Trisa Wahjuni Putri Indra

Pengalaman di Lapangan Jadi Pertimbangan Kebijakan
Kebijakan di bidang kesehatan yang dikeluarkan pemerintah tidak di ambil berdasarkan sisi kesehatan se mata. Banyak faktor yang dipertimbangkan. Misalnya, politik, ekonomi, sosial, dan perilaku masyarakat. Di situlah dr. Trisa Wahjuni Putri Indra, M.Kes. mengambil peran.
Saat ini dia menjabat direktur Pusat Determinan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Secara sederhana, tanggung jawabnya nyaris tidak berkaitan dengan kesehatan se-
ba gai sebuah bidang. Namun, berbagai bidang di luar kesehatan yang nanti berdampak di sektor kesehatan. 
Dia dan timnya harus menganalisis faktor-faktor non-kesehatan itu, yang berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan. Trisa mencontohkan pengambilan kebijakan di daerah. Ketika pemerintah daerah tidak aware terhadap kesehatan, pembangunan kesehatan di daerah itu tidak akan menjadi prioritas.
Ketika pilkada, misalnya, Trisa akan ikut memberikan rekomendasi kepada masyarakat. Mana calon kepala daerah yang punya kepedulian tinggi di sektor kesehatan. Kadang ada gubernur yang meminta diberi penghargaan di bidang kesehatan. Ternyata, di wilayahnya begitu mudah dijumpai penjual rokok.
Contoh lain adalah saat Kemenkes dimintai pendapat mengenai kerja sama Trans Pasific Partnership. Setelah diteliti, ada upaya meningkatkan produksi rokok hingga 10 kali lipat. Padahal, itu akan membawa konsekuensi panjang. Rokok yang melimpah akan membuat harganya menjadi lebih terjangkau.

Karir Berawal di Puskesmas Ogan Komering Ilir
Trisa mengawali karir pada 1989 sebagai dokter di sebuah puskesmas di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Tepatnya di Daerah Aliran Sungai Ogan. Lima tahun lamanya dia mengabdi di puskesmas tersebut. 
Dia bekerja dalam kondisi serba-terbatas. Misalnya, saat memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, dia harus naik kapal menyusuri sungai Ogan. Ketika tiba di lokasi, ternyata hujan. Alhasil, penyuluhan terpaksa batal. Sebab, lokasi penyuluhan beratapkan seng. Suara hujan mengalahkan suara dia.
Trisa cukup dikenal oleh masyarakat di DAS Ogan. Sebab, dia selalu berkeliling dari satu posyandu ke posyandu lain di wilayah kerjanya. Setiap kali dia lewat, ada saja masyarakat yang menyapanya. Mereka juga mengajaknya sekadar mampir ke rumah. Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Trisa.
Dia baru pindah ke Jakarta pada 1994 karena mengikuti pekerjaan sang suami, dr. Indra Kanina Prathama, MBA. Dari situ, dia baru meniti karir sebagai PNS di lingkungan Kementerian Kesehatan hingga akhirnya sampai di po sisi saat ini.
Pengalaman bersama masyarakat di daerah terpencil sangat berpengaruh terhadap cara kerja dan karakternya. Memang tidak mudah membawa fakta di lapangan menjadi sebuah kebijakan di tingkat kementerian. Namun, pengalaman di lapangan menjadi modal berharga ketika hendak merekomendasikan sebuah kebijakan.

Gara-gara Peringkat Unair Turun, Sang Anak Kena Bully
Trisa merupakan salah satu mahasiswa angkatan pertama di FK Unair yang merasakan sistem satuan kredit semester (SKS). Dia lulus tepat waktu, enam tahun. Namun, dia merasa bahwa sistem SKS tidak cocok untuk mendidik calon dokter. Bagaimanapun, belajar di FK materinya harus berurutan. 
Sebagai gambaran, bila tidak paham ilmu anatomi, mahasiswa tersebut tidak mungkin memahami ilmu faal. Karena itu, bila tidak lulus mata kuliah anatomi, mahasiswa dilarang mengambil kuliah ilmu faal. Benar-benar harus berurutan. 
Anak ketiga dari lima bersaudara itu menuturkan, tidak banyak aktivitas yang diikuti di luar kuliah. Faktor utama adalah dia jauh dari rumah. Dia hanya beberapa kali mengikuti kegiatan yang diadakan senat. Misalnya, sosialisasi keselamatan berkendara. Dia bergabung di Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia.
Trisa punya satu harapan untuk Unair, terutama agar mampu menaikkan peringkat di antara universitas di Indonesia. Dia merasakan betul, anak keduanya yang kuliah di FK Unair kerap di-bully karena peringkat kampusnya kalah dari universitas lain. Untuk bisa maju, semua fakultas harus bergerak. Tidak bisa hanya mengandalkan beberapa fakultas semata. Misalnya, FK.
Dalam penulisan jurnal hasil penelitian, semua fakultas juga harus lebih aktif. Kemudian, pembangunan di Unair jangan sampai ditangani secara parsial. Dia menyebutnya jangan hanya bermain dengan otak kiri. Sebagai analogi, bom atom dibuat oleh orang-orang sains. Tapi, bom itu tidak akan terkenal bila tidak ada keputusan dari orang-orang politik untuk meledakkannya.
Maka, Unair juga harus memadukan semua aspek tersebut. Produkproduk sains Unair yang luar biasa, misalnya, hanya akan menjadi besar bila ada peran dari bidang-bidang lain untuk mengenalkan kepada publik. Bila keterpaduan itu bisa diwujudkan, kemajuan Unair tinggal menunggu waktu. 

Riwayat Pekerjaan

  • Dokter

    Puskesmas Ogan Komering Ilir

    1989 - 1994

  • Direktur Pusat Determinan Kesehatan

    Kementerian Kesehatan RI

  • Pegawai

    Kementerian Kesehatan RI

    1994

Riwayat Pendidikan

  • Magister Kesehatan (Magister)

    Universitas Indonesia

  • Kedokteran (Sarjana)

    Universitas Airlangga

    1983 - 1989

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga