Nur Mukarromah

Dedikasi Penuh di Dunia Akademik

“Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain”

Menjadi seorang dekan adalah hasil dari perjalanan panjang dan penuh dedikasi di dunia akademis. Dalam setiap tantangan yang muncul, selalu ada kesempatan untuk belajar dan menciptakan ruang untuk tumbuh bersama. Bukan sekadar peran kepemimpinan, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan memberikan dampak positif bagi banyak orang.

Dr. Nur Mukarromah, S.KM., M.Kes, perempuan yang telah menamatkan studi S1, S2, dan S3-nya di Universitas Airlangga (UNAIR) ini menjadi salah satu sosok cerminan untuk nilai-nilai tersebut. Saat ini, ia tengah menjabat sebagai Dekan di Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS). Baginya, kunci keberhasilannya adalah memberikan yang terbaik yang ia miliki sehingga dapat memberi manfaat bagi sekitarnya. 

Dari Bangku Kuliah hingga Kursi Kepemimpinan

Sebelum menjadi FIK, institusi tersebut mulanya berbentuk Akademi Keperawatan (Akper) dan ia mendapatkan amanat untuk menjabat sebagai Wakil Direktur 1 pada tahun 1997. Namun, ia yang masih lulusan D3 tidak mungkin untuk mengambilnya. Maka, di tahun yang sama ia memutuskan untuk menempuh S1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR.

Ia masuk di angkatan kedua kelas ekstensi, sebuah program kuliah jenjang pendidikan bagi mahasiswa diploma ke tingkat sarjana. Bukan perkara mudah untuk menyelesaikan pendidikannya pada masa itu mengingat ia perlu menjalankan dua peran sekaligus, yakni mahasiswa dan pengajar.

“Saat itu masuk di angkatan kedua kelas ekstensi FKM. Kuliah dilaksanakan pada sore sampai malam hari, paginya tetap bekerja di kampus untuk mengajar dan praktikum mahasiswa,” ujarnya.

Pada tahun 2005, izin pendirian Prodi S1 Keperawatan dan Profesi Ners telah terbit dan pada saat yang sama pengajuan merger menjadi FIK telah disetujui. Ia terus melakukan kerja sama dan kolaborasi hingga karier akademisnya terus berkembang dengan menduduki sejumlah posisi strategis di UMS.

“Saat itu (tahun 2009, Red), diamanahi menjadi Wakil Dekan II bidang SDM, Keuangan, dan Sarpras selama dua periode. Di tahun 2013-2017 diamanahi sebagai Dekan, dan periode berikutnya diminta Rektor untuk menjadi Kepala Biro Sumber Daya Manusia. Pada periode ini diminta kembali menjadi Dekan FIK hingga 2025,” jelasnya.

Menyemai Ilmu dan Pengalaman di UNAIR

Ketika bercerita tentang masa kuliahnya, Pemimpin FIK UMS tersebut mengatakan jika sedari SMA ia memang bercita-cita untuk kuliah di Kesehatan Masyarakat. Selama kuliah S1 hingga puncaknya setelah berhasil menyelesaikannya, ia sadar jika sarjana saja masih belum cukup dan membawanya pada keputusan untuk terus menempuh pendidikan tingginya.

“Setelah selesai kuliah S1, maka semakin tahu tuntutan seorang dosen dan harus mempunyai kompetensi keilmuan yang linier dengan sarjananya, maka saya putuskan untuk tetap melanjutkan studi di Kesehatan Masyarakat sampai program doktoral,” ungkapnya.

Saat-saat menjalankan S3 inilah yang menjadi momen paling berkesan dalam masa pendidikan tingginya. Sebab, saat itu hadir sepasang buah hati kembar dan si bungsu. Meskipun bukan jalan yang mudah, ia masih mengungkapkan terima kasih kepada Tuhan karena kesulitan-kesulitan tersebut ditebus dengan kehadiran jantung hatinya.

“Meskipun dalam perjalanan studi tidak mudah, karena harus tetap menjabat di UM Surabaya, apalagi saat kuliah S3 Allah berikan rezeki yang luar biasa, yaitu berangkat haji dan mempunyai tiga anak, satu kali melahirkan kembar di semester tiga, hamil berikutnya di semester lima,” ujarnya. 

Kiprah Lulusan dalam Posisi Dekan 

Kini, ia telah menyelesaikan masa studinya di UNAIR serta bersyukur atas pilihan dan keputusan yang telah ia pilih. Ia merasa bahwa UNAIR memberikan dukungan maksimal pada kariernya dan memberikan pengalaman berharga dalam dunia pendidikan sembari tetap memenuhi tanggung jawabnya di UMS.

“Alhamdulillah selama saya menjadi mahasiswa di UNAIR memberikan support yang luar biasa terhadap perjalanan karier saya. Dengan mengenal banyak dosen-dosen senior di FKM memberikan ilmu dan sharing pengalaman yang berharga untuk pengembangan potensi dan networking.

“Studi di FKM UNAIR selain tetap bisa menggali dan meningkatkan kompetensi keilmuan juga tetap bisa melaksanakan amanah jabatan di kampus UM Surabaya,” sambungnya. 

Menurutnya, letak perbedaan UMS dan UNAIR hanya pada kelembagaannya. UMS berada di bawah perserikatan Muhammadiyah, sedangkan UNAIR sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum. Kendati demikian, ia mengaku jika budaya akademik di dua universitas tersebut tidaklah jauh berbeda sehingga ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan selama kuliah dapat menjadi bekal dalam mengemban tugasnya.

Kini, atas kiprahnya selama lebih dari 20 tahun di dunia akademik, terlebih sebagai pemimpin, satu hal yang ia pelajari dan senantiasa dipegang teguh dalam menjalankan tugas adalah keikhlasan. “Melaksanakan tugas dengan ikhlas berniat ibadah untuk memberikan manfaat kepada yang lainnya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain,” tutupnya.

Riwayat Pekerjaan

  • Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan

    Universitas Muhammadiyah Surabaya

    2013 - 2017

  • Kepala Biro Sumber Daya Insani

    Universitas Muhammadiyah Surabaya

    2017 - 2021

  • Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan

    Universitas Muhammadiyah Surabaya

    2021 - 2025

  • Wakil Rektor Bidang SDI, Kemahasiswaan, dan Kewirausahaan

    Universitas Muhammadiyah Surabaya

    202 - 2029

Riwayat Pendidikan

  • D3 Keperawatan

    Universitas Darul Ulum Jombang

    1993

  • S1 Kesehatan Kesehatan Lingkungan

    Universitas Airlangga

    1999

  • Magister Kesehatan Masyarakat

    Universitas Airlangga

    2009 - 2015

  • Doktor Ilmu Kesehatan

    Universitas Airlangga

    2015

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga