Moderat, Disiplin, dan Walk The Talk dalam Berkarir
Dr. Arief Adi Wibowo, S.Si., M.T (Arief) adalah lulusan S1 Fisika Universitas Airlangga tahun 1999. Selama duduk di bangku S1, Arief dipercaya untuk menjadi asisten dosen di laboratorium Fisika Dasar dan Terapan. Pengalaman yang memberikan Arief kesempatan untuk berbagi ilmu dengan adik tingkat.
Selepas mendapatkan gelar sarjana, Arief memulai karir di Meratus Group sebagai marketing dan operation senior analyst. Posisi yang menuntutnya untuk belajar dan memahami proses bisnis, manajemen, dan keuangan. Posisi tersebut juga menuntut Arief untuk mengelola kegiatan supply chain dan logistik. Atas dasar tuntutan tugas dan semangat meningkatkan kapasitas diri, Arief akhirnya melanjutkan studi magister di S2 Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan S3 Manajemen Strategis di Universitas Indonesia.
“S2 Teknik Industri memiliki banyak irisan yang memudahkan transisi keilmuan di S1 Fisika dengan keilmuan bidang supply chain dan logistik, sementara S3 Manajemen Strategis saya pilih karena tanggung jawab dan otoritas saya di industri dan organisasi banyak pada aspek strategis,” jelas Arief ketika ditanya mengenai keputusan mengambil jurusan yang berbeda di setiap level pendidikan tingginya.
Sukses Berkarir di Industri Media Hingga Jadi Direktur Perusahaan Besar
Karir Arief berawal sebagai management trainee di Meratus Group pada tahun 1999 hingga akhirnya Arief dipercaya untuk menduduki posisi sebagai marketing dan operation senior analyst pada tahun 2000 hingga 2004. Arief kemudian memutuskan untuk merantau ke Jakarta, melanjutkan karirnya sebagai asisten produksi di Trans Tv pada tahun 2004, dan sebagai anggota di tim Research & Creative Development pada tahun 2004-2006.
Karir Arief di industri media berjalan cukup lama, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dan dari satu penugasan ke penugasan yang lain. Selain Trans Tv, Arief juga bekerja di Lativi, TVOne, Swa Media Group, Metro Tv, CNN Indonesia Group dan Transmedia. Mulai dari asisten produksi; manajer research and development; kepala divisi pengembangan; deputi direktur manajemen pengetahuan & pengembangan; hingga chief of business strategic.
Berbagai pengalaman dan posisi di industri media tersebut datang bukan karena Arief yang meminta dengan melamar pekerjaan, melainkan Arief yang diminta oleh perusahaan terkait. Hal tersebut membuktikan bahwa latar belakang pendidikan yang tidak linear dengan pekerjaan bukan menjadi penghalang bagi Arief untuk bersinar dan berkarya.
“Latar pendidikan awal saya lebih berat bobotnya pada bidang sains yang kuat dalam analitikal, sementara pekerjaan saya banyak bersentuhan dengan aspek manajerial termasuk keuangan. Namun saya bersyukur, pondasi yang kuat selama kuliah banyak memberikan kemudahan dalam mempelajari masalah baru dan membantu mengambil keputusan,” terang Arief.
Saat ini, Arief dipercaya menjadi direksi di unit usaha Media Group yang bergerak di bidang investasi dan migas. Media Group sendiri seperti rumah ketiga bagi Arief selain CT Corpora (Transmedia). Arief pertama kali bergabung di Media Group pada tahun 2012, tepatnya di Metro Tv. Selama di Metro Tv, Arief bertugas sebagai Senior Program & Development; Research & Development Manager; Deputy of Chief Content & Knowledge Management dan Lead Political Research & Campaign Strategist.
Pada tahun 2015 Arief keluar dari Metro Tv dan bergabung kembali pada tahun 2020 sebagai Special Assignment Officer dan pada tahun 2020 hingga saat ini menjadi Direktur di PT. Asri Dharma Sejahtera, salah satu perusahaan Media Group yang bergerak di bidang investasi dan migas.
“Media Group seperti keluarga dibandingkan relasi kerja yang kaku. Banyak mentor disana yang memperlakukan kami semua secara egaliter dan berbagi pendapat secara terbuka,” terangnya.
