Jadi Wakil Dekan, Bumikan Pendidikan
“Pendidikan tidak semata-mata mengajarkan tentang ilmu pengetahuan tertentu namun juga pembinaan karakter dan akhlak”
Menjadi seorang pendidik adalah tugas mulia yang penuh tantangan. Bagaimana tidak? Seorang pendidik tidak hanya bertugas dalam mendidik dan memberi pengajaran, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter serta menciptakan generasi penerus yang cerdas, kompeten, dan berintegritas. Dengan kata lain, seorang pendidik memikul tanggung jawab besar dalam memastikan cerah tidaknya masa depan sebuah bangsa.
Tidak mudah menjadi seorang pendidik. Terlebih di era disrupsi, di mana banyak tugas dan peran manusia yang tergantikan oleh teknologi. Namun, tantangan-tantangan itu sama sekali tidak menggoyahkan kecintaan Dr. Sri Wahyuni, SKep., Ns., MKep., Sp.Kep. Mat pada dunia pendidikan. Ya, alumnus Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (UNAIR) itu tidak hanya mencintai profesinya sebagai perawat, tetapi juga sebagai pendidik yang penuh dedikasi.
Saat ini, perempuan yang akrab dipanggil Yuni itu tengah mengemban tugas sebagai dosen sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Islam Sultan Agung Semarang (UNISSULA). Yuni resmi dilantik sebagai wakil dekan pada 2019 lalu. Namun, karena dedikasi, konsistensi, dan integritas yang ia miliki, Yuni kembali diamanahi sebagai Wakil Dekan I FIK UNISSULA periode 2023 hingga 2028 mendatang.
Cita-cita menjadi seorang pendidik telah tertanam dalam diri Yuni sejak ia kecil. Sang ayah yang juga merupakan seorang guru menjadi motivasi sekaligus inspirasi tersendiri baginya. Menjadi seorang pendidik, kata Yuni, adalah sebuah amanah sekaligus anugerah. Dengan menjadi pendidik, ia dapat menebarkan manfaat dan ilmu yang selama ini telah ia peroleh.
“Darah guru telah mengalir dari Ayah saya. Jadi, dari kecil saya senang untuk berbagi ilmu dengan teman-teman dan anak-anak yang berusia di bawah saya. Semakin banyak berbagi dan menyebarkan, maka manfaat dan ilmu yang kita miliki tidak akan berkurang, justru akan semakin bertambah banyak,” tutur Yuni.
Cerita Saat Menjadi Wakil Dekan
Mengemban amanah wakil dekan tidak lantas membuat Yuni lupa akan tugasnya yang lain. Selain menjadi seorang pemimpin, ia juga menyadari bahwa sejatinya ia adalah seorang pengajar sekaligus pelajar. Ya, selama menjadi wakil dekan, perempuan kelahiran Kendal Jawa Tengah itu juga merangkap sebagai dosen sekaligus sebagai mahasiswa.
Tidak hanya itu, ia juga aktif di berbagai organisasi. Tercatat, ia berperan menjadi pengurus AIPNI Regional Jawa Tengah; Ikatan Perawat Maternitas Indonesia (IPEMI) Jawa Tengah; Organisasi Keagamaan Aisyiyah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah; Organisasi wanita Dharma Wanita; dan masih banyak lagi. Sementara itu, di bidang akademik, ia aktif menjadi reviewer jurnal keperawatan pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah sekaligus sebagai reviewer jurnal internasional.
Berat dan tidak mudah bagi Yuni untuk dapat menjalankan berbagai peran itu. Kendati demikian, Yuni enggan menjadikan peran-peran yang ia jalani itu sebagai beban, melainkan sebagai tugas mulia yang harus ia tunaikan.
“Seberat apa pun tugas di kampus dan tempat kerja, saya berusaha untuk tidak mengeluh. Saya berusaha selalu semangat dan menunjukkan kegigihan di hadapan teman-teman. Ini saya lakukan agar teman-teman juga ikut semangat dalam berjuang,” ungkapnya.
Pandangannya tentang Pendidikan
Lahir dalam keluarga berlatar belakang pengajar secara langsung maupun tidak telah membuat Yuni turut jatuh cinta pada dunia pendidikan. Untuk itu, menjadi seorang pengajar sekaligus pemimpin membuat dirinya ingin terus memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.
Dalam dunia pendidikan, Yuni memandang bahwa pembinaan karakter dan akhlak adalah hal utama. Baginya, pendidikan tidak hanya seputar pada bidang ilmu tertentu yang diajarkan dan dipelajari. “Karena pada dasarnya dalam proses pendidikan tidak semata-mata mengajarkan tentang ilmu pengetahuan tertentu namun juga pembinaan karakter dan akhlak,” terangnya.
Untuk itu, selama menjadi pengajar, Yuni selalu berusaha menjadi teladan yang baik. Pandangan itu ternyata juga ia peroleh semasa menjalani pendidikan di UNAIR. Ia menilai bahwa menjadi mahasiswa UNAIR membuatnya menyadari bahwa saling menghargai dan mengapresiasi sangat diperlukan dalam dunia pendidikan.
“Kesantunan dari seluruh civitas UNAIR dalam berinteraksi merupakan contoh yang baik. Bahwa mengawal program yang peserta didiknya adalah orang dewasa, memang perlu menjaga rasa saling menghargai, mengajarkan dengan penuh santun dan kasih sayang,” imbuhnya.
Yuni berharap, ia dapat menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya. Harapan itu sebesar harapannya pada UNAIR agar terus menjadi perguruan tinggi yang mengedepankan moral dalam semua proses pendidikan.