Sartoyo

Perluas Relasi, Ciptakan Bisnis yang Mandiri

“Jika kita berusaha secara maksimal, insyaallah akan mendapat hasil terbaik juga”

Bagi sebagian orang, perguruan tinggi tidak hanya menjadi sarana menuntut ilmu. Lebih dari itu, perguruan tinggi sekaligus menjadi sarana untuk merangkai jejaring yang lebih luas untuk bekal terjun bermasyarakat. Hal itulah yang kiranya dilakukan oleh Sartoyo, S.Pi. Alumnus program studi Budidaya Perairan Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2001 itu tidak hanya memanfaatkan dunia perkuliahan sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga sebagai tempat memperluas koneksi dan relasi. 

Sempat Salah Jurusan, Manfaatkan Waktu dengan Berorganisasi dan Jalin Relasi

Laki-laki kelahiran Klaten 25 Oktober 1982 itu bercerita, perjalanannya saat memasuki dunia perkuliahan di UNAIR tidaklah mudah. Ia mengaku, menjadi mahasiswa Budidaya Perairan bukanlah pilihan yang sebenarnya. Keterbatasan informasi dan pengetahuan menjadikannya bimbang hingga pernah merasa ‘salah pilih jurusan’. 

“Dulu saya masuk itu di tahun 2001 dan sempat merasa salah masuk karena enggak tahu budidaya perairan itu apa. Pikiran saya, yang penting saya masuk kampus negeri lewat UMPTN. Akhirnya saya pilih UNAIR,” ujar Sartoyo.

Kendati sempat merasa ragu dan bimbang, tetapi Sartoyo tidak lantas menyerah.                    Sembari beradaptasi dengan iklim akademik, Sartoyo memanfaatkan waktunya dengan aktif berorganisasi. Tercatat, ia pernah menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) tahun 2003 sekaligus menjadi mahasiswa perintis berdirinya BEM UNAIR. Untuk diketahui, sebelum secara resmi berdiri pada 2008, Budidaya Perairan sempat berada di bawah naungan FKH UNAIR.

Bagi Sartoyo, berkuliah tidak hanya harus berfokus pada pembelajaran di kelas saja.               Namun, menempa diri dan memperluas jejaring juga penting dilakukan sebagai bekal untuk menunjang karier di masa depan. “Pikiran saya dari awal, di UNAIR itu enggak hanya ilmunya yang saya cari, tapi juga koneksi. Jadi, saya dapat banyak sekali koneksi dari UNAIR. Ibaratnya darah saya darah UNAIR,” ucapnya.

Berbekal kompetensi, integritas, dan jejaring yang ia miliki, Sartoyo berhasil mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum ia lulus. Ia mendapatkan pekerjaan pertamanya di PT Sanbe Farma yang saat itu tengah mencari lulusan baru dari FKH UNAIR saat itu. “Saya sebelum wisuda ikut pendampingan nelayan di dinas provinsi. Setelah itu saya balik ke kampus, ada perusahaan yang sedang mencari karyawan, sehingga saya direkomendasikan oleh              Prof Ismudiono yang saat itu menjabat sebagai dekan,” terangnya.

Resign Kerja dan Mulai Dirikan Bisnis

Sartoyo bekerja di PT Sanbe Farma selama lima tahun, terhitung sejak 2006 hingga 2010. Kemudian, ia berpindah dan melanjutkan kariernya di PT Ivendo Mas, perusahaan bidang distribusi obat-obatan perairan asal Belgia pada tahun 2010 hingga 2013. Setelah berkecimpung di perusahaan selama lebih dari tujuh tahun, Sartoyo memutuskan untuk mengundurkan diri dan memilih untuk mendirikan bisnis secara mandiri.

Pada tahun 2012, ia merintis bisnisnya yakni CV Garuda Mas, sebuah perusahaan                      yang bergerak di bidang distribusi obat-obatan serta sarana produksi dan kebutuhan tambak. “CV Garuda Mas ini pemasok obat-obatan atau sarana produksi tambak, jadi memang untuk kebutuhan tambak. Misalnya, bagaimana caranya untuk membesarkan udang? Nah, itu kita pasok mulai dari vitamin, probiotik, hingga pupuk,” jelas Sartoyo.

Kecintaannya pada keluarga menjadi alasan Sartoyo dengan tekun merintis bisnisnya itu. Mobilitasnya yang tinggi hingga menyita waktu berkumpul dengan keluarga menjadi latar belakang Sartoyo resign dan memilih untuk mengembangkan bisnis secara mandiri.                      Selain itu, dengan berbisnis sendiri ia merasa bisa lebih leluasa mengembangkan ide dan mengimplementasikan ilmu yang ia miliki. “Saya pengen kerjanya yang lebih luas,                     lebih bebas. Ketika bekerja di perusahaan itu, waktu mengasuh dan bertemu anak sangat kurang, sehingga saya memutuskan untuk resign dan merintis bisnis sendiri,” tuturnya.

Sejak secara resmi beroperasi pada 2013, CV Garuda Mas telah berhasil menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Pada awalnya, distribusi produk CV Garuda Mas masih terbatas untuk kawasan Indonesia Timur saja, seperti Sulawesi, Lombok, dan Nusa Tenggara. Lantaran, jejaring dan koneksinya mayoritas berada di kawasan Indonesia Timur. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, distribusi CV Garuda Mas telah merambah ke bagian Barat Indonesia, seperti Lampung hingga Medan.

Bagi Sartoyo, kesuksesannya mendirikan bisnis tidak dapat terlepas dari peran UNAIR sebagai almamater tercinta. Tempatnya menuntut ilmu itu telah memberikan dorongan semangat dan bekal jejaring yang menjadi langkah awal untuk membangun masa depannya.                Oleh karena itu, ia sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberinya kepercayaan dan kemudahan selama menjadi mahasiswa di UNAIR.                                                           Ia berharap, UNAIR akan terus menjadi perguruan tinggi yang berprestasi dan mampu menjadi perguruan tinggi yang terbaik. “Semoga UNAIR tetap gigih berjuang untuk maju dan menjadi yang terbaik,” harapnya.

Riwayat Pekerjaan

  • PT Sanbe Farma

    2006 - 2010

  • PT Ivendo Mas

    2010 - 2013

  • Owner

    CV Garuda Mas dan Tambak Barokah Udang Grup

    2012 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Akuakultur

    Universitas Airlangga

    2001 - 2005

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga