Menjadi Satu-satunya Dokter Spesialis di Kota Bima
“Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah merusaknya” – Ali bin Abi Thalib
Berasal dari Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dr. Nabilah, Sp.PD., dilahirkan dari pasangan Aparatur Sipil Negara (ASN) bidang kesehatan dan pertanian. Anak pertama dari empat bersaudara itu menghabiskan masa kecilnya di pesisir Pantura, tepatnya di Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban Jawa Timur.
Saat sekolah dasar, dr. Nabilah bersekolah di SDN Jenggolo, yang persis berada di samping sawah dan sungai. Sehingga ketika pulang, dr. Nabilah seringkali dikejar anak sapi, jatuh ke parit yang banyak lumpur, sampai terkadang diajak temannya mencari keong di pantai, dan aktivitas-aktivitas menyenangkan lainnya sebagai anak desa. Baginya, menjadi anak yang tumbuh besar di desa dengan keterbatasan akses informasi membuatnya bermimpi untuk berkembang melebihi apa yang bisa dia lihat. Dan kenapa bermimpi menjadi dokter? Karena saat itu pikirannya berkata jika menjadi seorang dokter dapat bermanfaat bagi siapapun, dimanapun, dan sampai kapanpun.
“Dan itu adalah cita-cita saya dan kenapa akhirnya saya memilih menjadi dokter,” ungkapnya.
Ditanya mengenai kenapa memilih Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr. Nabilah menjawab, alasan pertamanya, karena ayahnya merupakan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Angkatan 1984). Beliau menjadi sosok yang sangat menginspirasinya untuk menjadi dokter di daerah dan banyak membantu masyarakat.
Alasan kedua, karena Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga merupakan prodi yang sangat favorit, dengan kabar sulitnya diterima sebagai mahasiswa dikarenakan peminatnya banyak, dan passing grade-nya tinggi. Sehingga, Saat naik kelas 3 di SMA Negeri 1 Tuban, dr. Nabilah mulai mempersiapkan dengan sangat baik seperti belajar mandiri dan mengikuti bimbingan belajar dari sejak 1 tahun sebelum mengikuti tes SNMPTN pada tahun 2009. Yang diingat dr. Nabilah, dia belajar minimal 6 jam setiap harinya.
“Dan tentu saja dibantu doa kedua orang tua, Alhamdulillah, akhirnya saya lolos tes SNMPTN di pilihan pertama saya yang saat itu merupakan satu-satunya pilihan saya, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,” kenangnya.
Adaptasi Saat Kuliah
Sebagai anak daerah yang pertama kali merantau di Surabaya, dr. Nabilah cukup kaget. Rame, banyak teman dari daerah lain dengan cerita dan latar belakang yang beragam, dan tentu saja adanya culture shock. dr. Nabilah belum pernah ke mall dan nonton bioskop. Mata kuliah yang disukai dr. Nabilah adalah Fisiologi atau Ilmu Faal, dia bisa menjawab semua keingintahuan dengan alasan yang jelas, dan menunjukkan betapa istimewanya kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna.
Dosen favoritnya adalah dr. Aditiawardana, SpPD, K-GH, beliau adalah dosen walinya selama menjalani pendidikan spesialis Penyakit Dalam. Beliau pernah berpesan,” Kita tidak akan bisa merawat pasien jika pasiennya tidak yakin, maka dapatkan kepercayaan pasien terlebih dahulu sebelum memberikan perawatan, dan perlakukan beliau seperti keluarga,” pesannya.
Selama menjalani Pendidikan S1 di FK UNAIR, dr. Nabila juga cukup aktif di luar kelas seperti mengikuti organisasi FORISMA. Dia menjadi pengurus, dan beberapa kali membuat penelitian serta mengikuti lomba di beberapa universitas lain. Kegiatan tersebut sangat bermanfaat setelah lulus S1 dan menjalani program internship, karena membantunya untuk membuat penelitian dan laporan kasus untuk publikasi.
