Kisah Anak Tukang Kebun yang Berhasil Jadi Pilot TNI AL
“Dalam mencapai tujuan kuatkanlah tekad dan selalu berjuang keras,”
Restu orang tua menjadi modal yang kuat bagi seseorang dalam menggapai mimpi. Hal ini yang terjadi pada sosok Mayor Laut (P) Dr. Hadi Priyono., SE., MM. Siapa sangka sosok anak tukang kebun dapat menjadi seorang Pilot Penerbang TNI AL. Priyo sapaan akrabnya lahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai tukang kebun di Sekolah Dasar. Sementara sang ibu adalah ibu rumah tangga, yang setiap hari mencari tambahan pundi-pundi rupiah dengan berjualan di warung rumahan.
Kisah Masa Kecil
Priyo menceritakan bahwa semasa duduk di bangku Sekolah Dasar ia berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Terkadang ia berangkat bersama sang ayah dengan mengayuh sepeda onthel. “Memang sekolah saya dulu merupakan tempat bapak bekerja. Bapak juga menjadi motor bagi saya untuk maju dan merubah nasib jadi lebih baik,” ungkapnya.
Tekad dan semangat Priyo telah tertanam sejak Sekolah Dasar. Hal ini dibuktikan saat Priyo kerap kali menjadi juara kelas. Bahkan Priyo pernah menerima hadiah sebagai juara kelas di depan lapangan upacara tapi tidak menggunakan sepatu. Perjuangan Priyo tak berhenti sampai situ saja. Berkat perjuangan yang dilakukannya, Priyo berhasil menimba ilmu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terkenal favorit di kota kelahirannya Demak, Jawa Tengah.
Masa-masa SMA Priyo lalui dengan tidak mudah. Ia harus tetap belajar dan bekerja untuk mencari penghasilan tambahan. Hal ini ia lakukan lantaran kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Priyo berjualan telur bebek hingga menjadi juru parkir di masjid agung Demak.
Kondisi ekonomi keluarga saat itu membuat Priyo tak pernah menggantungkan mimpi melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Tetapi asa dan tekad Priyo tak pernah padam. “Beberapa kali saya ikut tes akhirnya diterima masuk sekolah penerbang militer, yang murni semua dibiayai oleh TNI. Alhamdulillah sekarang bisa sampai pada posisi ini,” ujarnya.
Tak Pernah Melihat Pesawat
Priyo mengungkapkan bahwa saat kecil ia tak pernah memiliki gambaran akan menjadi seorang pilot TNI. Melihat pesawat saja tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kini Priyo tak hanya bisa melihat dan menyentuh pesawat saja, ia bahkan bisa menerbangkan pesawat itu sendiri. Dibalik keberhasilan Priyo saat ini ternyata sosok sang ibu yang menjadi motivasi terbesarnya. “Motivasi terbesar saya secara eksternal datang dari ibu, beliau selalu menyemangati saya. Saya berusaha menjadi kebanggaan tapi tidak merepotkan atau membebani orang tua,” paparnya.
Selama 18 tahun berkarir di dunia penerbang TNI AL Priyo kerap kali bertugas untuk misi-misi tertentu. Bagi Priyo setiap tugas yang ia jalankan menjadi pengalaman baru baginya. “Setiap tugas selalu memberi kesan yang berarti bagi saya. Ternyata seorang anak desa bisa mengarungi lautan dan membelah angkasa dari ujung barat Sabang hingga timur Indonesia,” katanya.
Terbang Sembari Laksanakan Misi Kemanusiaan
Priyo juga bercerita bahwa misi yang paling membekas baginya saat menjalankan misi kemanusiaan penanganan pasca gempa di Mamuju pada 2021. Akibat bencana ini lebih dari 7.800 rumah rusak dan sekitar 37.000 orang mengungsi.
Saat itu Priyo bersama tim bertugas untuk mendistribusikan kebutuhan pokok dan perlengkapan sehari-hari untuk para korban. Posisi para korban bencana saat itu terisolir akibat gempa. Tidak hanya wilayah pesisir yang terkena dampak, tapi wilayah lereng bukit dan di balik gunung juga terisolir.
Priyo dan tim silih berganti melakukan misi ini selama satu bulan. Kala itu Priyo bisa melihat secara langsung kehidupan pasca bencana. Ia juga melihat semangat para relawan yang berjibaku membantu para korban. “Saya dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini, alam juga mengajarkan kita cara bersyukur atas keadaan dan keselamatan yang kita miliki. Hargailah setiap momen bersama keluarga dan orang terdekat,” ungkapnya.
Hobi Terbang dan Mengajar
Sebagai seorang pilot TNI AL, Priyo harus mampu menjadi awak dan menerbangkan seluruh jenis pesawat yang dimiliki TNI AL. Sementara itu, Priyo juga memiliki keahlian khusus yaitu menerbangkan helikopter. “Saya bertugas menuntaskan apapun misi yang dibebankan dan membawa penumpang selamat hingga akhir penugasan,” tuturnya.
Selain mengemban tanggung jawab sebagai seorang pilot, Priyo selalu meluangkan waktu dengan menggali pengalaman dan menambah pengetahuan. Tercatat, Priyo merupakan alumnus S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR).
Priyo tak ingin menyia-nyiakan ilmu yang dimiliki. Ia berharap dapat membagikan ilmu yang ia punya. Baginya membagikan pengalaman dan pengetahuan miliknya menjadi jalan mulia untuk bermanfaat bagi sesama. Priyo menganggap bahwa saat ini hobinya adalah terbang dan mengajar. Tak heran jika Priyo berkeinginan menjadi seorang dosen suatu saat nanti. Lebih lanjut, saat ini Priyo tengah melanjutkan pendidikan militernya. Hal ini tentu tak lepas dari doa sang istri dan ketiga putrinya. “Saat ini sedang diberi amanah untuk melanjutkan sekolah kedinasan tertinggi di TNI AL, sebagai syarat untuk naik pangkat menjadi Letkol. Mohon doanya semoga diberi kelancaran dalam pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau),” harapnya.
Bagi Priyo seorang pilot TNI AL harus memiliki ketekunan dan ketabahan yang tinggi. Apalagi saat menjalankan tugas berbagai situasi di udara dapat terjadi. Saat menjalankan tugas Priyo selalu bertekad untuk tidak pernah menyerah di tengah perjalanan. Ia juga selalu berjuang dengan keras dalam mencapai tujuan. “Nilai dasar ketekunan dan ketabahan menjadi semangat hidup saya sejak kecil. Meski riak kehidupan silih berganti muncul. Saya harus mampu menghadapi segala situasi. Akhirnya rahmat Allah dan doa orang tua yang menjadikan harapan semakin terbuka,” tutupnya.