Melawan Zona Nyaman dan Belajar Terus Menerus
Salah satu tantangan yang Arief hadapi salam berkarir di industri media adalah adanya disrupsi yang membuat lingkungan bisnis menjadi lebih dinamis dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Menurutnya, banyak model dan proses bisnis lama yang tidak relevan lagi jika diaplikasikan di zaman ini.
“Saya mengikuti konsep the fifth discipline dari Prof. Peter Senge sebagai salah satu panduan untuk menghadapi tantangan tersebut,” ucap Arief.
Berdasarkan konsep the fifth discipline tersebut, seorang individu harus memiliki share vision, personal mastery, kemampuan belajar-bekerja sebagai tim, mental model yang tepat, dan berpikir komprehensif (system thinking). Konsep tersebut sangat tepat diaplikasikan ketika bekerja di industri media, karena industri tersebut menuntut komitmen untuk belajar terus menerus dan melawan zona nyaman.
Arief mengaku sangat senang bekerja di industri media karena menurutnya industri tersebut memiliki peran strategi bagi bangsa dalam me-leverage informasi dan pengetahuan selain sebagai pilar penguatan kehidupan demokrasi. Melalui industri tersebut, pintu untuk mengembangkan jejaring kerja dan sosial terbuka lebih luas.
“Meski banyak senangnya, juga terdapat duka. Terutama saat harus membuat keputusan sulit menyangkut kehidupan karyawan. Baik suka dan duka, dijalani saja sebagai bentuk khidmat pada kehidupan” terang Arief.
Mengabdikan Diri Sebagai Akademisi
Arief merupakan dosen pengajar di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia. Beberapa mata kuliah yang diampu oleh Arief adalah penelitian komunikasi terapan, manajemen, dan bisnis media.
Pilihan menjadi dosen dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mengamalkan ilmunya. Mengembalikan lagi banyak nikmat yang telah dia dapat dari bangku perkuliahan.
Menurut Arief, dunia akademisi dan praktisi berbeda namun saling melengkapi. Praktisi hidup dan bertahan dalam solusi keseharian, dalam realitas industri. Dosen memotret realita tersebut dalam formulasi problem penelitian, menerjemahkannya dalam model dan konstruk penelitian agar dapat berkontribusi bagi keilmuan dan implikasi praktis.
Kesibukan sebagai akademisi dan praktisi menuntut Arief agar dapat mengatur waktu dengan baik. Salah satu strategi Arief adalah dengan menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Kemudian membuat daftar skala prioritas terkait pekerjaan mana yang harus dilakukan, dan mana yang dapat ditunda. Terakhir adalah komitmen untuk eksekusi semua agenda yang telah disusun.
Moderat, Disiplin, dan Selalu Walk The Talk
Tiga kunci kesuksesan Arief dalam berkarir adalah moderat, disiplin, dan selalu walk the talk. Moderat banyak diaplikasikan ketika Arief terlibat dalam situasi dimana terdapat pro-kontra antar anggota dan keharusan untuk mengambil keputusan.
“Orang yang moderat tidak terjebak emosi namun fokus pada tujuan. Tidak mengambil “hati” atau baper jika ada opini dan pandangan kita yang dikoreksi oleh orang lain,” terang Arief.
Kemudian adalah nilai disiplin. Disiplin dalam hal ini adalah disiplin metodologi atau prosedur. Yaitu ketika setiap langkah kita harus terukur dan bisa divalidasi oleh orang lain.
Terakhir adalah selalu walk the talk. Artinya ketika kita sudah sepakat melakukan sesuatu, maka tindakan kita juga harus sesuai dengan kesepakatan yang telah kita setujui di awal.
Arief berharap dalam lima tahun kedepan, dia bisa memberi porsi orientasi yang lebih besar untuk membangun rintisan perusahaannya sendiri. Kepada Universitas Airlangga, Arief berharap agar antar civitas dapat saling terkoneksi untuk membangun kemanfaatan yang lebih luas. Arief juga berharap agar proses penempaan para ksatria Airlangga di kampus selalu relevan dengan perkembangan zaman, memiliki kemampuan konsepsi dan pemahaman realitas industri lebih baik, sehingga diharapkan dapat membuat masa tunggu bekerja semakin pendek.