Busrul Iman

Nahkodai Perbankan, dari Ujung Barat hingga Timur Indonesia

“Hidup itu seperti mengayuh sepeda, kita harus terus bergerak dan mengayuh”

Terkadang, apa yang kita harapkan tidak selalu berbuah kenyataan. Namun, selalu ada hikmah juga hal-hal positif di balik itu semua. Seperti halnya yang dialami oleh Busrul Iman, alumnus S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR). Sempat bermimpi menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAIR, siapa sangka laki-laki yang akrab disapa Iman itu kini jadi Direktur Utama Bank Jatim.

Karir mentereng Iman bermula ketika ia lulus sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Jakarta pada 1986 silam. Ya, selepas gagal ujian masuk FK UNAIR, Putra Daerah Surabaya itu memutuskan untuk merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Meski sempat merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan mata kuliah Akuntansi, tetapi nyatanya Iman berhasil lulus dan langsung mendapatkan pekerjaan pertamanya. 

“Semester awal kuliah itu nilai saya jeblok. Waktu itu kan nilainya 3, 4, pokoknya jelek. Tapi saya enggak punya pilihan lain, akhirnya lama-lama saya menikmati dan akhirnya saya tahu bahwa ini passion saya,” ucapnya.

Sebelum menjadi pimpinan Bank Jatim, Iman pernah mengabdi selama 32 tahun di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Selama 32 tahun itu pula, ia berpindah-pindah daerah, mulai dari ujung Barat hingga Timur Indonesia. “Setelah lulus, saya diterima kerja di BRI dan keliling Indonesia selama 32 tahun. Mulai dari jadi staf, kepala cabang, kepala wilayah. Kepala wilayah di Jawa Timur misalnya, sudah saya capai semua sebelum saya pindah ke Bank Jatim,” tutur Iman.

Bukan hal mudah tentunya untuk menempa diri di tempat baru secara terus menerus. Perbedaan budaya, lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat yang berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi Iman. Untuk menyiasati perbedaan itu, Iman selalu berusaha berbaur dan menyatu dengan masyarakat tempatnya bertugas.

“Saya selalu belajar bahasanya dulu, saya bisa misalnya bahasa Palembang. Jadi kita pelajari juga culture, bahasa, supaya kita enjoy dan nyaman. Demikian juga waktu saya pindah di Banjarnegara, saya juga harus bisa bahasa Ngapak. Karena orang sukses itu harus enjoy agar tetap bisa kerja sepenuh hati. 

Namun, prinsip “Hidup itu seperti mengayuh sepeda, kita harus terus bergerak dan mengayuh” yang terus Iman pegang membawanya berhasil melalui berbagai tantangan itu. 

Iman mengatakan, selalu ada hal positif yang ia dapatkan dari perjalanan karirnya itu. “Positifnya, saya bisa lebih agile dalam menghadapi perubahan. Yang penting adalah bahwa hal baru harus kita terima dan sukai sebagai sebuah sarana untuk manu. Jadi, kalau kita terbiasa menghadapi tantangan, maka lama-lama kompetensi kita juga akan terbentuk,” paparnya.

Selama menjalani peran menahkodai perbankan, Iman tak lupa untuk terus mengembangkan diri melalui ilmu pengetahuan. Saat ditugaskan di Tuban, ia menempuh pendidikan Magister Manajemen di Universitas Diponegoro, Semarang, pada 2005. Kemudian, saat menjadi Kepala Cabang BRI di Banjarnegara, ia juga sempat mengambil pendidikan profesi akuntan di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. 

Memperluas cakrawala pengetahuan di era sekarang sangatlah penting. Pasalnya, dunia terus berkembang. Untuk itu, Iman memandang bahwa setiap manusia adalah manusia pembelajar. Tak cukup menempuh pendidikan magister, pada 2020 lalu, saat diamanahi sebagai Direktur Utama Bank Jatim, Iman memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S3 di UNAIR.

“Karena manusia harus bisa menjadi manusia pembelajar, sehingga saya mengambil S3 untuk belajar. Saya mengambil S3 karena saya melihat bahwa ilmu pengetahuan itu berubah dan berkembang. Ada hal baru dan kami yang sudah senior ini juga harus menyadari. Misalnya kemajuan teknologi, kami juga harus belajar pada yang muda dan sebaliknya sehingga kita bisa bersinergi dan berkolaborasi,” ujarnya.

Menjadi seorang direktur sekaligus mahasiswa, tampak tidak mudah untuk dijalankan bersamaan. Namun, siapa sangka bahwa Iman dapat melakoni semua peran itu dengan sangat baik. Tak tanggung-tanggung, pada kelulusannya Agustus 2024 lalu, ia dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik S3 Sekolah Pascasarjana UNAIR. Capaian itu membuktikan bahwa Iman adalah sosok yang berdedikasi tinggi, tidak hanya pada pekerjaannya tetapi juga pada pendidikan.

“Saat S3, saya tidak ingin asal lulus. Saya ingin memahami ilmu yang disampaikan, bagaimana mengidentifikasi persoalan, variabel apa saja yang harus diperhitungkan. Memang tantangannya adalah fokus. Karena saya punya kegiatan lain, saya berpikir untuk multitasking. Ketika orang tidur, istirahat, maka waktunya saya belajar,” imbuhnya.

Pada akhir, Iman menyampaikan sebuah kalimat yang selalu ia tanamkan dalam dirinya, yaitu “Sulit tapi bisa”. Artinya, ia menegaskan bahwa setiap kesulitan hendaknya tidak dipandang sebagai sebuah hambatan, melainkan sebagai tantangan. Dengan demikian, pikiran kita akan lebih terbuka untuk memikirkan alternatif solusi, tidak hanya sebatas mengeluh dan menyalahkan keadaan yang ada. 

Riwayat Pekerjaan

  • Kepala Divisi Bank BRI Divisi Kebijakan & Pengembangan Human Capital Kantor Pusat

    2018 - 2019

  • Pemimpin Wilayah Bank BRI Kantor Wilayah Surabaya

    2019 - 2019

  • Dektur Komersial & Korporasi

    Bank Jatim

    2019 - 2019

  • Direktur Utama

    Bank Jatim

    2020 - now

Riwayat Pendidikan

  • Sarjana Ekonomi Akuntansi

    Sekolah Tinggi Ekonomi Jakarta

    1982 - 1986

  • Magister Manajemen Strategic

    Universitas Diponegoro Semarang

    2000 - 2005

  • Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia

    Universitas Airlangga

    2020 - 2024

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga