Anna Kurniati

Etos Kerja dan Profesionalisme demi Tingkatkan Kualitas Kesehatan Indonesia

“jangan cuma bilang akan, lakukan sekarang”

Perilaku tidak pernah menolak penugasan yang diberikan merupakan perilaku yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki sikap profesional dan tanggung jawab yang tinggi. Etos kerja ini dipegang kuat oleh Anna Kurniati S.KM., M.A., Ph.D, semenjak meniti karir. Siapa sangka, perilaku ini mampu membawanya mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan jaringan pekerjaan yang ia miliki hingga saat ini.

Anna, akrabnya, merupakan alumni Universitas Airlangga (UNAIR) yang kini menjabat sebagai Direktur Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Ia dilantik langsung oleh menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin untuk memenuhi dan meratakan tenaga kesehatan (nakes) di seluruh fasilitas kesehatan sesuai dengan standar, termasuk juga dalam rangka meningkatkan mutu kualitas kesehatan di penjuru negeri.

Memulai Pendidikan Kesehatan di UNAIR

Sedari awal, Anna memang diarahkan kedua orangtuanya untuk dapat berprofesi di bidang kesehatan. Namun karena tidak berminat untuk menjadi dokter maupun perawat, akhirnya alumni kelahiran Lamongan itu memutuskan untuk memulai pendidikannya di jurusan Kesehatan Masyarakat UNAIR. “Waktu itu seleksi masuknya sangat kompetitif, tapi karena dukungan orangtua dan tingginya minat saya untuk berkontribusi di bidang kesehatan, akhirnya saya terus termotivasi untuk belajar dan berhasil melanjutkan studi di UNAIR,” jelasnya.

Anna mengaku bukan menjadi seorang mahasiswa unggulan di angkatannya. Namun, ia selalu menunjukkan komitmen kerja keras dan mau belajar. Hingga ia akhirnya menemukan momentum dimana pekerjaan yang ia lakukan bertemu dengan passion-nya. “Untuk itu, jangan suka menolak kalau dikasih penugasan, sepanjang itu relevan dengan kebutuhan organisasi kita. Walaupun belum pernah kita lakukan, kita bisa jika mau dan belajar. Karena sebenarnya justru itulah kesempatan kita untuk mendapat pengalaman dan memetik manfaat ilmu serta koneksi baru,” ungkapnya.

Selama menempuh studi di UNAIR, Anna sangat menyukai kegiatan-kegiatan yang sifatnya turun langsung ke masyarakat. Pengalaman itu tak hanya dilihat Anna sebagai momen menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan di kelas, namun juga memperlihatkan kontribusi nyata terhadap masyarakat.

Anna bersyukur dapat menimba ilmu dari teman-temannya yang berasal dari pendidikan alih jenjang di FKM UNAIR, yang telah terlebih dahulu meniti karir di bidang kesehatan. “Karena mereka juga tidak sungkan mengajari saya yang saat itu belum pernah berkecimpung di dunia kerja, akhirnya saya bisa belajar banyak, bahkan akrab hingga saat ini,” kisahnya.

Sejak kuliah, Anna memanfaatkan waktu luangnya untuk mengasah keterampilannya dalam menulis ilmiah. Hobinya itu kemudian membawa Anna berhasil mempublikasikan karyanya di jurnal-jurnal internasional bereputasi Scopus. Hingga sekarang, ia masih aktif menjadi reviewer di jurnal terindeks Scopus dan menjadi anggota editor jurnal Human Resources for Health yang dikelola oleh penerbit BioMed Central (BMC) di United Kingdom (UK).

Sepak Terjang Karir

Memulai karirnya sebagai seorang nakes berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), Anna mendapat tugas penempatan pertama di Kalimantan Tengah. Saat itu, ia ditugaskan untuk membantu penyusunan program di Kanwil Kesehatan dan terlibat aktif dalam kajian awal program pinjaman luar negeri dari Bank Dunia. 

