Fida Nuraida

Latar Belakang Dokter Gigi Tak Batasi Fida dalam Menjalani Profesi 

Sebagai seorang aparatur sipil negara, Fida Nuraida, dituntut untuk selalu siap dalam mengabdikan diri pada berbagai sektor pemerintahan. Sejumlah profesi terutama yang berkaitan langsung dengan birokrasi maupun kesehatan pernah dilakoninya. Setelah menyelesaikan pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga tiga dekade silam, wanita yang akrab disapa Fida ini ditempatkan di Kabupaten Lamongan. 

“Setelah lulus pada tahun 1989, saya ditugaskan sebagai dokter gigi di Puskesmas Turi. Bahkan, pernah menjadi pimpinan di sana sejak tahun 2000 hingga 2002. Itu merupakan kali pertama bagi dokter gigi dalam memimpin puskesmas di daerah tersebut karena biasanya dijabat oleh dokter umum. Jadi, saya semacam trial and error. Saya juga awalnya heran mengapa kepala bidang beserta staf puskesmas mengajukan nama saya,” ceritanya. 

Menjadi orang nomor satu di Puskesmas Turi membuat ibu dua anak ini merasa perlu untuk memperkaya pengalaman sekaligus wawasan di luar ilmu kesehatan gigi. Fida memberi contoh, kala itu terdapat kerja sama antara lembaga kesehatan Belanda dengan Puskesmas Turi pada bidang penyakit kusta. Alhasil, dirinya pun harus ikut terlibat dalam seluruh pelatihan yang diselenggarakan, mulai upaya diagnosa hingga pengobatan kusta. 

“Tak hanya kerjasama dengan Belanda. Kebetulan, Puskesmas Turi terletak tidak jauh dari pusat kota. Sehingga kegiatan yang berkaitan dengan urusan kesehatan selalu diarahkan ke tempat saya. Baik kunjungan provinsi atau kerjasama lain dan selalu sukses. Mungkin, pihak kabupaten melihat sesuatu dalam diri saya sehingga kemudian dipilih sebagai kepala puskesmas. Akhirnya, saya ya jadi mengerti semua bidang kesehatan,” terang Fida. 

Langkah Fida tak berhenti sampai di sana. Istri Andi Kusmanadi itu lantas dipercaya untuk memimpin Puskesmas Glagah (2002-2005). Sembari berkecimpung di dunia kesehatan, ia memutuskan untuk mengambil jenjang Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) di UNAIR. Setelah mengantongi gelar S2, Fida lalu ditarik ke Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soegiri pada tahun 2005 dan sempat menjabat sebagai direktur (2010-2012). 

“Ketika masih memimpin puskesmas dan rumah sakit, pihak saya sering mengadakan kegiatan seperti bakti sosial, operasi katarak, dan lainnya. Jadwal saya pun semakin padat. Saat anak-anak masih kecil, saya sering membawa mereka bekerja. Apalagi saat bekerja di RSUD Dr. Soegiri, ponsel saya nggak berhenti berdering karena sibuk berhubungan dengan banyak pihak. Tantangan yang harus saya hadapi pun sangat banyak,” ungkapnya. 

Naik Perahu, Hadapi Komplain, hingga Antar Rumah Sakit Raih Akreditasi 

Selama menjalani profesi sebagai tenaga kesehatan, Fida banyak mengalami kejadian maupun pengalaman yang tidak terlupakan.Di antaranya, merasakan perjalanan dengan perahu serta berjalan kaki di jalan setapak becek ketika akan mengadakan kegiatan di Puskesmas Turi. Pengalaman lain yang ia rasakan adalah saat bertugas di RSUD Dr. Soegiri. Ketika itu, rumah sakit sedang dilanda banjir sehingga seluruh peralatan harus disiagakan. 

“Kita langsung menyedot air dengan pompa meskipun sudah malam. Lain waktu, saya juga pernah menghadapi komplain karena ambulan terbatas. Nah, hal seperti ini harus segera ditangani. Sebab, momentum itu sering digunakan oleh pihak ketiga untuk memperkeruh situasi. Tapi, saya bersyukur karena setiap saya melangkah atau mengambil kebijakan selalu mendapat dukungan penuh dari atasan. Jadi tidak masalah,” imbuh Fida. 

Pencapaian lainnya ialah keberhasilan Fida dalam mengantarkan puskesmas juga rumah sakit yang pernah dipimpinnya untuk meraih sertifikasi International Standardization for Organization (ISO), peningkatan kelas rumah sakit, perubahan status rumah sakit menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), dan akreditasi rumah sakit. Melalui ketiga hal tersebut pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit perlahan semakin membaik. 

Kini Berkarir Sebagai Auditor Kesehatan Sekaligus Kepala Dinas PPPA Lamongan 

Setelah lama bertugas sebagai tenaga kesehatan juga pemangku kebijakan di dinas kesehatan, Fida kemudian dipercaya sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Lamongan. Ia pun dituntut untuk kembali belajar mengenai bidang yang berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Selama dua tahun bertugas, di luar dugaannya, kerap terjadi perkara yang memerlukan penanganan serius. 

“Ternyata banyak kasus seperti penyimpangan seksual, pelecehan, pernikahan dini hingga kekerasan rumah tangga. Karena itu, kami banyak berhubungan dengan kepolisian, lembagahukum, psikolog, pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak (P2TP2A), serta lembaga masyarakat. Kami berupaya melakukan pemberdayaan serta mendampingi perempuan juga anak-anak yang sedang terbelit permasalahan,” jelas Fida. 

Meski telah beranjak ke bidang yang berbeda, namun Fida tetap tidak bisa berjauhan dengan dunia medis. Di samping menjabat posisi Kepala Dinas PPPA, ia juga menekuni profesi auditor kesehatan. Seringkali, Fida harus bepergian dari satu kota ke kota lain. Tujuannya adalah untuk memantau perkembangan dan meningkatkan pelayanan serta fasilitas kesehatan pada puskesmas maupun rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia. 

“Agar bisa sampai di posisi yang sekarang, saya memiliki motto, yakni do what you can do today. Saya kurang senang menunda pekerjaan karena besok pekerjaan lain pasti sudah menanti. Selain itu, jika sudah terjun di masyarakat harus kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Tidak hanya terkungkung pada pendidikan kita saja,” pungkasnya. 

Riwayat Pekerjaan

  • Kepala Dinas

    Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lamongan

    2017 - now

  • Kepala

    Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan

    2012 - 2017

  • Direktur

    RSUD Dr. Soegiri Lamongan

    2010 - 2012

  • Wakil Direktur Umum dan Keuangan

    RSUD Dr. Soegiri Lamongan

    2009 - 2010

Riwayat Pendidikan

  • S-2 Administrasi Dan Kebijakan Kesehatan, Minat Ilmu Manajemen Pelayanan Kesehatan

    Universitas Airlangga (2005)

    2005

  • S1-Kedokteran Gigi Bidang Ilmu Kesehatan

    Universitas Airlangga (1988) 5. Profesi Dokter Gigi Unair

    1989

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga