Any Kusuma Putri

Satu-satunya Orthodontis di Kota Bontang

“Yang utama adalah profesional dan jujur, insyaallah nanti masalah rezeki akan mengikuti,”

Any Kusuma Putri lahir di Surabaya, 26 Februari 1972. Ia adalah seorang dokter gigi yang saat ini berkarir di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Any mengenyam Pendidikan Dokter Gigi di Universitas Padjadjaran, Bandung dan lulus pada tahun 1998. Begitu lulus, ia menjadi Dokter Gigi PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Puskesmas Reco II di kota Wonosobo, Jawa Tengah. Setahun berselang, Any menikah. Ia lalu pindah ke Bontang mengikuti sang suami.

Di Bontang, Any bekerja sebagai dokter gigi di salah satu klinik dan rumah sakit setempat. Hingga pada tahun 2005, ia memutuskan untuk melanjutkan Program Spesialis Ortodonti di Universitas Airlangga. Singkat cerita, begitu menamatkan kuliahnya, Any kembali lagi ke Bontang dan mendirikan sebuah klinik yang ia beri nama Prima Medistika. Saat ini, ia juga menjadi satu-satunya Orthodontist di Kota Bontang.

Lulus Dengan IPK Nyaris Sempurna

Selama kuliah di Universitas Airlangga, Any berusaha fokus pada kegiatan akademik dan praktisi. Kegiatannya sebagai residen pun sudah padat. Hari Senin hingga Jumat dari jam 7.00 hingga jam 15.00 ia sibuk dengan berbagai jadwal koas. Malam hari di jadwal tertentu, Any harus praktik di RSIA Aisyiyah Surabaya dan Apotek K24 Jemursari. Belum lagi ketika dia harus membagi perhatian kepada para buah hatinya yang masing-masing mulai masuk TK dan PAUD. 

Di sela-sela malam, ketika anak-anaknya sudah tidur, Any menyempatkan untuk membaca jurnal-jurnal penelitian. Sabtu dan Minggu biasa ia manfaatkan untuk berlibur ke luar kota bersama teman maupun keluarga. Begitu rutinitas Any selama kuliah di Universitas Airlangga.

“Suasana kuliah sebagai mahasiswa spesialis berbeda dibandingkan ketika saya masih menjadi mahasiswa S1. Saat sudah spesialis, sesama mahasiswa kita sejawat, dianggap rekan. Alhamdulillah tidak ada kesulitan apapun dan pendidikan berjalan lancar,” ujarnya.

Saat kuliah di Universitas Airlangga, ada momen yang cukup menantang bagi Any. Salah satunya adalah ketika menjelang kelulusannya, ia diharuskan mengerjakan 10 kasus berbeda dan wajib sembuh dalam kurun waktu dua tahun. Jika tugas tersebut sudah dipenuhi, barulah mahasiswa dapat mengikuti ujian.

“Bisa dibayangkan, sebagai residen, itu belum lulus jadi spesialis. Dengan ilmu sebatas residen, kita sudah ditarget 10 orang pasien sudah harus sembuh dalam dua tahun. Sementara kasus pasien bervariasi, tapi kita dikasih kawat gigi standar. Kita benar-benar dipacu untuk kreatif. Belum lagi ada artikel jurnal yang harus dikerjakan,” kenangnya.

Saat itu, tugas tersebut terasa cukup berat bagi Any. Padahal menurutnya, mahasiswa di kampus lain sudah bisa ikut ujian meskipun pasiennya belum sembuh total. Namun, kini Any paham makna tersirat dibalik penugasan tersebut. Ketika sudah terjun di masyarakat, seorang dokter gigi tidak bisa memilih-milih pasien dan harus mau menerima serta menyelesaikan kasus apapun yang dia temui. 

“Kalau ada spesialis yang gampang lulus itu cukup disayangkan ya, padahal kasus di masyarakat itu jauh lebih susah dari waktu saya menjadi residen dulu. Ketika sudah jadi spesialis, saya baru paham. Ada kasus, tapi di buku tidak ada, di textbook juga tidak ada, tetapi kasusnya harus diselesaikan dengan peralatan yang ada. Itu menurut saya cukup menantang,” tekannya.

Singkat cerita, Any menyelesaikan studinya dalam empat tahun. Dia dinyatakan lulus pada yudisium tahun 2009 dan wisuda pada tahun 2010 dengan IPK nyaris sempurna, yakni 3,93.

Dirikan Klinik Umum di Kalimantan

Pada tahun 1998 setelah lulus Pendidikan Dokter Gigi dari Universitas Padjajaran, Any memutuskan pindah ke Bontang ikut sang suami yang bekerja di perusahaan tambang swasta milik asing. Suaminya bekerja sebagai Manager Head Administration. Saat itu Any masih menyelesaikan masa bakti sebagai Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas Tanjung Laut, Bontang selama kurang lebih 1,5 tahun.

Selesai masa bakti, Any membuka praktik mandiri di Klinik Yabis. Pasiennya juga lumayan banyak. Bahkan ada yang jauh-jauh dari Kota Samarinda yang jaraknya mencapai 100 kilometer. Hingga pada tahun 2005, Any terbang ke Surabaya untuk mengambil Program Spesialis Orthodonti di Universitas Airlangga. Mau tak mau, ia harus meninggalkan praktiknya sejenak.

Setelah lulus dari Universitas Airlangga pada 2010 dengan gelar barunya, dia sempat mendapatkan tawaran sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Samarinda, namun kondisi Any membuatnya merelakan tawaran tersebut. Any memilih pulang ke Bontang dan menghidupkan kembali praktiknya secara mandiri di Apotek Ainia Rasyifa. Awal praktek, sebagai dokter gigi spesialis ortodonti, dia merasa sangat tidak memungkinkan bila harus bersolo karir. Di samping itu, jumlah pasien di kliniknya juga terus bertambah. Akhirnya Any menambah personel dokter gigi untuk membantunya. Itu artinya saat ini ada seorang dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang praktik bersama di tempat Any.

Ditengah kesibukannya sebagai seorang istri, ibu, sekaligus dokter praktik di kliniknya, Any masih bekerja di RS Pupuk Kaltim sejak 2014. Dia juga sempat mengambil peran sebagai Dokter Gigi Spesialis Ortodonti di RSUD Taman Husada, Bontang pada 2016. Di rumah sakit, Any kerap menemui kasus-kasus yang tidak terduga, berbeda dengan kasus di klinik. “Sebagai tenaga medis di rumah sakit, saya merasa ada kasus-kasus tertentu yang menantang ilmu saya,” tuturnya.

Selama berkarir di rumah sakit, Any masih tetap mengurus aktivitas praktik di kliniknya. Hingga pada tahun 2020 awal, Pandemi Covid-19 muncul. Saat itu hampir seluruh pusat kesehatan di dunia mengalami kesulitan akibat tak siap menghadapi pandemi. Tak terkecuali klinik milik Any. Dia masih ingat betul bagaimana satu per satu fasilitas kesehatan mulai tutup, jika buka pun, aksesnya sangat terbatas. Tak terkecuali apotek. Masyarakat sangat sulit mendapatkan penanganan medis, hingga tak sedikit yang meninggal karena virus corona yang mewabah itu. Di tengah kekacauan tersebut, Any memutuskan untuk tetap konsisten membuka kliniknya. Alhasil kliniknya membludak.

Membuka praktik di tengah pandemi bukanlah hal yang mudah. Any kerap menghadapi kesulitan. Misalnya ketika kliniknya memerlukan stok obat-obatan dengan ramainya pasien yang terus berdatangan. Sementara saat itu mayoritas apotek di Bontang membuka pelayanan dengan waktu yang sangat terbatas. Akhirnya Any membuka apotek sendiri, dengan tujuan awal hanya menyediakan obat-obatan sekitar gigi dan mulut saja. Keberadaan apotek mengharuskan Any mempekerjakan apoteker. Atas saran apoteker klinik, akhirnya Any menambah pelayanan dokter umum. Keberadaan apotek dengan jam kerja yang panjang juga mengharuskannya mempekerjakan seorang asisten apoteker juga.

“Sempat juga ada dokter spesialis bedah mulut ingin bergabung juga dengan saya, tapi karena waktu itu klinik saya masih minimalis ya tempatnya, jadi belum bisa,” ujarnya.

Di tengah-tengah Pandemi Covid-19 pula, Any meresmikan nama kliniknya sebagai Klinik Utama Prima Medistika. Saat itu, dia berencana untuk memperluas gedung kliniknya. Begitu proses renovasi usai, Any memindahkan kliniknya ke gedung baru. Akhirnya semakin banyak dokter spesialis lain yang bergabung. 

Saat ini Klinik Prima Medistika telah membuka layanan mulai dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis anak, dokter gigi spesialis ortodonti dan dokter gigi spesialis bedah mulut. Selain itu, Prima Medistika juga membuka pelayanan instalasi apotek. Bila dirinci, jumlah dokter dan karyawan terdiri dari dua dokter umum, tiga dokter gigi, satu dokter spesialis anak, satu dokter spesialis orthodonti, satu dokter spesialis bedah mulut, satu apoteker, dua asisten apoteker, satu orang staff administrasi dan keuangan, serta seorang customer service.

Dalam proses pengembangan usaha, Klinik Prima Medistika telah bekerjasama dengan rumah sakit dan perusahaan swasta PT. Badak LNG (Pertamina), Bontang. Selain itu juga bekerja sama dengan asuransi swasta lain seperti Owlexa Healthcare (PT. Lintasarta). 

Any selalu berupaya meningkatkan mutu kliniknya, baik dari segi pelayanan maupun berbagai aspek lainnya. Dia selalu memastikan kliniknya bersih, nyaman, dan cepat. Ia bertekad untuk mengembangkan kliniknya menjadi klinik swasta yang bisa melayani masyarakat secara meluas dengan inovasi pelayanan berbasis teknologi. Meski saat ini inovasinya masih terbatas di bidang kedokteran gigi. “Pelayananya ingin saya tingkatkan melebihi klinik-klinik lain. Targetnya untuk kedokteran gigi dulu sesuai ranah saya,” ujarnya.

Dalam bekerja, Any selalu menekankan sikap profesional dan jujur. Menurutnya ilmu yang dibebankan kepada orang yang amanah arahannya akan sangat baik. Itulah yang menjadi keyakinan Any dan selalu dia ingat dalam berkarir. 

Riwayat Pekerjaan

  • Praktik Mandiri

    Apotek Ainia Rasyifa, Bontang

    2010 - 2019

  • Dokter Gigi Spesialis Ortodonsia

    RSUD Taman Husada, Bontang

    2016 - 2018

  • Owner dan Dokter Gigi Spesialis Ortodonsia

    Klinik Prima Medistika, Bontang

    2020 - now

  • Dokter Gigi Spesialis Ortodonsia

    RS Pupuk Kaltim, Bontang

    2014 - now

Riwayat Pendidikan

  • Pendidikan Dokter Spesialis Ortodonti

    Universitas Airlangga

    2005 - 2010

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga