Mursyidah

Selalu Berikan Kinerja Terbaik 

Mursyidah lahir di Buleleng, 19 Desember 1962. Perempuan yang menggemari mata pelajaran Kimia sejak bangku SMA tersebut memulai pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) pada tahun 1980. Kala itu, Mursyidah mengaku sangat bangga dapat diterima sebagai mahasiswa baru UNAIR. Dirinya bahkan memperoleh beasiswa dari Kementerian Pendidikan Tinggi saat memasuki semester dua perkuliahan. Mursyidah menempuh pendidikan di Farmasi Unair selama tujuh tahun. Semasa menjadi mahasiswa, Mursyidah menuturkan bahwa dirinya tak terlalu banyak mengikuti kegiatan ekstra. Sebab, selain disibukkan dengan jadwal dan tugas perkuliahan yang cukup padat, Mursyidah juga bertugas menjadi asisten dosen di Laboratorium Farmasetika. 

“Kuliah di Farmasi cukup sibuk setiap harinya karena jam 07.00 sampai jam 10.00 pagi itu kuliah teori mulai jam 10.00 sampai jam 17.00 kita praktek di laboratorium. Setelah maghrib biasanya saya ke perpustakaan karena saat itu buku-buku masih sangat terbatas. Jam 03.00 pagi kita sudah harus siap dengan laporan praktikum dan persiapan tes sebelum masuk ruang praktikum,” terang Mursyidah.

Meski demikian, Mursyidah tetap menyempatkan waktu untuk mengembangkan diri melalui kegiatan ekstra kampus dan organisasi. Seperti membantu mengajar bimbingan belajar dan bergabung dalam tim paduan suara mahasiswa UNAIR. Mursyidah menuturkan bahwa dia memiliki pengalaman menarik selama menjadi tim paduan suara. Dirinya menyebutkan, setiap kali tim paduan suara yang digawanginya tampil untuk mengiringi prosesi wisuda, Mursyidah selalu menitikkan air mata begitu menyanyikan lagu Hymne Airlangga. 

“Saya sangat menikmati karena saya bisa menyaksikan orang-orang yang telah sukses menempuh pendidikannya. Sehingga saya bercita-cita menjadi Ksatria Airlangga seperti pada tertulis pada Himne tersebut. Saya harus menorehkan yang terbaik dimanapun saya berada. Ini yang selalu saya tanamkan dalam diri saya,” ungkap ibu satu orang anak tersebut.

Selalu Solutif dan Inovatif

Mursyidah menyelesaikan pendidikan S1 Farmasi Unair tahun 1986 dan diangkat sebagai Apoteker pada tahun 1987. Mursyidah mengawali karier sebagai staf PNS di Kantor Departemen Kesehatan pada Maret 1989. Kala itu dirinya terus berjuang untuk menunjukkan bahwa Apoteker lulusan UNAIR dapat bersaing dengan lulusan lain. Banyak tantangan yang dialami Mursyidah di masa awal kerja. Satu minggu setelah menjadi PNS, Mursyidah harus bisa memberikan penyuluhan tentang obat generik di tujuh wilayah eks karesidenan Kabupaten Malang. Selain itu, Mursyidah juga diminta untuk  mengelola obat di gudang obat Kabupaten Malang. Mursyidah mengungkapan, saat itu terdapat banyak obat kedaluwarsa dan dirinya mendapat tantangan untuk menyusun strategi menurunkan obat-obatan kadaluarsa.

“Saya berpikir keras karena tidak ada yang bisa saya ajak diskusi, karena staf saya yang asisten apoteker merasa tersaingi sehingga dia menjauh. Alhamdulilah, saya bisa menurunkan obat-obat kadaluarsa di Puskesmas dengan melakukan road show ke puskesmas dan melakukan pembinaan secara berkesinambungan,” papar Mursyidah.

