Mardatillah

Dedikasi Sang Akademisi

“Syukuri, nikmati, dan jalani. Jangan menyerah!”

Hidup adalah sebuah misteri. Tak ada seorang pun yang mengetahui kelak apa yang terjadi di masa depan. Begitu pula dengan perjalanan karier Dr. Mardatillah, S.Psi., M.Si., MSI., CIQnR., CIQaR. Perempuan yang akrab disapa Marda itu tidak menyangka bahwa keputusannya menempuh studi lanjut akan mengantarkan dirinya menjadi akademisi. Marda merupakan dosen sekaligus peneliti yang saat ini menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Madani Balikpapan.

Tentu tidak semua orang mampu mengemban tanggung jawab mulia tersebut. Bagi Marda, pilihan menjadi seorang pendidik bukan hanya menyangkut persoalan materi, namun juga panggilan jiwa. Sebab profesi dosen erat kaitannya dengan pengabdian dan menebar kebermanfaatan.

Tempuh Perjalanan Antar Pulau demi Pendidikan

Kesibukan sebagai dosen tetap di Akademi Akuntansi Balikpapan (sekarang beralih nama menjadi STIE Madani Balikpapan) rupanya tak lantas menghentikan semangat juang Marda untuk terus belajar. Terbukti, ia aktif melakukan riset, bahkan pernah dua kali mendapatkan hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).

Pada tahun 2018, Marda juga terpilih menjadi salah satu dari penerima Beasiswa Kaltim Cemerlang yang berkesempatan untuk melanjutkan studi doktoral. Saat itu, ia mengambil program studi (prodi) S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR).

Kendati jauh dari kampung halaman—Kota Balikpapan—alasan Marda memilih prodi S3 PSDM lantaran jurusan tersebut hanya ada satu di Indonesia, yakni di UNAIR. Selain itu, ia tertarik untuk mempelajari ilmu secara menyeluruh.

“Saya mengambil S3 PSDM karena prodi ini tidak sekadar berfokus pada satu rumpun ilmu, namun penggabungan dari berbagai ilmu sehingga lebih holistik,” katanya.

Demi jurusan favoritnya itu, Marda juga rela menjalani kuliah lintas pulau. Ia bercerita, setiap satu minggu sekali dirinya menempuh penerbangan dari Kota Minyak menuju Kota Pahlawan.

“Kebetulan transportasi sekarang kan mudah dan lama kuliah S3 hanya dua semester, setelah itu lebih hanyak riset. Biasanya Jumat sore kuliah, Sabtu atau Minggu baru pulang jadi saya tidak menetap satu semester di Surabaya karena ada keluarga di Balikpapan,” terangnya.

Meski lelah, perempuan yang berusia hampir separuh abad itu tak pernah mengeluh. Ia menyebut, salah satu motivasinya mengejar pendidikan setinggi mungkin adalah harapan dari orang tua. Terlebih, ayah Marda yang menginginkan putrinya tersebut berkuliah di UNAIR, almamater sang ayah.

Suka Duka Kuliah Sambil Bekerja dan Mengurus Keluarga

Bagi Marda, memutuskan kuliah S3 berarti harus siap mental. Sebab, lanjutnya, banyak pengorbanan yang dilakukan demi bisa memperoleh gelar doktor itu. Selain rela menempuh perjalanan lintas pulau, ia juga perlu mengatur waktu antara kuliah sekaligus mengajar, termasuk melakukan penelitian, pengabdian, dan menjadi pembicara seminar.

Sebagai ‘mahasiswa angkatan pandemi Covid-19’ yang serba terbatas, Marda mengaku situasi tersebut ternyata sedikit menguntungkan dirinya. Yakni, proses ujian disertasi menjadi lebih fleksibel. “Kalau S3 ujiannya antara 9 sampai 11 kali, saya cuma dua kali tatap muka setelah itu online semua,” ujarnya.

Selain itu, keuntungan kuliah sambil bekerja menurut Marda adalah peluang memperluas relasi sosial. “Kuliah S3 bukan cuma dapat ilmunya, tapi juga networking. Kebetulan rekan-rekan di kelas saya dulu berasal dari berbagai latar belakang ilmu dan profesi jadi saat diskusi lebih terbuka,” tutur Marda.

Meski di tengah padatnya aktivitas, ia masih tetap mengutamakan tanggung jawab sebagai seorang ibu. Marda mengingat pesan ibunya agar senantiasa memprioritaskan keluarga, terutama kedua buah hatinya.

“Dulu sebelum lanjut S2, saya sempat menolak beberapa tawaran pekerjaan karena diberi nasihat gini, ‘jangan sampai kalau kerja anaknya jadi terlantar’. Inilah yang menjadi pertimbangan saya saat memilih pekerjaan apapun,” ungkapnya.

Marda juga tak menampik bahwa ia pernah mengalami kendala perihal manajemen waktu. “Jujur saja, kadang ada yang harus dikorbankan. Tapi kalau sudah fokus kerja apalagi mengajar, saya berusaha happy biar energinya dapat tersalurkan ke mahasiswa,” imbuhnya.

Kontribusi untuk Almamater

Usai menuntaskan studi doktoral pada tahun 2020, Marda kembali ke kota kelahirannya. Di sana, ia menyalurkan bekal ilmunya untuk kemajuan STIE Madani Balikpapan. Namun, Marda tak lantas melupakan Kampus Timur Djawa Dwipa. Di tahun yang sama, ia diamanahi menjadi Ketua Ikatan Alumni (IKA) UNAIR Wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Sebagai salah satu pengurus IKA yang paling muda, ia merasa bersyukur dapat bersilaturahmi dengan alumni UNAIR lainnya.

“Selesai S3, saya ditawari oleh teman bikin IKA UNAIR di Kaltim karena dulu pernah ada, namun SK-nya (Surat Keputusan, Red) belum keluar,” jelasnya.

Dalam periode kepengurusan pertama ini, IKA UNAIR Wilayah Kaltim telah berhasil mengadakan gathering perdana pada awal Agustus tahun 2023. Menurut penuturan Marda, acara tersebut berjalan lancar dengan dihadiri lebih dari 80 alumni.

Kini, sudah hampir dua dekade Marda mendedikasikan dirinya pada dunia pendidikan. Ke depan, ia berharap pihak UNAIR semakin memperkuat jejaring dengan alumni dari berbagai daerah sehingga mendorong peningkatan rekognisi internasional.

Riwayat Pekerjaan

  • Dosen Kons. Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Universitas Mulawarman (UNMUL) 2007 – 2010

    2007 - 2010

  • Wakil Ketua II Bidang Keuangan dan Administrasi

    STIE Madani Balikpapan

    2012 - 2020

  • Tim Survei Kepuasan Masyarakat se-Kotamadya Balikpapan

    Pemerintah Kota Balikpapan

    2017

  • Ketua

    STIE Madani Balikpapan

    2020 - 2024

Riwayat Pendidikan

  • S1 Psikologi

    Universitas Muhammadiyah Malang

    2000

  • Magister Sains Psikologi

    Universitas Gadjah Mada

    2004

  • Magister Ekonomi Islam

    Universitas Islam Indonesia

    2012

  • Doktoral Pengembangan Sumber Daya Manusia

    Universitas Airlangga

    2014 - 2020

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga