Niat Tulus dan Usaha Maksimal
Hidup adalah tentang sebuah perjuangan. Menjalani hidup dengan maksimal dan pantang menyerah merupakan sebuah keharusan bagi seseorang yang ingin berhasil. Namun, terkadang meskipun sudah berusaha maksimal, seringkali terjadi insiden yang namanya kegagalan. Meskipun begitu, gagal bukanlah akhir dari segalanya, orang yang hebat bukanlah orang yang tidak pernah gagal, tetapi tentang bagaimana menyikapi kegagalannya tersebut.
Meskipun sulit, namun ada juga orang yang tetap berjuang meskipun sudah gagal berkali-kali. Ia adalah drg. Ita Lestari, seorang alumni FKG UNAIR yang juga merupakan Founder FDC Dental Clinic dengan 22 Cabang di Indonesia. Menjadi seorang pemilik dari clinic sebesar itu terdengar menyenangkan, tetapi sejatinya sebelum mencapai hal tersebut, banyak batu terjal yang harus dihadapi drg. Ita.
Bukan Pilihan Pertama
drg. Ita mengatakan, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR bukanlah pilihan pertamanya saat memutuskan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Hal itu dikarenakan, lanjutnya, pada waktu itu, dokter gigi bukan merupakan profesi yang terkenal di wilayahnya. Sehingga, orang tua Ita kurang setuju ia melanjutkan studi pada FKG UNAIR.
“Orang tua saya tidak terlalu suka saya kuliah di FKG UNAIR, hal itu membuat saya harus membagi waktu untuk kuliah sembari bimbingan belajar untuk tahun depan. Padatnya jadwal, membuat saya waktu itu menjadi lebih fokus pada bimbel daripada perkuliahan,” tutur Ita.
Setelah menjalani perkuliahan selama satu tahun di FKG UNAIR, Ita hanya mendapatkan nilai pas-pasan karena fokusnya terpecah dengan bimbel. Ditambah lagi, ternyata pada tahun kedua ia gagal lagi untuk masuk FK UNAIR
“Tahun pertama. saya coba FK gagal, tahun kedua alhamdulillah gagal lagi, akhirnya saya mencoba lagi pada tahun ketiga dan ternyata gagal lagi. Namun, pada tahun ketiga, saya menyadari, harus membagi waktu dengan baik antara kuliah dan bimbel. Karena, jika tidak fokus, saya tidak akan bisa lulus tepat waktu,” terang Ita.
drg. Ita mengatakan, pada tahun ketiga tersebut ia mulai fokus pada kegiatan perkuliahan. Ia melaksanakan tugas dengan baik, memperhatikan kelas dengan serius. Selain itu, pada tahun ketiga tersebut ia juga melakukan “bisnis fotocopy”. Ia menjelaskan, bahwa pada saat itu tempat fotocopy hanya ada satu di dalam kampus sehingga membuat para mahasiswa menunggu lama untuk antri, padahal masih banyaknya beban tugas yang ada.
Setelah menjalani perkuliahan ditambah bisnis fotocopy dengan penuh komitmen dan semangat, Ita lulus dari FKG UNAIR dengan tepat waktu. Meskipun berat, Ita mengatakan hal tersebut bisa ia capai karena Ita menyandarkan dirinya kepada Allah.
“Perjuangan untuk lulus dari FKG UNAIR ini bukanlah hal yang mudah, mulai dari awal kuliah yang salah jurusan hingga lulus tepat waktu. Jika tidak menyandarkan diri kepada Allah, hal tersebut tidak akan bisa terjadi,” tutur Ita.
Proses Pasca S1 hingga Berdiri FDC Dental Clinic
Setelah lulus dari FKG UNAIR, Ita memutuskan untuk bekerja di Jakarta sebagai dokter gigi di salah satu klinik kecil. Sembari bekerja, ia juga berkuliah S2 pada prodi Magister Administrasi Rumah Sakit di UI. Ita mengatakan, pada waktu itu ia melihat klinik tempatnya bekerja masih minim kualitas sehingga Ita hanya memanfaatkan fasilitas seadanya.
“Saya sempat diomelin oleh teman saya, karena memilih bekerja di klinik dengan gaji 500 ribu sebulan. Padahal, saya sebenarnya sudah bisa menghasilkan lima juta sebulan dari bisnis fotocopy,” tutur Ita.
Namun, Ita menjelaskan, saya memiliki niat yang baik untuk membantu para pasien yang ada. Karena, lanjutnya, niat baik pasti akan dibalas oleh Allah. Setelah berbulan-bulan, klinik tempat Ita bekerja tak kunjung ramai. Hal itu, membuat Ita yang awalnya digaji 500 ribu, turun menjadi 300 ribu.
Hingga, ada suatu kejadian yang merubah hidupnya. Ita menceritakan, pada tengah malam, anaknya sedang sakit. Hal itu, lanjut Ita, membuatnya untuk mencari apotek yang masih buka.
“Waktu itu, ketika anak saya tengah malam sedang sakit, naluri seorang ibu tidak bisa membiarkan begitu saja. Akhirnya, saya menemui sebuah apotek namun hampir tutup. Saya mendesak penjaga apotek untuk meracikan obat anak saya. Tapi, ia menampakkan wajah yang tidak mengenakkan ketika meracik obat tersebut,” tutut Ita.
Hal itu, membuat Ita berkeinginan membuat sebuah apotek, karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat. Setelah itu, ia langsung ke Dinas Kesehatan untuk menanyakan syarat untuk mendirikan sebuah apotek. Ita mengatakan, ternyata syarat untuk mendirikan apotik amatlah banyak dan memerlukan biaya yang mahal.
“Saya setelah mengetahui bahwa mendirikan apotek nampaknya belum merupakan kemampuan saya pada waktu itu. Akhirnya saya mendirikan sebuah warung obat, dengan menjual obat-obatan umum sehari-hari seperti oskadon, mixagrip dll,” tutur Ita.
Ketika menjumpai orang-orang yang membeli obat, Ita menyadari bahwa pasien membutuhkan tidak sekadar obat, namun juga tempat bercerita. Hal itu, membuat Ita mendirikan sebuah klinik bidan.
“Saya hanya mampu membayar bidan dari pagi sampai sore, padahal banyak pasien yang datang ketika malam hari. Hal itu membuat saya menjadi ojek untuk menjemput para bidan ketika malam hari,” papar Ita.
Selang beberapa lama, bidan yang bekerja sama dengan Ita mendirikan klinik sendiri. Hal tersebut, membuat klinik bidan yang didirikan oleh Ita tutup dan akhirnya membuka Ita mendirikan klinik giginya untuk pertama kali.
Meskipun banyak tantangan dan batu terjal yang menanti, namun ketekunan, keramahan, dan disiplin drg. Ita membuat klinik yang dibangunya berkembang pesat. Saat ini, klinik FDC Dental Clinic tersebut telah memiliki 22 cabang di seluruh Indonesia.
Niat Baik akan Dibalas
Terakhir, Ita berpesan, jangan pernah ragu untuk memulai ketika niat yang dimiliki adalah untuk kebaikan. Karena, lanjutnya, setiap langkah dengan niat baik yang ada pada diri kita akan dibalas oleh Allah SWT.
“Saya yakin adik-adik sekalian, niat baik pasti akan dibalas oleh Allah. Jangan ragu untuk memulai, maksimalkan setiap peluang, dan jangan lupa untuk menyandarkan segala urusan kepada Allah,” pungkas Ita.