Perjalanan Karir, Berkutat dengan Kesehatan Ibu
Bidang kerjasama luar negeri memang belum lama ditempati Dr. Imran Pambudi, MpHM. Baru September 2016 lalu dia diminta untuk menangani kerjasama multilateral di biro tersebut. Sebelumnya, dia cukup lama berkecimpung di bidang kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu. Dia menangani tiga fase utama seorang ibu, yakni kehamilan, kelahiran, dan nifas.
Secara khusus, dia melakukan analisis terhadap berbagai kasus komplikasi yang terjadi selama tiga fase itu beserta penanganannya. Juga, melakukan audit terhadap kasus-kasus kematian ibu hamil dan ibu melahirkan. Audit itu diperlukan sebagai langkah antisipasi agar kejadian yang sama tidak terulang di masa mendatang.
Meskipun demikian, bekerja sama dengan pihak di luar negeri sebenarnya bukan hal baru bagi Imran. Pada 2012, dia mengikuti sidang World Health ke-19 di Jenewa, Swiss. Dia mewakili Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan.
Sedangkan dalam bidang tugasnya kali ini, dia banyak bekerja sama dengan badan-badan kesehatan dunia, seperti WHO, UNICEF, termasuk juga OKI hingga Global Fund. Pada pertengahan Oktober 2016 lalu, dia mewakili Kemenkes di kegiatan Global Health Security Agenda (GHSA) di Belanda.
Imran menuturkan, pengalamannya memang lebih banyak dihabiskan di bidang kesehatan ibu, yakni sejak 2005. Selama itu, dia dan timnya mengupayakan adanya peningkatan kualitas layanan terhadap ibu hamil dan melahirkan secara nasional.
Persoalan kesehatan sebenarnya mencakup dua hal, yakni cakupan dan kualitas. Dalam hal kesehatan ibu, cakupannya sudah cukup besar, lebih dari 80 persen secara nasional. Namun, ketika cakupannya sudah merata, masih banyak terjadi kasus kematian ibu, yakni 306 dari 1.000 kelahiran.
Rupanya, persoalan ada pada kualitas layanan. Dalam sebuah studi, pihaknya membuat skoring dan mendapati skor rata-rata kualitas layanan ada di angka 60–70. Yang membuat miris adalah kesenjangan kualitas antara satu tempat dengan tempat lain. Paling rendah 15 dan paling tinggi 90. Itulah yang terus diupayakan perbaikan oleh dia dan timnya.
Kesenjangan kualitas harus dipangkas dengan cara meningkatkan kualitas fasilitas kesehatan yang nilainya rendah. Dia dan timnya mengupayakan agar fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia mampu dan patuh pada standar kualitas layanan yang telah ditetapkan.
Pernah Bertugas di Sampang
Sebelum di Kemenkes, Imran yang lulus dari Fakultas Kedokteran Unair pada 1998 mendapat tugas sebagai dokter PTT di Sampang. Dia menjadi Kepala Puskesmas Jrengoan selama sekitar dua tahun. Kemudian, menjadi Kepala Puskesmas di Tanjung hingga 2002.
Kala Imran bertugas, kerusuhan etnis pecah di Sampit pada 2001. Banyak transmigran asal Pulau Garam yang menjadi korban, baik meninggal maupun luka. Dia dipercaya menjadi ketua bidang kesehatan dalam penanganan korban kerusuhan Sampit.
Ketika kerusuhan pecah, Sampang jadi sorotan. Banyak bantuan maupun perhatian dari berbagai pihak, termasuk luar negeri. Kala itu, sangat sedikit yang mampu berbahasa Inggris. Alhasil, Imran pun mendapat peran tambahan sebagai penerjemah bagi para relawan asal luar negeri.
Menurut ayah dua anak itu, menjadi PTT di daerah yang kala itu relatif minim prasarana membuat dia menjadi lebih mampu memahami kondisi masyarakat. Justru, di daerah yang kesusahan seperti itu, perbaikan sedikit saja akan langsung terasa di masyarakat. Bagi para dokter PTT, bertugas di daerah-daerah terpencil malah akan membuat mereka semakin berkembang.
Saat kuliah, Imran cukup aktif berorganisasi. Dia bergabung di Senat Fakultas Kedokteran dan kelompok pecinta lingkungan. Sebelum kuliah pun, ada satu hal yang membuat Imran geli ketika mengingat aktivitas di kampusnya. Dia lulus lebih lambat tiga bulan dari kawan-kawannya karena satu mata kuliah, yakni obgyn, dan harus mengulang selama tiga bulan.
Bagaimana tidak, dia pernah tidak lulus mata kuliah obgyn, tetapi di Kemenkes ditugasi mengurus kesehatan ibu dan anak.
Sebenarnya, mengulang itu bukan karena tidak mampu. Ada juga faktor lain yang berpengaruh, misalnya penguji. Bila kebetulan mendapatkan penguji yang susah memberi nilai baik, maka bisa dipastikan lulus merupakan hal yang tidak mudah. Meskipun demikian, itu ada hikmahnya. Dengan tidak lulus satu mata kuliah, Imran berkesempatan mempelajari lebih dalam bidang ilmu tersebut.
Jaringan Alumni Unair Tidak Kuat
Mengenai almamaternya, Imran menyayangkan ikatan yang terjalin antarsesama alumni maupun dengan universitas kurang kuat. Kemudian, alumni Unair tidak banyak berkiprah di lingkungan kekuasaan. Pada era awal dia masuk ke pemerintahan, khususnya di Kemenkes, Unair begitu mendominasi. Namun, setelah itu tidak ada regenerasi.
Untuk itu, dia menyarankan agar Unair membuat event Career Day secara rutin, minimal dua kali setahun. Dalam acara tersebut, para alumni yang sukses dalam berbagai profesi dihadirkan untuk memberi wawasan kepada mahasiswa.
Misalnya, di Fakultas Kedokteran, mahasiswa diberi wawasan bahwa profesi dokter juga bisa menjadi bagian dari pemerintahan.
Dia menambahkan, ke depan Unair harus lebih jeli menangkap peluang. Harus disadari, Unair berada cukup jauh dari lingkaran kekuasaan. Sehingga, butuh effort lebih besar untuk memperkenalkan kampus ini agar dipercaya pemerintah.