Anna melanjutkan pendidikan magisternya di Leeds University, Inggris. Setelah lulus, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di Jakarta. Pada tahun 2014, insan yang gemar belajar itu melanjutkan pendidikan doktoralnya di National Cheng Kung University, Taiwan. Dan kemudian kembali ke Kementerian Kesehatan dengan dipercayai jabatan sebagai Analis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Pendayagunaan Tenaga Kesehatan. Pada tahun 2022, Anna mendapatkan amanah untuk dapat berkontribusi lebih luas sebagai Direktur Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Kemenkes RI.

“Selama bekerja, saya tidak pernah menolak bila diberikan penugasan. Saya merasa tugas-tugas baru justru memberikan saya tantangan untuk bisa berkembang keluar dari zona nyaman,” ungkapnya. Anna menganalogikan penugasan baru sama seperti berlatih mengendarai mobil. Awalnya terasa sulit, kemudian penasaran, hingga termotivasi untuk terus berlatih, dan kemudian berhasil mengendarai mobil dengan benar.

Bagi Anna, keluarga menjadi pilar penting untuk menjaga kestabilan emosi sekaligus menjadi inspirasi untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi perannya sebagai Direktur Kemenkes, sekaligus sebagai seorang ibu. Keluarga Anna sangat mendukung karirnya meskipun harus banyak ditinggal karena kepentingan pekerjaan. Sebagai seorang istri, ia juga sering berdiskusi, bahkan melakukan penelitian bersama sang suami yang juga merupakan dosen Fakultas Keperawatan UNAIR yang masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientist 2022 oleh Stanford University dan Elsevier, Ferry Efendi S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D.

Sebagai Direktur di Kemenkes, Anna berperan penting dalam terobosan-terobosan inovatif dalam Transformasi Kesehatan khususnya di pilar kelima Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan. Anna juga berkontribusi dalam penyusunan regulasi dengan terbitnya UU nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan. Diantaranya ialah mengenai peningkatan ketersediaan pendidikan dokter spesialis melalui penyelenggaraan pendidikan di rumah sakit pendidikan penyelenggara utama, pemberlakuan Surat Tanda Registrasi (STR) seumur hidup dan mekanisme perizinan yang akan dikelola oleh pemerintah dan dilakukan secara terbuka dan adil.

Selain itu, Anna juga terlibat dalam penataan prosedur evaluasi kompetensi dan adaptasi yang lebih mudah bagi Warga Negara Indonesia (WNI) diaspora lulusan luar negeri agar bisa turut membangun pelayanan kesehatan di Indonesia. “Upaya Kemenkes melalui perbaikan regulasi, tidak lain didasari oleh keinginan melakukan transformasi di bidang kesehatan, agar bisa memberikan pemenuhan hajat hidup lebih banyak orang untuk bisa hidup sehat,” jelasnya.

Anna bertekad untuk terus meningkatkan kualitas SDM kesehatan di Indonesia. Ia percaya bahwa dengan pengelolaan SDM kesehatan serta regulasi yang berkualitas, Indonesia dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Riwayat Pekerjaan

  • Kepala

    Bidang Perencanaan SDM Kesehatan, BPPSDMK, Kementerian Kesehatan

    2012 - 2014

  • Ketua Tim Kerja Pendayagunaan SDM Kesehatan Luar Negeri

    BPPSDMK/Ditjen Nakes

    2019 - 2022

  • Analis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Pendayagunaan Tenaga Kesehatan

    2019 - now

  • Direktur Pendayagunaan Tenaga Kesehatan, Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan

    Kemenkes RI

    2022 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Kesehatan Masyarakat

    Universitas Airlangga

    1994

  • Master of Arts in Health Management,

    Planning and Policy University of Leeds

    2000

  • Post Graduate Diploma in Health Care Management for Tropical Countries Swiss Tropical and Public Health Institute

    2002

  • Doctoral in Public Health

    Cheng Kung University

    2018

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga