Akademisi yang Penuh Dedikasi
“Ketika pendidikan berkualitas maka individu yang dihasilkan juga berkualitas. Bagaimana individu berkualitas, maka gurunya harus berkualitas juga”
Menjadi seorang pendidik adalah tanggung jawab besar yang tak mudah. Hanya orang-orang pilihan yang bisa menjalani peran tersebut dengan sepenuh hati. Syunu Trihantoyo, salah satunya. Ia adalah alumnus program Doktoral Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas Airlangga (UNAIR).
Syunu, sapaan akrabnya, kini menjabat sebagai Koordinator Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Jabatan itu ia emban pada tahun 2023 lalu dan akan ia jalankan hingga 2027 mendatang. Ini adalah periode kedua Syunu menjabat sebagai koordinator program studi. Selain mendapatkan amanah untuk menahkodasi program studi Manajemen Pendidikan UNESA, Syunu tentunya juga bertanggung jawab menjadi seorang pendidik atau dosen.
Syunu bercerita, menjadi seorang pendidik memang merupakan passion-nya sejak dulu. Menyadari itu, Syunu memilih berkuliah di bidang Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM). Selain sebab passion, Syunu berpikir bahwa pendidikan adalah kunci dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, ia sejak awal telah tertarik pada dunia pendidikan dengan fokus pada bidang manajemen.
Ingin meningkatkan kualitas diri sekaligus memperdalam ketertarikannya pada manajemen pendidikan, selepas lulus sarjana, ia lalu melanjutkan pendidikan jenjang magister pada bidang dan tempat yang sama. Yakni S2 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang. Bak gayung bersambut, lulusnya Syunu dari program Magister Manajemen Pendidikan dibarengi dengan pembukaan penerimaan dosen tetap di UNESA. Enggan membuang kesempatan, ia pun mendaftarkan diri dan diterima sebagai dosen di sana.
Syunu mulai karier sebagai dosen pada tahun 2014, tepat setelah ia lulus program magister. “Jadi, mendidik itu adalah passion saya begitu, ya. Jadi kalau menjadi dosen sebenarnya garis tangan. Tapi kan mendidik itu prinsipnya mau guru atau dosen, ketika diberi tanggung jawab, bagi saya ini kesempatan sangat baik dan mulia sehingga bisa sharing ilmu yang kita miliki ke mahasiswa,” tutur Syunu.
Penuh Dedikasi
Dedikasi Syunu pada dunia pendidikan terus bertumbuh seiring waktu. Sejalan dengan pendidikan dan pengetahuan yang ia peroleh, Syunu ingin memberikan kontribusi lebih lagi bagi sistem pendidikan di Indonesia.
“Saya ingin mengubah paradigma bahwa pendidikan itu perlu SDM, terutama terkait cara pengajaran, penguasaan materi, kemudian kompetensi yang diharapkan tumbuh pada diri kita. Itu harus diubah dulu melalui pengembangan SDM. Dan itu juga jadi alasan mengapa saya ambil pendidikan lanjut di PSDM,” tuturnya.
Selain paradigma, dalam pendidikan Syunu juga menyoroti bahwa metode pembelajaran pada abad ke-21 terus mengalami perubahan dan perkembangan. Skill atau kemampuan, menjadi hal wajib yang dimiliki oleh setiap individu.
“Salah satu untuk menumbuhkan kompetensi wajib yang terprogram terstruktur terukur itu melalui pendidikan. Nah, masalahnya adalah paradigma dalam belajar untuk perlu terinternalisasi pada individu, sehingga mereka mampu berkolaborasi, interaksi, berpikir kritis, mampu memecahkan masalah,” jelasnya.
Selaras dengan keinginannya berkontribusi pada kemajuan pendidikan, ia juga turut melakukan pengabdian secara langsung pada masyarakat. Syunu bercerita, dirinya pernah terjun langsung pada salah satu daerah di Jawa Timur untuk melangsungkan pengabdian. Di sana, ia menemukan fakta bahwa tidak semua sekolah memiliki kualitas dan kondisi yang sama.
“Pernah satu kali mengadakan pengmas (pengabdian masyarakat, red) di sekolah-sekolah swasta salah satu daerah di Jawa Timur. Di situ saya sangat tersentuh dengan respons peserta (guru-guru SMA, red). Mereka bercerita bahwa untuk mendapatkan siswa itu sulit bagi mereka sehingga kami memberikan strategi khusus sehingga sekolah mereka juga memiliki competitiveness yang bagus, yakni pengembangan kapasitas organisasi,” tandas Syunu.
Temuan-temuan di lapangan sepanjang perjalannya sebagai akademisi manajemen pendidikan membuatnya semakin ingin meningkatkan kapasitas dan pengetahuan. Khususnya di bidang pengembangan sumber daya manusia. Syunu menuturkan, sumber daya manusia adalah kunci bagi kemajuan sebuah bangsa. “Jadi SDM adalah kunci keberhasilan pendidikan. Kalau ingin berhasil SDM-nya harus unggul dulu. Jadi, ketika pendidikan berkualitas maka individu yang dihasilkan juga berkualitas. Bagaimana individu berkualitas, maka pendidiknya harus berkualitas juga,” terangnya.
“Saya melihat bahwa pendidikan adalah human capital, ya, modal manusia. Sehingga dengan pendidikan yang lebih tinggi, maka probabilitas atau kesempatan untuk sukses juga semakin tinggi,” imbuhnya.
Selaras dengan itu, pada tahun 2021 ia melanjutkan pendidikan S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Sekolah Pascasarjana UNAIR. Di UNAIR, Syunu benar-benar membuktikan kesungguhannya untuk menempa dan meningkatkan kualitas dirinya. Untuk itu, ia bersungguh-sungguh dalam menjalani keputusan yang ia tempuh, yakni melanjutkan S3 di UNAIR. Terbukti, ia berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) mendekati sempurna.
“Sebagai seorang akademisi, melanjutkan pendidikan tertinggi menjadi satu introspeksi sebab seorang akademisi berkewajiban mengemban ilmu. Ilmu saya dapatkan selama di UNAIR tentu itu menjadi bekal sangat luar biasa bagus sehingga kesempatan ini bisa saya optimalkan untuk mengembangkan ilmu di bidang pengembangan SDM konteks pendidikan, ya,” tegasnya pada akhir.