Pejuang Kesehatan di Bumi Cendrawasih
“UNAIR dengan nama besarnya sebagai mercusuar pendidikan kedokteran yang tetap jaya di Indonesia. Kami semua Alumni, siap memberikan sumbangsih untuk daerah dan Indonesia”
Masalah pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan tidak terlepas dari peningkatan jangkauan dan perluasan pelayanan kesehatan, termasuk pembangunan kesehatan di daerah-daerah terpencil dan daerah perbatasan. Penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan di daerah terpencil termasuk perbatasan seringkali mengalami hambatan karena sulitnya medan.
Tidak ada atau kurangnya sarana transportasi, komunikasi, serta adanya ketergantungan pada musim menjadikan biaya operasional pelayanan kesehatan menjadi sangat mahal. Di lain pihak pencapaian penyelenggaraan upaya kesehatan di daerah terpencil dirasakan relatif kecil sumbangannya terhadap pencapaian target cakupan program secara keseluruhan. Sehingga seringkali pembangunan kesehatan di daerah terpencil relatif tertinggal dibanding daerah lainnya.
Di saat banyak rekan-rekan seprofesinya memilih berpraktek di kota besar di Pulau Jawa, Ksatria Airlangga satu ini justru memilih melayani pasien di tanah kelahirannya, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Dokter Alwan Rimosan lahir dan besar di Manokwari, paham betul dengan kondisi kesehatan di Papua Barat. Oleh karena itulah, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) pada tahun 1996, ia kembali ke bumi cendrawasih untuk mengabdikan diri.
FK UNAIR dengan Nama Besarnya
Tahun 1988, setelah lulus dari SMAN 415 Manokwari, Alwan Rimosan berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UNAIR. Pilihannya memilih FK UNAIR karena FK UNAIR merupakan Fakultas Kedokteran tertua ke-2 di Indonesia. Saat ia masuk (1988), FK UNAIR berusia 75 tahun sejak didirikan sebagai Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913.
Proses pembelajaran di FK UNAIR diikutinya dengan sangat sungguh-sungguh. Saat itu, Alwan sangat tertarik dengan anatomi dan histologi. Alwan juga aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.
“Saat kuliah, saya juga mengikuti Menwa, Catur, Bulu Tangkis dan Sepak Bola,” ujarnya.
Berhasil menyandang gelar dokter pada tahun 1996, tidak lantas membuat Alwan berpuas diri atas keilmuan yang telah diperolehnya. Tercatat pada tahun 2003, Alwan berhasil lulus tes Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Bedah di FK UNAIR tahun 2003-2009.
Perjalanan Karir
Selepas dilantik sebagai dokter umum, Alwan langsung mengajukan lamaran kerja di tahun 1996 ke PT. PELNI dan bekerja selama 1 tahun. Selanjutnya, ia mendaftarkan diri sebagai PTT dan di tempatkan di Puskesmas Babo, Kecamatan Babo, Kabupaten Manokwari dari tahun 1996-2003.
“Saya diangkat menjadi PNS tahun 2000. Tahun 2003 lulus tes bedah dan juli 2003 sekolah lanjutan ke PPDS Bedah di FK UNAIR tahun 2003-2009,” jelasnya.
Setelah lulus PPDS Bedah, lanjut Alwan, dirinya bekerja sebagai dokter bedah di RSUD Fakfak tahun 2009 hingga tahun 2012. Kemudian dimutasi ke RSUD Teluk Bintuni tahun 2012-2015.
“Tahun 2015-2017, saya kembali kuliah di program Onkologi Bedah FK Universitas Brawijaya,” tambah Alwan.
Perjalan karir Alwan terus berlanjut, 2017-2019 ia ditempatkan di Dinas Kesehatan dan Rumah sakit Persiapan Provinsi Papua Barat. April 2019, sambungnya, ia ditempatkan sebagai PLT Direktur RS Pratama Warmare Manokwari dan dilantik sebagai Direktur RS Pratama bulan September 2019.
“April 2021, saya dilantik sebagai PLT RSUD Manokwari di samping sebagai Direktur RS Pratama Warmare. Kemudian dilantik definitif sebagai direktur penuh pada 17 September 2021 sampai sekarang,” papar Alwan.
Menjadi Dokter Bedah di Bumi Cendrawasih
Alwan menceritakan bahwa sebagai seorang dokter dan menyandang spesialis bedah, ia harus siap untuk menerima segala penanganan kasus di lapangan. Banyak sekali pengalaman berkesan yang Alwan dapati saat menangani pasien. Mulai dari penanganan pasien yang di seruduk babi ngamuk, dengan 50 jahitan di Puskesmas Babo, Operasi sesar saat di Fakfak tidak ada dokter kandungan.
“Ada banyak pengalaman dan yang masih jelas dalam ingatan saya saat melakukan operasi pengangkatan peluru tanpa imagin C-Arm di Bintuni,” jelas Alwan.
Atas dedikasi yang luar biasa itu, sosok yang mengagumi Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd itu juga pernah diundang sebagai dokter spesialis kreatif dan inovatif di daerah terpencil saat perayaan 17 Agustus 2014 di Istana Negara.
Alwan berharap dengan kecanggihan dunia kedokteran saat ini, ia ingin di Manokwari khususnya, muncul rumah sakit rumah sakit baru sehingga memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat dengan banyak nya dokter-dokter spesialis.
“Kami semua Alumni UNAIR, siap memberikan sumbangsih untuk daerah dan Indonesia” pungkasnya.