R. Heru Ariyadi

Jadi Pemimpin Sejak Dokter Muda 

R. Heru Ariyadi, dr., MPH., adalah seorang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) pada tahun 1980. Dokter, sudah menjadi motivasi dr. Heru sedari kecil ketika ditanya apa cita-citanya. Laki-laki kelahiran Kediri, 9 Juni 1954 tersebut kini sedang menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA) periode ke-2. 

Lingkungan Membuka Jalur Karir dr. Heru

Setelah lulus dari FK UNAIR bulan juli 1980, dr. Heru langsung mendaftarkan dirinya ke Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan, red). Namun proses penempatan baru dibuka pada bulan Desember 1980. Selama proses penantian sebagai dokter Inpres, ia mendaftar ke Pertamina sebagai dokter di pengeboran minyak lepas pantai. Beberapa kali, ia ditugaskan oleh Pertamina di Kalimantan, Sumatera, dan Riau. Setiap kali tugas selama 2 minggu, pendapatannya sudah mencapai 10 kali lipat dari gaji CPNS. 

“Dua minggu on di kapal, kemudian setelah itu pulang, dan lanjut lagi dua minggu. Baru pertama kali lulus dokter, yang tadinya anak kos kemudian mendapatkan gaji dan gajinya itu 10 kalinya CPNS,” ungkapnya. 

Bulan Desember ia mendapat penempatan di daerah Jawa Timur, karena mendapat surat rekomendasi dari Bupati Kediri. Ketika itu, ia berhasil mendapat undian untuk ditempatkan di Puskesmas Bluluk, Lamongan. Menjadi dokter pertama sekaligus sebagai kepala Puskesmas di wilayah kecamatan yang termasuk kategori wilayah terpencil tersebut, memberikan berbagai pengalaman dan tantangan bagi dr. Heru.

“Tidak ada listrik, air bersih sulit, dan transportasi jarang. Seminggu sekali pulang ke Kediri untuk membawa 10 jerigen air bersih,” tandasnya. 

Setelah dua tahun mengabdi di Lamongan, dr. Heru dipindah tugaskan ke Puskesmas Rangkah, Surabaya tahun 1984. Menginisiasi Jamban Kelompok ditengah permukiman yang sempit dan berjubel, dr. Heru berhasil dinobatkan sebagai Dokter Puskesmas Teladan tahun 1986. Dibantu oleh UNICEF dan warga sekitar, ia berhasil membangun jamban untuk masyarakat supaya dapat hidup sehat. 

“Sebagai kepala puskesmas mempunyai kewajiban untuk melakukan promosi prevensi bidang kesehatan, nah salah satunya puskesmas rangkah kita inisiasi bersama masyarakat membangun jamban kelompok di beberapa tempat, yang terbanyak di Kelurahan Gading,” jelasnya. 

Sebagai dokter Puskesmas teladan, dr. Heru mendapatkan 3 privilege yakni percepatan kenaikan pangkat 1,5 tahun; prioritas menjadi petugas kesehatan haji; dan prioritas melanjutkan studi. Untuk melanjutkan studi, ia mendapatkan sponsor dari SEAMEO yang memberikan bantuan biaya hidup dan biaya kuliah. Dan akhirnya, iadapat melanjutkan studi S2 di College of Public Health, University of the Philippines – Manila (1988). 

“Meskipun saya memilih studi Public Health, saya sering diminta teman yang sedang memilih studi Hospital Administration untuk membantu tugas mereka, sehingga secara tidak langsung saya mendapat ilmu administrasi rumah sakit. Dan ilmu itu sangat bermanfaat bagi saya di kemudian hari,” kata dr. Heru. 

Lulus tahun 1989, kemudian ia melanjutkan karir di Kanwil Jawa Timur. Tahun 1990-1993 ia menempati dua posisi yakni seksi rujukan dan seksi puskesmas. Setelah itu, ia ditugaskan untuk menjadi kepala seksi penunjang medis di RS Haji hingga tahun 1997 akhir. Kemudian, ia diangkat menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bangkalan. Ditengah kesibukannya, ia juga merangkap sebagai Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan yang sedang melaksanakan studi. 

“Yang menarik ketika saya di RSUD Kabupaten Bangkalan itu adalah mulai didengungkannya pengelolaan rumah sakit daerah dalam pengelolaan swadana,” paparnya. 

“Dari situ saya banyak belajar tentang bagaimana akuntansi rumah sakit karena swadana. Sampai dengan otonomi daerah, dan kemudian saya pensiun,” tambahnya. 

Ditempatkan di Pedalaman Setelah Lulus Kuliah 

Waktu itu, tahun 1980 dengan usia 26 tahun, dr. Heru menyandang status Kepala Puskesmas di Bluluk, Lamongan. Memimpin orang- orang yang sudah berusia dan tentu memiliki budaya sendiri menjadi tantangan bagi dr. Heru. Disamping harus memimpin, ia juga harus berfungsi sebagai dokter karena disana adalah dokter pertama. Namun, dengan bekal pengalaman semasa kuliah di UNAIR ia berhasil melewati tantangan ketika menjadi seorang pemimpin. 

“Dengan bekal pengalaman itu maka alhamdulillah saya bisa merangkul mereka. Jadi kalau mau mengubah perilaku masyarakat kita harus masuk dulu dan mencair bersama masyarakat,” ujarnya. 

Menjadi Ketua Umum ARSADA 

Berawal dari hubungan antar rumah sakit di berbagai tingkatan yang seakan putus karena terbentuknya Otonomi Daerah tahun 1999, maka dibentuklah sebuah forum komunikasi direktur rumah sakit daerah. Ketika itu 2003 terbentuklah ARSADA. dr. Heru kemudian terpilih menjadi ketua ARSADA Jawa Timur selama 2 periode, kemudian lanjut menjadi Sekjen ARSADA, dan akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum ARSADA Nasional selama 2 periode hingga tahun 2024. Selain itu, dr. Heru juga pernah meraih Satya Lencana Kebaktian Sosial tahun 2015 dari Presiden Republik Indonesia. 

Tak luput pesan ia sampaikan, kepada mahasiswa ia menekankan bahwa Dokter merupakan sebuah profesi yang luhur menghormati manusia sejak dalam kandungan. Kendati kedokteran merupakan ilmu mengobati orang,upaya kesehatan secara terpadu tidak bisa dilupakan begitu saja. Artinya upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif harus menjadi kesatuan. Kemudian, ia juga berharap UNAIR untuk mempererat hubungan alumni, karena sejatinya kekuatan alumni berada di luar kampus karena mereka ada dimana- mana.

Riwayat Pekerjaan

  • Ketua Umum

    Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA)

  • PLH Kepala Dinas

    Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan

  • RSUD Kabupaten Bangkalan

  • Kepala Seksi Penunjang

    Rumah Sakit Daerah Haji Provinsi Jawa Timur

Riwayat Pendidikan

  • S2 College of Public Health

    University of the Philippines

  • S1 Kedokteran

    Universitas Airlangga

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga