Nalini Muhdi

Jihad Terbaik Itu Membela Kaum Perempuan

Salah seorang ’’pembela’’ kaum perempuan hebat di Surabaya adalah Dr. Nalini Muhdi, Sp.KJ. Sebagai psikiater yang sering menangani permasalahan perempuan, Nalini menilai persoalan utama di Indonesia adalah belum teraplikasikannya sila kelima Pancasila dengan baik.

Nalini mengatakan, ketimpangan keadilan masih terjadi di berbagai sektor kehidupan. Dan, yang paling banyak menjadi korban adalah kaum perempuan. Itulah jihad terbaik di Indonesia saat ini: memerangi kemiskinan dan kebodohan! Terutama bagi kaum perempuan yang sejatinya merupakan tulang punggung kehidupan berbangsa.

Karena itu, sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan kaum hawa. Apalagi, menurut perempuan yang mendampingi Lisa ”Faceoff” di masa kesembuhannya itu, sejak reformasi bergulir hanya demokrasi yang berkembang di Indonesia. Itu pun belum demokrasi yang dewasa.

Sempat Berkarir di Jakarta

Dokter Nalini sangat dikenal publik. Namanya sering muncul di media massa sebagai narasumber atau penulis. Hampir semua berita Nalini sering dikaitkan dengan FK Unair atau RSUD Dr. Soetomo. Maklum, dia memang bekerja di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu.

Namun, meski namanya sering dikaitkan dengan FK Unair, sejatinya nama Nalini Muhdi tidak ada dalam buku alumnus S-1 FK Unair tahun berapa pun. Ya, perempuan yang tetap cantik di usianya yang menapak 57 tahun itu memang bukan lulusan Unair. Dia alumnus FK Universitas Diponegoro, Semarang.

Jejak nasiblah yang membawanya ke Surabaya dan kemudian mencicipi atmosfer pendidikan di Airlangga kala mengambil spesialis ilmu kedokteran jiwa (psikiatri). Surabaya memang tidak ada dalam kamus hidup Nalini muda. Saat itu dia yang berdomisili di Jawa Tengah lebih ingin berkarir di Jakarta.

Tak heran, selepas menyandang gelar dokter, Nalini memutuskan hijrah ke ibu kota, bekerja di salah satu media kedokteran. Di tempat itulah cikal bakal keakrabannya dengan teman media terjalin.

Dua tahun berselang, Nalini memutuskan untuk kembali ke khittah sebagai tenaga kesehatan alias dokter umum. Dia ditempatkan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dua tahun juga dia habiskan waktu di Palangkaraya untuk kemudian pindah ke Surabaya mengikuti jejak suaminya, Agung Hadyono, Sp.OG.

Di Kota Pahlawan, perempuan yang aktif mengisi rubrik konsultasi di Jawa Pos dan beberapa media lain itu langsung diterima bekerja di RSUD Dr. Soetomo.

Nah, perkenalannya dengan Unair pun dimulai. Tiga tahun berkutat dengan segala aktivitas medis di RSUD, membuat Nalini ingin mendapatkan ilmu lebih.

Dia pun mengambil kuliah dokter spesialis di FK Unair.

Kelak, pilihannya pada kampus itu tidak salah. Sebab, baik Nalini maupun Unair sama-sama telah menjadi bagian penting perjalanan sejarah keduanya. Selain sibuk berpraktik, Nalini aktif mengajar di FK Unair. Bahkan, sejak 2011 dia menjadi Ketua Program Studi PPDS I Prodi Psikiatri FK Unair.

Jejak Perjalanan Hidup

Perjalanan hidup Nalini sampai mapan seperti sekarang tak lepas dari peran ayahnya dan Pak Ahmad, guru agamanya di SMAN 1 Kudus. Ayahnya seorang organisatoris dan menjadi partner debat yang menyenangkan. Dari dialah Nalini muda mendapatkan wejangan tentang hidup. Termasuk memilih jurusan kedokteran.

Sebab, saat lulus SMA dulu Nalini sebetulnya sudah diterima di jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia. Ayahnya bilang, kalau jadi diplomat, bagaimana suami serta anak-anaknya kelak. Kan dia harus pindah-pindah tugas di berbagai negara.

Dari guru agama, Nalini mendapatkan banyak hal terkait filsafat dan sastra. Tak heran, di sela-sela kesibukannya saat ini perempuan kelahiran Kudus 8 Mei 1959 itu selalu melahap buku-buku sastra. Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Naguib Mahfouz, dan Emile Zola adalah sedikit penulis yang bukunya dia koleksi.

Berkat nasihat dua orang itulah Nalini mantap memilih jurusan kedokteran. Dia menganggap, dokter akan banyak membantu orang lain yang tengah kesulitan.

Dukungan terhadap Unair

Kini nama Nalini dan Unair seakan tak terpisahkan. Dia menilai ambisi Unair masuk ke jajaran 500 universitas ternama di dunia bisa diwujudkan.

"Unair memang harus punya cita-cita tinggi. Tapi, hal itu harus dibarengi dengan realitas yang masif. Tidak bisa bersifat kognitif saja atau hanya memikirkan kurikulum. Faktor individunya juga harus diperhitungkan. Perhatikan kesejahteraannya. Artinya, kualitas dan kuantitas bisa seimbang."

Ambisi itu juga jangan membuat Unair panik. Sebab, peringkat bukan segalanya. Asalkan sudah melakukan sesuatu yang terbaik, niscaya Unair akan melahirkan sarjana-sarjana yang berkualitas. Mampu berkontribusi pada dirinya sendiri, kampus, serta di tataran lebih luar seperti bangsa dan negara. (*)

Riwayat Pekerjaan

  • Ketua Program Studi

    Universitas Airlangga

    2011

  • Dokter

    RSUD Dr. Soetomo

Riwayat Pendidikan

  • Kedokteran (Sarjana)

    Universitas Diponegoro

  • Spesialis Psikiatri (Spesialis)

    Universitas Airlangga

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga