Kohar Hari Santoso, Dr., Sp.an

Getol Edukasi Ruang Laktasi Sampai ke Mal

Di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur terdapat satu ruangan yang – pada waktu-waktu tertentu – tak boleh dimasuki pria. Itulah ruang laktasi. Ruang itu khusus untuk pegawai perempuan atau tamu Dinkes yang ingin menyusui bayinya.

Ruang laktasi yang nyaman dan bersih itu juga bisa dipakai ibu-ibu untuk memompa dan menyimpan ASI-nya. Sebab, ruang laktasi tersebut dilengkapi lemari pendingin dan freezer.

Kepala Dinkes Jatim, Dr. Kohar Hari Santoso, dr., Sp.An, KIC, KAP, memang getol mengampanyekan penggunaan ASI kepada bayi sampai usia dua tahun. Alasannya, pada usia dua tahun itu otak bayi mulai terbentuk sehingga gizi harus terpenuhi.

Untuk mendukung kampanye itu, Dinkes telah membangun 394 ruang laktasi dan membentuk 1.899 kader Kelompok Pendukung (KP) ASI di Jatim. Diharapkan pembangunan ruang laktasi diikuti oleh kantor-kantor lain, baik kantor pemerintah maupun swasta. Beberapa mal di Surabaya bahkan sudah dilengkapi ruang laktasi.

Bekerja Ikhlas dan Fokus

Tugas Dr. Kohar memang mengedukasi kesehatan masyarakat. Filosofinya adalah bekerja dengan ikhlas dan fokus. Amanah itu dia jalani dengan ikhlas. Bapak tiga anak itu bersyukur mendapat kesempatan melakukan tugas kemasyarakatan.

Sebagaimana umumnya dokter baru, Dr. Kohar juga menjadi dokter Inpres (Instruksi Presiden). Hanya, dia mengaku tak berani ke luar Jawa sehingga ditempatkan di RS Dr. Subandi, Jember. Artinya, Dr. Kohar rela mengabdi selama lima tahun sebelum diizinkan melanjutkan pendidikan dokter spesialis.

Setelah enam bulan bertugas sebagai dokter umum di UGD RS itu, dia ditarik menjadi Kasubag Penyusunan Program dan Pelaporan. Di sini dia banyak belajar tentang manajemen rumah sakit. Selama bertugas di Jember, Dr. Kohar tinggal di asrama rumah sakit bersama pegawai lain. Ada perawat, tenaga administrasi, dan lain-lain.

Setelah lima tahun di RS Subandi, pada 1993 anak polisi itu melanjutkan program spesialis anestesi. Menjelang lulus, dia ditanya oleh Prof. Karyadi, Direktur RSUD Dr. Soetomo waktu itu, apakah mau menjadi stafnya?

Dia tak berani membantah. Dr. Kohar pun mendapat surat rekomendasi dari profesor itu untuk dibawa ke Departemen Kesehatan (sekarang Kemenkes). Dia pikir surat sakti Prof. Karyadi akan merekomendasikannya ke tempat yang nyaman di RSUD Dr. Soetomo. Ternyata, dia dikirim ke Irian Jaya selama satu tahun. Dia dinas di RS Dok 2, Jayapura. Di seluruh Pulau Irian, waktu itu 1999, hanya ada dua dokter anestesi. Dia dan dokter Freeport.

Sepulang dari Irian, Dr. Kohar menjadi staf medis di RSUD Dr. Soetomo. Dia mengajar di Departemen Anestesiologi dan Reanimasi, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo. Di sinilah pria yang mengambil program S-3 bidang biomolekuler itu mendapatkan kepuasan batin. Dia sangat suka mengajar. Alasannya, ilmu yang bermanfaat dibawa sampai mati.

Seiring berjalannya waktu, karir Dr. Kohar pun berlanjut. Pada 2008 dia diangkat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medik RSUD Dr. Soetomo, kemudian Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Dr. Soetomo (2011). Pada November 2015 dia diangkat sebagai Direktur RSUD Dr. Soedono, Madiun. Tak lama kemudian, tepatnya pada Juli 2016, Dr. Kohar diangkat menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim.

Menjaga Kerukunan Alumni Unair

Sebagai alumnus Unair, Dr. Kohar sangat mendukung target mencapai 500 universitas top dunia. Dia melihat Unair sudah berjalan ke arah sana. Namun, tetap ada yang perlu diperbaiki. Misalnya, menjalin kerukunan antarsesama alumni dan antarcivitas akademika.

Kualitas civitas akademika juga harus lebih ditingkatkan. Alumni juga diberdayakan dalam memberikan masukan. Selain itu, lulusan harus siap pakai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (*)

Riwayat Pekerjaan

  • Kepala

    Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

    2016

  • Direktur

    RSUD Dr. Soedono

    2015

  • Wakil Direktur

    RSUD Dr. Soetomo

    2011

  • Kepala Bidang

    RSUD Dr. Soetomo

    2008

Riwayat Pendidikan

  • Biomolekuler (Doktor)

  • Spesialis Anestesi (Spesialis)

    Universitas Airlangga

    1993 - 1999

  • Kedokteran (Sarjana)

    Universitas Airlangga

    1980 - 1987

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga