Belajar Lagi Demi Penuhi Mandat
“Jangan mudah menyerah, berjuanglah, karena tidak ada yang instan”
Nasib hidup memang tak bisa ditebak, namun bisa direncanakan. Keinginan Yulianti untuk menggapai gelar sarjana hukum sudah muncul sedari kecil. Setelah menjadi wartawan selama 1 dekade lebih, kini ia menjabat sebagai HRD Radar Malang.
Jabatannya sekarang merupakan sebuah kejutan yang tak ia duga, bahkan Yulianti tak punya keterampilan sebagai HRD di tahun 2016 lalu. Mau tak mau, ia harus belajar sana sini untuk memenuhi mandat yang Direktur Radar Malang berikan.
Wartawan Berbagai Bidang
Perjalanan Yulianti sebagai wartawan dimulai pada tahun 1999, tahun dimana krisis moneter melanda Indonesia. Uniknya juga, ia menjadi wartawan angkatan pertama Radar Malang. Bidang Rumah Sakit, Hukum, dan Kriminal merupakan pijakan perdana yang mewarnai kehidupan kerja Yulianti.
Ada satu cerita berkesan bagi Yulianti dalam karirnya sebagai wartawan. Ia mendapat kesempatan khusus berupa wawancara eksklusif dengan salah satu korban pada pembobolan bank kala itu, membuat beritanya dimuat di berbagai media.
“Saya wawancara eksklusif dengan korban perampokan itu yang juga pemimpin cabang bank. Beritanya sampai tayang Jawa Pos nasional waktu itu. Jadi ya senang aja gitu beritanya tayang nasional pertama kali,” ungkapnya.
Hal unik lainnya juga turut ia dapati ketika melakukan liputan kriminal sembari mengandung anak pertamanya. Kasus pemukulan dan pembunuhan memang bukan pemandangan yang terbaik, namun harus ia jalani sebagai tanggung jawab.
Dihimpit Kekhawatiran
Pemindahan mandat Yulianti dari wartawan menjadi HRD bukan tanpa sebab. Suaminya yang naik jabatan sehingga berkurang waktu untuk keluarga membuat Yulianti khawatir dengan anak-anaknya. Hal itu menyebabkan artikel berita yang ia tulis tidak maksimal.
“Saya jadi nggak fokus kerja, hasil editan saya jelek, dan saya sering dikomplain. Waktu itu juga Radar Malang lagi naik daun, jadi pak direktur panggil saya untuk handle karyawan,” jelasnya.
Hal itu juga mengharuskan Yulianti untuk belajar cara mengelola karyawan. Mulai dari otodidak, hingga studi banding ke Jawa Pos. Butuh waktu 3 tahun baginya untuk menguasai ilmu tersebut. Ke depannya, Yulianti berencana untuk meraih sertifikasi human capital sebagai penunjang karirnya.
Ksatria Airlangga dan Pesan
Yulianti menjadi bagian dari Ksatria Airlangga pada tahun 1994, 3 dekade lalu. Tak banyak memori berkesan baginya selain para dosen hukum yang juga dulunya merupakan konsultan hukum kasus ayah Yulianti. Kasus itu juga yang membuat Yulianti ingin menggapai gelar sarjana hukum, berusaha memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum itu.
“Saya jadi bisa ketemu pengacara dosen-dosen hukum yang bisa saya mintai nasehat itu dan ternyata juga bermanfaat mereka banyak membantu waktu itu,” tuturnya.
Ilmu hukumnya pun masih ia pakai dalam memahami, menganalisa, dan membuat peraturan berdasarkan undang-undang. Maka, ia berpesan bagi ksatria Airlangga untuk terus belajar. Terutama sudah ada kebebasan dalam mengambil mata kuliah, maka pergunakan hal tersebut untuk merencanakan keterampilan dan keahlian hingga cita-cita dapat digapai.
“Kuliah sungguh-sungguh, kepingin jadi apa bisa di setting mulai kuliah. Jadi nanti bisa masuk di sesuai bidangnya atau sesuai passion-nya,” tungkasnya.