UNAIR NEWS – Bermula dari kegemaran membaca buku sejak kecil, alumnus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Alberta Natasia Adji, kini menjelma menjadi sastrawan yang berkiprah hingga kancah internasional. Karya terbarunya yang berjudul The Longing berhasil terbit melalui Penguin Random House SEA dan menapaki pasar buku internasional.
Kegemaran akan Sastra
Natasia, sapaan akrabnya, berasal dari lingkungan keluarga yang selalu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca sebagai sarana memperluas pengetahuan. Sejak usia dini, orang tua Natasia telah mengajaknya menyelami dunia sastra.
“Ibu saya sangat suka membaca dan beliau sangat menekankan pentingnya lancar membaca dan menulis sejak saya dan adik masih kecil. Beliau tidak pernah membatasi saya membaca genre apa dan sering membelikan hadiah buku cerita seperti The Tale of Peter Rabbit dan The Tale of the Flopsy Bunnies karya Beatrix Potter,” tutur Natasia.
Seiring bertambahnya usia, jenis buku yang Natasia baca kian meluas, meliputi berbagai genre sastra populer hingga karya-karya klasik. Saat menempuh pendidikan tinggi di UNAIR, tepatnya program studi S1 Bahasa dan Sastra Inggris dan S2 Kajian Sastra dan Budaya, Natasia sering bersinggungan dengan karya sastra klasik Inggris hingga Indonesia.
“Saya menyukai hampir semua buku yang saya baca karena masing-masing membawa saya pada era, tempat, dan kehidupan personal karakter-karakter yang sangat dinamis,” ungkapnya.
Ketertarikan Natasia pada dunia sastra tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ia mulai menyalurkan minat tersebut melalui kepenulisan dengan menerbitkan dua novel berbahasa Indonesia berjudul Youth Adagio (2013) dan Dante: The Faery and the Wizard (2014). Pada Agustus 2025, Natasia kembali merilis karya terbarunya, The Longing.
Karya Terbaru
Novel The Longing karya Natasia menceritakan tentang tiga perempuan keturunan Tionghoa yang menjalani kehidupan di era berbeda, mulai dari masa Soekarno, Orde Baru, hingga Reformasi. Ketiga tokoh perempuan tersebut sama-sama berjuang menghadapi stereotip budaya Tionghoa, gender, agama, dan kondisi sosial ekonomi yang kerap membatasi pilihan, impian, serta arah hidup mereka.
Natasia mengungkap bahwa penyusunan novel The Longing melibatkan kisah hidup keluarganya. “Karena proses penyusunannya secara serius harus dilakukan di Perth, Australia Barat, terutama dalam kondisi COVID-19, saya seringkali harus menelpon ibu saya yang di Surabaya untuk menggali cerita-cerita mendiang nenek saya, ibu saya sendiri, dan kisah masa kecil saya yang sudah tidak begitu ingat,” ujarnya.
Dalam proses menulis karya The Longing, Natasia mengaku ilmu-ilmu akademik yang ia dapatkan selama berkuliah sangat berperan besar. Melalui pembelajaran di FIB UNAIR, ia mengenal kajian sejarah dan sastra Tionghoa Indonesia yang kemudian memperkaya latar cerita The Longing. Proses penulisan novel ini turut diperkuat oleh studi lanjutnya di Edith Cowan University (ECU), Australia Barat, yang memberinya akses pada sumber akademik internasional.
Konsisten Menulis Sastra
Sepanjang perjalanan kariernya sebagai sastrawan, Natasia kerap menghadapi tantangan, terutama terkait ketatnya persaingan dalam industri penerbitan buku. Selektivitas penerbit menuntut penulis untuk bersikap adaptif sekaligus cermat dalam memahami pangsa pasar.
Untuk itu, Natasia berpesan kepada generasi muda yang tertarik menjadi sastrawan agar agar terus mengasah proses kreatif dan konsisten berkarya. “Banyak-banyaklah membaca, menulis dan mengobservasi sekitar. Jangan mudah menyerah dan selalu ingatlah genre atau jenis buku apa yang hendak kalian tulis. Tidak perlu terlalu terpaku pada tren karena pada saat buku kalian terbit, kemungkinan besar tren sudah berubah lagi,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Khefti Al Mawalia
Sumber : https://unair.ac.id/merawat-ingatan-lewat-sastra-alumnus-unair-angkat-kisah-etnis-tionghoa-ke-panggung-internasional/