Seorang Polisi yang Penuh Dedikasi
“Tantangan dan hambatan pasti akan selalu ada, tetapi yang terpenting adalah kita tidak boleh menyerah”
Tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang polisi tidaklah mudah. Namun, Wiwit Adisatria mampu menjalani tugas-tugas berat itu dengan penuh dedikasi. Ya, Wiwit adalah sosok alumnus Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), tepatnya pada program studi S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).
Saat ini, Wiwit menjabat sebagai Kepala Polisi Resor (Kapolres) Blitar. Perjalanan Wiwit menjadi seorang polisi bermula saat ia kecil, ia bercita-cita ingin menjadi abdi negara. Meskipun impiannya semula adalah sebagai seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI), namun takdir membawanya untuk menjadi seorang polisi.
Takdir yang berbeda dengan harapannya tidak lantas menghentikan tekad Wiwit untuk mengabdi pada negara. “Pertama kalinya AKPOL membuka pendaftaran lebih dulu daripada TNI, jadi cita-cita jadi TNI akhirnya harus jadi AKPOL karena buka duluan. Lalu alhamdulillah bisa diterima di AKPOL, masuk tahun 2000 dan lulus di tahun 2003,” ucap Wiwit.
Wiwit bercerita, selain ingin menjadi abdi negara, keputusannya untuk menjadi polisi juga dilatarbelakangi kondisi ekonomi keluarga. “Jadi saya sebelum masuk AKPOL (Akademi Kepolisian, red) itu pendidikan di SMA Taruna Magelang, masuk 1997. Saya tidak ada latar belakang keluarga dari polisi. Jadi waktu itu memang setelah lulus SMP masuk SMA Taruna. Waktu itu inginnya memang ingin masuk sekolah kedinasan, dan memang waktu itu orang tua ekonominya pas-pasan. Jadi itu ceritanya, ingin meringankan, membantu orang tua,” terangnya.
Kendati menjadi seorang polisi, Wiwit terbilang sangat peduli dengan pendidikan. Ia tidak saja menamatkan pendidikan sebagai polisi di AKPOL, tetapi ia juga menempuh pendidikan lainnya. Tercatat ia pernah menempuh pendidikan ilmu hukum pada salah satu perguruan tinggi di Banten, kemudian pendidikan bidang hukum bisnis dan manajemen di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat.
Wiwit jua mengikuti pendidikan di PTIK (kini Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian) hingga mendapatkan gelar sarjana Ilmu Kepolisian. Guna menunjang pengetahuannya sebagai polisi, ia melanjutkan pendidikan magister bidang transportasi di salah satu perguruan tinggi di Malang dan lulus pada 2015.
Emban Berbagai Jabatan dan Prestasi
Sepanjang karirnya, berbagai jabatan kepolisian telah Wiwit duduki. Mulai dari tingkat Kepolisian Sektor (Polsek), Kepolisian Resor (Polres), Kepolisian Daerah (Polda), hingga Markas Besar (Mabes); mulai jadi kepala bidang, wakapolsek, kapolsek, dan staf operasional. Berbagai daerah juga pernah ia tempati untuk berdinas. Terakhir, tahun 2020 ia bertugas di Jawa Timur setelah sebelumnya sempat berdinas di Kalimantan Timur.
“Alhamdulillah saya sudah pernah dinas dari organisasi kepolisian baik dari tingkat mabes, polda, polres di polsek juga pernah, di lembaga pendidikan sudah pernah juga. Jenjang karir dan jabatan alhamdulillah semua sampai sekarang ini sudah saya lalui,” katanya.
Tidak hanya itu, Wiwit juga mendapatkan sejumlah tanda kehormatan. Di antaranya, Satyalancana Pengabdian 8 Tahun (2014), Satyalancana Karya Bhakti (2014), Satyalancana Bhakti Pendidikan (201), dan Satyalancana Jana Utama (2016).
Meskipun telah menyandang berbagai titel dan prestasi, hal itu tidak lantas menyurutkan niat Wiwit untuk terus memperkaya diri dengan ilmu. Niat untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral pun tersemat dalam hatinya. Hingga akhirnya, ia melabuhkan pilihannya pada PSDM Sekolah Pascasarjana UNAIR.
“Setelah dari Kalimantan Timur, saya ditugaskan di Jawa Timur. Memang sudah ada rencana saya ingin S3, dan kebetulan karena di Jawa Timur, akhirnya saya pilih UNAIR. Terlebih lagi, UNAIR menjadi salah satu kampus favorit di Jawa Timur,” tutur Wiwit.
Menjalani pendidikan di UNAIR membuat Wiwit mendapatkan banyak hal. Tidak hanya ilmu yang sangat mendukung untuk perjalanan karirnya, tetapi juga jejaring luas dengan berbagai pihak. Ia bercerita, sejak awal ia ingin menghabiskan masa pendidikan S3 dengan tepat waktu. Untuk itu, dengan penuh kerja keras, ia menunaikan segala kewajibannya: menjalani penelitian, bertukar pikiran dengan dosen pembimbing, juga aktivitas akademik lain pendukung rampungnya disertasi.
Namun, di balik ilmu, relasi, dan hal-hal positif yang didapat, perjalanan Wiwit mengenyam pendidikan tidak lantas bebas hambatan. Mengemban dua tugas sekaligus, yakni sebagai polisi juga mahasiswa, membuat Wiwit harus pandai-pandai membagi waktu. Pernah suatu hari, Wiwit terpaksa tidur di pom bensin lantaran rasa penat luar biasa yang ia rasakan.
“Jadi polisi tidak punya waktu banyak ya memang konsekuensinya membagi waktunya sangat luar biasa. Bahkan saya sampai tidur di pom bensin. Pagi sampai sore, malam ketemu pembimbing, sampai capai. Habis dari Surabaya, ke rumah di Sidoarjo,” ujarnya dengan sedikit berkelakar.
Namun, berkat kegigihan dan dedikasinya, Wiwit mampu menyelesaikan pendidikannya di UNAIR, kendati tidak sesuai dengan target tiga tahun yang ia tetapkan. Tuntas dengan studinya, Wiwit mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berperan dan berkontribusi dalam setiap langkahnya selama di UNAIR.
“Tentunya semua civitas academica di PSDM, dosen pembimbing kaprodi, direktur SPS yang kebetulan juga promotor saya. Bagi saya mereka orang-orang hebat, yang sesuai menerapkan apa yang menjadi semboyan dari UNAIR. Saya bersyukur dan bangga bertemu dengan orang-orang hebat di situ,” ungkap laki-laki kelahiran Jombang itu.