Temukan Jalan di Tengah Ketidakselarasan
“Jangan gentar menghadapi masalah karena disebaliknya ada pelajaran berharga buat diri kita”
Banyak kisah kesuksesan seseorang yang dimulai dari titik rendah dan jauh di bawah impian mereka. Namun, berkat kerja keras, ketekunan, dan semangat mereka untuk terus belajar membawa diri mereka semakin naik dan dekat dengan puncak kesuksesannya.
Hal inilah yang tampaknya dialami oleh Sri Susanto Soejatno Putro, Amd. HpKK selaku Komisaris PT. Fiodev Teknologi Indonesia. Saat mengenang perjalanan kariernya, masih melekat dalam benaknya masa di mana ia baru lulus Diploma 3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) tahun 1994.
Ia bercerita jika pada tahun itu, lulusan K3 masih belum memiliki kesempatan yang luas dan membuatnya merasa kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan dan posisi yang selaras dengan ijazahnya. Siapa sangka bahwa Ksatria Airlangga yang dulunya merasa sulit menemukan pekerjaan tersebut kini justru sukses membangun perusahaannya sendiri bersama istri dan rekan bisnisnya.
Sepak Terjang Membangun Perusahaan
Karier Susanto dimulai ketika ia menjadi karyawan dalam tim pemasaran di perusahaan farmasi tahun 1995. Ia melakoni kerja yang tidak selaras dengan jurusannya saat kuliah, dan baru mendapatkan posisi yang selaras pada tahun 2007 sebagai Health Safety & Environment (HSE) di sebuah perusahaan yang terletak di Kota Bontang, Kalimantan.
“Artinya, 13 tahun berselang setelah masa wisuda saya di Universitas Airlangga, barulah saya menemukan jati diri pendidikan saya yang sebenarnya,” kata Susanto.
Setelah masa itu, Susanto mengaku jika kariernya terus berkembang. Ia yang memiliki dasar keilmuan yang sesuai dengan profesinya menjadikannya tidak banyak menemui kesulitan yang berarti. Ia juga tidak segan untuk membuka kembali buku-buku pelajarannya selama berkuliah dan mengaplikasikannya di tempat kerja.
Selama meniti karier, satu pelajaran berharga yang ia dapatkan adalah untuk mampu mengemban amanah perusahaan, ia harus memahami proses bisnisnya, termasuk risiko, peluang, serta keterlibatan personil yang kompeten, dan juga solid. Menurutnya, tidak akan ada perusahaan yang tetap tegak tanpa kontribusi dan dedikasi manusia di dalamnya.
Pelajaran-pelajaran berharga tersebut kemudian ia jadikan sebagai modal untuk membangun perusahaannya. Namun, bukanlah perkara mudah baginya untuk mendirikan perusahaannya. Bahkan, kesulitan tersebut terjadi pada masa awal pendiriannya tahun 2019 karena tidak lama kemudian Indonesia dilanda pandemi global.
“Itu semua bukannya berjalan mulus seperti yang kita bayangkan. Apalagi pendirian perusahaan saya waktu itu, dalam kurun waktu yang tidak lama setelahnya ditetapkan adanya pandemic global COVID-19. Pasti ada aral melintang, ada kerikil tajam menusuk telapak kaki dalam perjalanannya” ujarnya.
Berbekal pelajaran berharga yang didapatkan dari pengalamannya, ia berhasil bahu-membahu mengatasi segala rintangan yang menghalangi sepak terjangnya. Ia sangat percaya bahwa semua rintangan yang dihadapinya selama berproses menuju kesuksesan akan mendorongnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Tidak Selalu Akademik
Saat membagikan kisahnya, ia mengingat satu hal yang didapatkannya selama berkuliah dan masih terngiang hingga saat ini, yakni akademik bukanlah satu-satunya bekal menuju kesuksesan. Ia mengakui bahwa pernyataan tersebut memanglah benar dan terbukti padanya dalam 25 tahun selama sepak terjangnya.
“Tidak hanya semata-mata kemampuan akademik, eksakta, atau fiksi yang menjadi bekal menuju kepada kesuksesan di masa mendatang. Perlu pembekalan aspek-aspek kemanusiaan dalam hubungannya secara horizontal dengan sekitar dan orang lain, perlu pembelajaran komunikasi, dan pendekatan kemanusiaan yang bijaksana,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengakui bahwa karier yang ia jalani sebagai komisaris saat ini tidaklah selaras dengan akademiknya. Kendati demikian, ia menganggap hal ini sebagai pemberi warna, arti, dan pelajaran berharga sehingga ia menjadi pribadi seperti yang sekarang ini.
Bukan hanya dirinya, banyak orang lain yang juga mengalami hal yang serupa. Ia adalah salah satu contoh, dan besar kemungkinan akan ada Ksatria Airlangga lainnya yang akan lulus dan mengikuti langkahnya. Satu hal yang menurutnya harus dilakukan adalah lakukan yang terbaik karena akan ada nilai berharga dari setiap langkah tersebut.
“Pesan saya, selalu lakukan yang terbaik yang bisa kalian lakukan dengan penuh integritas. Tetap lakukan yang terbaik sesuai profesi dan kariermu saat itu. Walaupun jalan itu bukan jalan yang kalian mau, akan tetap ada ilmu, ada hikmah, dan pelajaran, serta pengalaman yang berharga.”
“(Pengalaman itu, Red) yang akan membuat kalian lebih baik dari hari kemarin, yang akan turut mengukir jati diri dan pribadimu menjadi insan kamil yang sejati asal kalian tetap berpegang teguh pada kebenaran dan kebaikan yang semestinya karena itu tidak akan luntur ditelan waktu dan jaman hingga pada suatu saat kalian akan memetik buah dari pohon yang kalian tanam,” pungkasnya.