, Zahro menjadi staf ahli Pusat Informasi dan Kegiatan Kesehatan Reproduksi (PIKKR) sejak 2010. Sebagai konselor, dia memberikan penyuluhan tentang pencegahan narkoba dan kesehatan reproduksi remaja.
Suatu ketika, timnya diundang untuk memeriksa kesehatan reproduksi wanita di sekolah menengah atas di Pulau Galang. "Usai pemeriksaan saya tak percaya dengan hasilnya. Sungguh di luar dugaan saya," ungkap Zahro.
Dia mendapati 10 siswi yang hamil dengan usia kehamilan 2–5 bulan. Karena syok, dia mencoba berkomunikasi untuk mengetahui penyebabnya.
Jawaban yang diberikan siswi-siswi tersebut makin membuatnya terpukul. "Mereka tidak melakukannya dengan teman sebaya. Banyak juga yang menjawab karena diberi ponsel atau uang," terang Zahro.
Ternyata, seks bebas bagi warga pulau bukanlah hal tabu. Banyak yang melakukannya di usia muda. Seks bebas tak ubahnya narkoba.
Dia pernah menemukan seorang siswi sekolah menengah yang rela berhubungan seks dengan pria berusia lebih dari 60 tahun hanya karena diiming-imingi ponsel baru.
Karena itu, dia memanfaatkan pengalaman saat bergabung dalam lembaga motivasi Ulul Albab, yang didirikan bersama rekan-rekannya saat di Unair.
Hasil telaahnya semakin menyadari bahwa kompleksitas permasalahan remaja di kawasan pulau tidak semudah yang dibayangkannya.
Staf Ahli PLKKR
Selain mendapat penghargaan sebagai dokter teladan tingkat provinsi dan nasional 2016, Zahro juga meraih penghargaan dari Tupperware lewat program She Can! Award tahun 2015.
Zahro juga mendapat penghargaan Ibu Berprestasi 2015 kategori kesehatan dari HIPMI Peduli Kepri. Penghargaan lain adalah Perempuan Inspiratif Nova 2014 kategori kesehatan, Ikon Gerakan Revolusi Mental Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2016 bidang etos kerja, dan nominator UNESCO Prize for Girls’ and Women’s Education 2016.
Kini, kerja keras Zahro tak lagi sia-sia.
Keberhasilan itu, menurut Zahro, menjadi tanggung jawab besar baginya dan rekan-rekan.
"Apalagi data yang saya sebutkan tadi hanya untuk Pulau Galang dan sekitarnya. Belum Kota Batam secara keseluruhan," ungkapnya. (*)