Tiga bulan kemudian, tugas Mursyidah dipindah ke Desa Jatirejoyoso Kepanjen. Dirinya sempat merasa kesulitan ketika mengetahui bahwa setelah pemindahan gudang farmasi, tidak ada lagi anggaran untuk membiayai upah penjaga dan pemeliharaan. Mursyidah yang kala itu menjabat sebagai kepala gudang farmasi kabupaten kemudian berusaha mencari solusi agar kantor tetap terkelola dengan anggaran yang sangat terbatas. Mursyidah bersyukur, senior-seniornya di Kanwil Propinsi turut membantu dirinya mengelola gudang farmasi yang baru.

“Saat itu obat juga tidak menjadi perhatian sehingga banyak obat yang expired karena penyimpanannya ditempat yang lembab. Sehingga saya memberanikan diri untuk menyetop suplai obat ke puskesmas jika gudang obat di puskesmas tidak diperhatikan,” jelas Mursyidah.

Mursyidah juga tidak segan untuk mengurangi pasokan obat ke puskesmas jika laporan terkait obat-obatan tersebut tidak sesuai dengan peraturan. Cara tersebut rupanya berhasil membuat para kepala puskesmas saat itu lebih memperhatikan penyimpanan stok obat dengan baik. Perjuangan  Mursyidah untuk menegakkan praktek pengelolaan obat yang sesuai dengan pedoman merupakan perjuangan yang cukup panjang. Terlebih, lanjut Mursyidah, saat itu obat di puskesmas masih dikelola oleh SDM lulusan SD hingga SMP dan tidak memiliki latar belakang pendidikan kefarmasian.

“Saya berjuang bagaimana merubah keadaan ini dengan menunjukkan data kepada kepala dinas bagaimana jeleknya pengelolaan obat saat itu. Saat di gudang farmasi inilah saya diuji  bagaimana menjadikan instansi yang saya pimpin ini menjadi instansi yang penting,” tutur Mursyidah.

Pada tahun 2000 Mursyidah diangkat sebagai Kepala Subdinas Farmasi dan Makanan yang di Kabupaten Malang. Mursyidah pun mulai merancang program supaya subdinas yang dipimpinnya menjadi bidang yang unggul dan bermanfaat untuk masyarakat. 

“Saat saya menjadi kepala bidang di Farmasi saya dipercaya untuk memulai proyek percontohan apoteker di puskesmas,” sebut dia.

Terima Berbagai Penghargaan

Sejak diangkat menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang pada tahun 2011, Mursyidah telah menorehkan berbagai inovasi dan prestasi. Di antaranya yaitu berhasil mengantarkan  Kabupaten Malang mendapat penghargaan dari Kementrian Kesehatan untuk Kabupaten Sehat, penghargaan sebagai Mitra Pengawas Obat dan Pembinaan Makanan di Desa dari BPOM, serta penghargaan Otonomi Award dari Jawa Pos atas kinerja pelayanan publik.

“Agustus 2014 saya dimutasi ke Asisten Administrasi umum Sekretaris Daerah Kabupaten Malang dan di sini belajar bagaimana mengkoordinir dinas-dinas. Saya diberi tugas untuk menyiapkan kelembagaan pemerintah kabupaten yang baru,” sebut Ketua IKA UNAIR Cabang Malang tersebut.

Setelah kelembagaan yang baru terbentuk Mursyidah kembali dimutasi ke bagian badan penelitian dan pengembangan (litbang) pada tahun 2017. Ketika dipindah ke bagian litbang, Mursyidah merasa bahwa ada hal yang perlu dibenahi agar lembaga tersebut dapat meningkatkan kinerjanya menjadi lebih baik. 

“Saya belajar lagi. Disini saya melihat semua staf yang ada tidak semangat apalagi anggaran yang ada sangat kecil jika dibandingkan dengan dInas lainnya. Tapi saya tetap semangat saya pacu staf walaupun sungguh berat. Hingga akhirnya kami berhasil mendapat juara III nasional untuk Inovasi Daerah dan mendapat perhatian oleh Kemenristek untuk mengembangan Sistem Inovasi Daerah,” sebut perempuan yang  juga berprofesi sebagai dosen luar biasa di beberapa kampus di Malang itu.

