Aktivis Sosial Jadi Staf Khusus Presiden
Ayu Kartika Dewi atau Ayu, begitulah sapaan akrabnya, merupakan salah satu alumni Universitas Airlangga (UNAIR) tahun 2005 dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang kini
ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjadi bagian dari Staf Khusus Milenial pada tahun 2019. Selepas lulus dari UNAIR, Ayu bekerja di dunia usaha yakni Procter & Gamble (P&G) selama 5 tahun untuk mengejar finansialnya. Setelah dua tahun di Jakarta, posisi Manager Consumer Insight di P&G telah membawanya hingga ke luar negeri yakni Singapura untuk mengelola pasar ASEAN dan India. Kendati demikian, dalam perjalanan karirnya, Ayu juga menerima kesempatan untuk menjadi guru sekolah dasar di pelosok Indonesia, melalui program Indonesia Mengajar. Sehingga, Ayu mengundurkan diri dari posisinya di P&G, meninggalkan dunia usaha, dan kemudian berkelana di sektor sosial.
Sejak kecil Ayu sering berpindah tempat tinggal mengikuti ayahnya yang harus berdinas di daerah lain, membuatnya terbiasa berada di lingkungan masyarakat yang beragam. Namun saat bertugas menjadi guru sekolah dasar selama setahun (2010-2011) di Desa Papaloang, Halmahera Selatan, Maluku Utara, ia tersentak dengan kenyataan soal intoleransi dan konflik dalam masyarakat di negara ini. Setelah setahun di UKP4, Ayu berangkat ke Amerika Serikat dengan dua beasiswa, Fulbright Scholarship dan Keller Scholarship. Ayu belajar di jurusan MBA (Master of Business Administration) di Duke University.
Setelah pulang, Ayu ditawari untuk bergabung di BCG (sebuah perusahaan consulting), namun saat itu Ayu memilih untuk menjadi staf dari Gubernur DKI Jakarta, ketika itu Basuki Tjahaja Purnama. Setelah dua tahun bekerja di Balai Kota DKI Jakarta, Ayu ditawari bergabung di Google, namun ia pun memilih untuk bekerja di Indika Foundation, hingga saat ini.
“Saya tidak tahu siapa yang merekomendasikan saya kepada Presiden sehingga Beliau bisa memilih saya menjadi salah satu Staf Khusus,” ungkap Ayu ketika menceritakan perjalanan karirnya.
“Seperti halnya proses seleksi di perusahaan atau di organisasi lain, wajar kalau ada yang merekomendasikan atas dasar kinerja baik dan kepercayaan,” tambahnya.
Keinginan Ayu untuk mengajar selalu mendorongnya dalam memulai dan memimpin berbagai inisiatif gerakan dan organisasi. Seperti, Sabang Merauke, Perempuan Gagal, Milenial Islami, dan Toleransi. id. Ayu membangun inisiatif tersebut dengan tujuan bersama yakni menumbuhkan toleransi di tengah masyarakat. Meskipun Indonesia tersebar dalam berbagai bahasa, agama, dan etnis yang berbeda, Ayu berharap dapat menanamkan benih toleransi dengan mendidik pikiran muda Negara Indonesia.
“Tujuan hidup saya adalah untuk memberikan dampak dengan cara membantu manusia lain menjadi manusia seutuhnya. Kesempatan- kesempatan yang ada saat ini adalah kesempatan yang memberikan saya ruang untuk melakukan hal ini,” ujarnya.
Bergelut dalam hal toleransi dimulai ketika Ayu mengajar dan tinggal di Ambon. Dimana kerusuhan besar terjadi pada tahun 1999 di daerah itu. Meski kerusuhan telah terjadi sejak lama, murid-murid Ayu masih merasakan dampak hingga 11 tahun kemudian. Orang- orang dari kelompok yang berbeda masih saling membenci, sehingga ia merasa lingkungannya tidak sehat. Dari hal itu, Ayu memutuskan untuk membuka ruang dimana siswa dapat saling menukar perspektif, sehingga memungkinkan siswa dengan keyakinan agama yang berbeda dapat belajar untuk berkomunikasi satu sama lain. Pada 2012, Ayu mendirikan Sabang Merauke yang merupakan akronim dari ‘Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali’. Sebuah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia, untuk menanamkan nilai toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesiaan.
Tidak berhenti berjuang untuk masyarakat, Ayu kemudian melanjutkan karirnya dengan menjadi Staf Khusus Milenial Presiden RI tahun 2019. Menjadi teman diskusi Presiden dan jembatan ke anak- anak muda merupakan tugas utama yang ia emban.
“Untuk bisa jadi teman diskusi yang mumpuni dan substantif, kami harus banyak menganalisis permasalahan, belajar tentang ilmunya, ngobrol dengan berbagai orang, dan menyintesiskan rekomendasi yang inovatif,” terangnya.
Di sela kesibukan menjadi Stafsus Presiden, Ayu juga bekerja di Indika Foundation sebagai Managing Director. Di dalam Indika Foundation, Ayu beserta timnya mendirikan platform Toleransi. id. Indika Foundation bergerak dalam bidang konseling character building dan pendidikan perdamaian. Target umur dalam Toleransi.id sangat bermacam-macam, kegiatannya seperti membuat buku cerita untuk anak-anak dan buku dongeng. Hal itu ditujukan bagi anak- anak PAUD sampai SD kelas 1, 2, 3. Kemudian masih di dalam payung Toleransi.id, Indika Foundation juga membantu berbagai organisasi yang bergerak di bidang perdamaian, misalnya Sabang Merauke.
Bercerita tentang masa kuliah di UNAIR, Ayu mengaku bahwa tekanan akademis yang tidak terlalu tinggi membuatnya dapat mengeksplorasi minat di luar studinya. Berkecimpung di dunia organisasi pada masa kuliah, membuatnya dapat menumbuhkan keterampilan kepemimpinan Ayu. Ayu dulu sangat aktif di organisasi Lembaga Pers Mahasiswa ‘SEKTOR’ dan sempat terlibat di Himpunan Mahasiswa Manajemen. Pada tahun ketiga kuliah, ia terpilih menjadi Pemimpin Umum (Ketua I) di LPM SEKTOR. Prestasi Ayu begitu gemilang di UNAIR, ia merupakan mahasiswa berprestasi FE UNAIR selama dua tahun berturut-turut. Ayu juga lolos mengikuti program pertukaran pelajar SIF (Singapore International Foundation) pada tahun 2014 untuk belajar di SMU (Singapore Management University) selama 1 semester.
“Pembelajaran terbesar saya adalah pengalaman berorganisasi yang membuat saya belajar banyak tentang kepemimpinan, tentang hubungan dengan manusia lain, dan tentang mengelola project,”
Selain itu, begitu luar biasa prestasi Ayu, ia pernah terpilih mewakili Indonesia di Future Leader Connect 2017 di Inggris. Kemudian, Ayu juga pernah dianugerahi Wardah 10 Inspirational Beauty 2017 untuk pekerjaannya di bidang pendidikan dan MNCTV.