Selama sekolah spesialis dr. Nabilah juga aktif di kepengurusan PPDS, menjadi ketua Divisi Acara, dan banyak kegiatan lain yang sifatnya non-akademik. Awalnya agak sulit membagi waktu, namun justru terbiasa management waktu dengan baik dan tentu saja bisa kenal dengan banyak orang dan senior lainnya.
“Setelah lulus dokter umum, saya mengikuti program Internship selama 1 tahun di RSUD Bangil dan Puskesmas Pandaan. Setelah selesai internship, saya bekerja di RS PKU Muhammadiyah Surabaya selama 1 tahun, kemudian melanjutkan sekolah spesialis Penyakit Dalam di UNAIR,” terangnya.
Menjadi Satu-satunya Dokter Spesialis Penyakit Dalam
RSUD Kota Bima merupakan RS tipe D di Kota Bima, ujung timur pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Disini dr. Nabilah menjadi satu-satunya spesialis penyakit dalam dengan jumlah penduduk 155.140 jiwa. dr. Nabilah bertanggung jawab atas pasien penyakit dalam di IGD, Poli Dalam, Rawat Inap, dan ICU. Selain itu, kasus jantung paru dan neuro juga masuk dalam tanggung jawabnya karena disini hanya ada spesialis penyakit dalam, bedah, anak, obgyn, dan anestesi.
Jika dilihat dari sisi beban kerja, memang terkesan berat, namun memang tidak dapat dipungkiri bahwa lingkup dan standar kompetensi dokter spesialis penyakit dalam sangat luas dan itu sudah harus disadari sejak awal memutuskan untuk mengambil program spesialis. Pada akhirnya, dr. Nabilah menyadari jika semua yang dijalaninya dengan ikhlas akan terasa ringan, karena demi memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat Kota Bima, Nusa Tenggara Barat.
Sebagai dokter di pelosok, dr. Nabilah tentu mempunyai pengalaman untuk diungkapkan. Pengalaman itu dia rasakan ketika dihadapkan pada kasus pasien yang tidak bisa tertangani dengan baik karena keterbatasan sarana prasarana dan obat-obatan. Dia merasa sangat sedih, ketika secara teori dan prosedur mudah kita bilang rujuk, tapi implementasinya di lapangan tidak sesederhana itu.
Banyak yang menjadi pertimbangan pasien dan keluarga untuk setuju dirujuk, seperti biaya makan dan tinggal mereka selama di RS rujukan. Mereka tidak bisa bekerja sementara pemasukan untuk keluarga tidak ada, keluarga yang menunggu disana tidak ada, dan banyak lagi pertimbangan lainnya. Besar harapan, agar pemerataan fasilitas, modalitas penunjang, dan obat-obatan untuk fasilitas kesehatan di perifer segera direalisasikan, karena sejujurnya percuma, diberi banyak SDM jika penunjangnya tidak ada dan masih dalam keterbatasan, tetap harus dirujuk dengan segala pertimbangan.
Impian dan Harapan
Dr. Nabilah mempunyai keinginan untuk dapat menjadi pengajar dan konsultan kedepannya. Selain itu dirinya ingin kembali bergabung dengan keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Hanya saja, saat ini dirinya menyadari, berat untuk meninggalkan RSUD Kota Bima, jadi sementara itu masih menjadi impian yang entah kapan bisa terwujud,
“Masih selalu dalam doa saya, dan menunggu waktu yang tepat,” ucapnya.
Dr. Nabilah juga berpesan pada civitas akademika UNAIR untuk terus berkembang dan maju, menjadi Universitas impian semua calon mahasiswa dan orang tua, diantara menjamurnya Fakultas Kedokteran yang baru dibuka. dr. Nabilah percaya bahwa pengalaman adalah guru dari segalanya, dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang sudah meluluskan puluhan ribu dokter memiliki pengalaman dan guru yang sangat istimewa. Pesan sang dokter untuk mahasiswa UNAIR,
“Kemanapun kita pergi, jangan lupa ada Airlangga di Pundak yang harus selalu dijunjung marwahnya,” tutupnya.