Agustus 2017, Mursyidah kembali dimutasi lagi ke Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Satu Pintu. Di sana, Mursyidah berusaha merubah mindset staf dinas perijinan menjadi pelayanan masyarakat yang baik, serta melakukan perubahan agar Dinas Perijinan menjadi kantor yang ramah bagi publik. Upaya Mursyidah lagi-lagi berhasil membawa lembaga yang dipimpinnya memperoleh penghargaan, yaitu penghargaan pelayanan Publik kategori A dari Kementerian PANRB.

“Namun saat mau menerima penghargaan kembali saya dimutasi ke Balitbang pada agustus 2018  yang ternyata stafnya sudah ‘tidur’ lagi. Kantor berantakan padahal baru saja saya tinggalkan. Ada  rasa kesal juga karena saat senang sudah melakukan perubahan, saya dimutasi lagi. Saya mulai berbenah lagi, berjuang lagi, memimpin  dan berusaha untuk menjadikan litbang menjadi kantor elit dan membanggakan,” terang Mursyidah.

Mursyidah pun kembali memutar otak untuk membenahi kinerja balitbang. Berkat semangat dan kerja kerasnya, Mursyidah berhasil membangkitkan semangat staf lain untuk ikut berbenah memajukan balitbang. Kemudian dirinya mulai melakukan persiapan untuk mengikuti lomba inovasi daerah yang melibatkan seluruh dinas di Pemkab Malang. Lomba yang diselenggarakan oleh Kemendagri pada tahun 2019 tersebut akhirnya menetapkan Malang sebagai Kabupaten terinovatif ketiga setelah Banyuwangi dan Kulon Progo. Tak hanya itu, balitbang yang dipimpin oleh Mursyidah juga memperoleh penghargaan dari Kemenristek sebagai Balitbang Berkinerja Utama Tingkat Nasional. Berkat capaian prestasi tersebut, Balitbang Kabupaten Malang mendapat kunjungan dari berbagai litbang daerah lain di Indonesia.

“Dan juga kunjungan 9 profesor dari Universitas Udayana khusus untuk melihat dari dekat terkait pengembangan Balitbangda Kab Malang untuk pembentukan Barisda Provinsi Bali. Kemudian saya dimutasi lagi pada bulan agustus 2019 kembali ke Asisten Administrasi dan Umum Sekda Kabupaten Malang,” imbuh Mursyidah.

Saat ini Mursyidah tengah menyiapkan kembali perubahan kelembagaan sekretariat daerah dan penyederhanaan birokrasi di pemkab. Selain menjabat sebagai asisten administrasi umum, Mursyidah juga mengemban berbagai amanah lain, di antaranya menjadi Tim Penilai Kinerja ASN, Tim Penyusunan Kelembagaan,  tenaga pengajar luar biasa jurusan Farmasi di beberapa perguruan tinggi di Malang, dan masih banyak lagi. Pada akhir, Mursyidah berbagi kunci keberhasilannya dalam memimpin hingga membuahkan berbagai prestasi, di antaranya yaitu selalu disiplin, jujur dan  bersungguh-sungguh. 

“Selesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjadi orang bermanfaat dan selalu bisa mewarnai yang baik dimanapun kita berada,” pungkas Mursyidah.

Riwayat Pekerjaan

  • PLH Sekretaris daerah

    2019

  • Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah

    2019

  • Kepala

    Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah

    2018

  • Kepala

    Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu satu Pintu

    2017

Riwayat Pendidikan

  • S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

    Universitas Airlangga (2004)

    2004

  • Profesi Apoteker

    Universitas Airlangga

    1987

  • S1 Pendidikan Apoteker

    Universitas Airlangga

    1986

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga