Bersyukur dan Berserah Diri Pada Tuhan Jadi Kunci Konsistensi Berbisnis
M. Fairuzzuddin Zuhair, S.Mat (Fairuz) merupakan alumni S1 Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga (UNAIR) tahun 2019. Selama menjalani studi S1, Fairuz aktif di berbagai kegiatan akademik maupun non akademik.
Pada tahun 2015, Fairuz aktif sebagai staf PSDM HIMATIKA UNAIR. Pada tahun 2016, Fairuz aktif sebagai ketua Bursa Eksakta (BETA) di fakultas. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang kewirausahaan. Pada tahun 2017, Fairuz dipercaya untuk menjadi ketua panitia AMERTA. Salah satu event kepanitiaan terbesar di UNAIR yang bertujuan untuk menyambut mahasiswa baru. Puncaknya, Fairuz mendapatkan amanah untuk menjadi wakil ketua BEM UNAIR tahun 2018.
Pada bidang akademik, Fairuz juga aktif meraih berbagai kejuaraan di tingkat lokal dan nasional. Salah satu capaian terbesarnya adalah meraih medali perunggu pada ajang PIMNAS 2019 sekaligus menjadi wisudawan berprestasi 2019.
Membantu Orang Lain Mendapatkan Angka Cukupnya
Ketertarikan Fairuz di dunia wirausaha telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, Fairuz seringkali membantu orang tua berjualan perhiasan emas di pasar sepanjang, sidoarjo. Aktivitas berdagang Fairuz lanjutkan ketika SMA dengan berjualan minuman Milkshake di kantin sekolah. Kemudian, Fairuz bergabung di organisasi BETA pada tahun 2016, salah satu badan semi otonom di FST yang mengolah sebuah stan dagang di kantin fakultas. Pengalaman jual-beli dan menghadapi customer tersebut yang akhirnya membentuk jiwa entrepreneurship di dalam diri Fairuz yang kemudian memantapkan hatinya untuk konsisten di bidang tersebut.
“Sebetulnya memang sudah menjadi idealisme sejak awal perkuliahan dimana saya berharap bisa membuka lowongan pekerjaan untuk banyak orang, membantu orang lain mendapatkan angka cukupnya,” jelas Fairuz.
Bersyukur dan Berserah Diri pada Tuhan
Fairuz meyakini bahwa rezeki setiap orang telah tertakar dan terukur. Maka yang perlu dilakukan adalah berusaha dan berserah diri pada Tuhan. Dua hal tersebut menjadi kunci dalam konsistensi Fairuz dalam menjalankan bisnisnya. Kunci yang membuatnya bisa bertahan meski telah mengalami berbagai kegagalan.
Salah satu kegagalan yang pernah dilalui Fairuz adalah ketika perusahaannya mengalami kerugian dan tidak memiliki cukup dana untuk menggaji 50 pegawai pada usaha pencucian sarang walet miliknya. Terpaksa, 50 pegawai yang mayoritas adalah kepala rumah tangga harus Fairuz pulangkan. Di awal berbisnis, tidak jarang Fairuz harus menelan rasa pahit dikhianati. Ditipu oleh rekan bisnis dan atau customer-nya. Belum lagi ketika produk yang dia jual dikritik, kualitasnya tidak disukai.
Meski begitu, Fairuz bersyukur karena Tuhan memberinya kesempatan dan amanah untuk menggaji 50 orang.
“Setiap bulan, uang harus ada sekitar seratus juta rupiah agar bisa menutup operasional. Hal tersebut cukup menguras pikiran namun juga memberikan semangat karena bisa membuka lapangan pekerjaan,” terangnya.
Faktor berserah diri pada Tuhan, mendekatkan diri pada Tuhan, juga seringkali membawa Fairuz pada pengalaman-pengalaman luar biasa. Pengalaman yang menguatkan keyakinannya pada Tuhan dan konsistensinya untuk berbisnis.
Beberapa hal yang membekas di hati Fairuz adalah pada tahun 2019, saat duduk di semester akhir, ketika berhasil kerjasama dengan pembeli china langsung dengan nilai transaksi hingga 1 milyar. Kemudian pada tahun 2020, ketika bisnisnya berada di bawah, setelah tertipu konsumen, Fairuz memenangkan lomba dan mendapatkan hibah sebesar tiga ratus juta rupiah. Pada tahun 2022, Fairuz mendapatkan dukungan dari angel investor sebanyak satu setengah miliar rupiah dan pada tahun 2023 kembali mendapatkan hibah sebesar tiga ratus juta rupiah. Hingga mendapatkan project besar, dimana keuntungan sekali project bisa menggaji seluruh pegawai selama dua bulan.
“Momentum ketika kita mendapatkan hibah, dukungan dana, dan project besar itu pas sekali ketika kita sedang butuh, posisi terbawah kita, dan datang tiba-tiba tanpa disangka. Akhirnya kita anggap sebagai kejutan,” ucap Fairuz.
Tidak Membatasi Diri
Pengalaman-pengalaman kejutan tersebut selain menguatkan keyakinan dan konsistensi, juga meningkatkan semangat Fairuz untuk terus membesarkan bisnisnya. Fairuz bersama tim tidak melewatkan berbagai peluang. Beberapa perlombaan bisnis telah mereka menangkan. Diantaranya adalah Lomba Start Up Inovasi PPBT RISTEK DIKTI 2020, Nusantara Festival 2022, dan LPDP Business Competition – Business Growth Plan 2023.
“Terkadang yang memotivasi kita adalah keyakinan bahwa sebenarnya rezeki kita sudah tertakar dan terukur, tidak perlu khawatir. Penting kita tetap berusaha, jangan sampai membatasi kemampuan kita,” ujarnya.
Membuka Kesempatan Bekerja dan Belajar
Fairuz berharap bisnisnya bisa terus berkembang dan memberikan kebermanfaatan. Selain berupaya agar bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, Fairuz juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa yang tertarik pada dunia bisnis dengan menerima mahasiswa magang melalui program MSIB.
Para mahasiswa yang mengikuti magang di perusahaannya akan mendapatkan insentif setiap bulannya sehingga bisa menambah uang saku. Selain itu, mereka juga berkesempatan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman. Fairuz dan tim juga semangat untuk membantu para mahasiswa yang ingin memulai atau mengembangkan bisnis.
“Saat ini sedikit teman mahasiswa yang konsisten ketika menjalankan bisnis, jadi ketika ada yang bersungguh-sungguh dan konsisten, kami merasa senang, merasa ditemani,” jelasnya.
Peran Mentor dan Lingkungan yang Positif
Kepada para mahasiswa dan alumni yang berkomitmen untuk konsisten berbisnis, Fairuz menyarankan agar memiliki mentor dan tergabung di lingkungan yang positif. Bisa jadi seseorang memiliki lebih dari satu mentor. Seperti mentor di bidang digital marketing berbeda dengan mentor di bidang pemasaran konvensional.
“Ketika sudah ketemu mentor, jangan hanya berharap mendapatkan sesuatu namun juga berikan umpan balik non materiil, yang teman-teman bisa bantu,” ucap Fairuz memberikan tips.
Fairuz meyakini bahwa kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki fibrasi sama. Begitu pula dengan mentor. Meski begitu, Fairuz tetap merekomendasikan agar mencari mentor di lingkungan yang spiritualitasnya baik dan sebagian besar bisa kita temui di masjid atau lembaga sosial keislaman.
“Ketika menjadi mentor, biasanya individu yang tergabung dalam lingkungan dengan spiritualitas yang baik tidak mengukur dari uang yang bisa kita bayarkan, namun mereka secara ikhlas membantu,” upanya.
Fairuz berharap para mahasiswa tidak berhenti berusaha agar bisnisnya berkembang. Menurutnya, usia 20 hingga 30 tahun adalah masa belajar. Habiskan jatah gagal di usia tersebut karena tubuh masih memiliki kekuatan untuk bangkit. Berbeda jika memulai bisnis di usia 40 tahun ke atas, akan sangat berat karena banyak yang harus dipikirkan terutama keluarga.
“Nilai kegagalan dalam proses sebagai investasi otak, fase kita belajar menjumpai masalah dan menyelesaikannya,” pungkas Fairuz.