Fransisca Xaveria Hargiani

Belajar Hingga Akhir Hayat untuk Bumikan Fisioterapi

Fransisca Xaveria Hargiani merupakan alumnus Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) yang juga merupakan CEO Klinik Fisioterapi Kineta Sidoarjo. Sisca, panggilan akrabnya, merupakan seorang pendidik sekaligus praktisi fisioterapis yang telah malang melintang di dunia fisioterapi. 

Ia ingin mengenalkan fisioterapi kepada masyarakat secara lebih masif. Dirinya menyadari betul jika masih banyak masyarakat yang belum mengenal fisioterapi dengan baik. Selain mengenalkan, ia ingin akses terhadap layanan tersebut dapat diperluas dan dipermudah.

Fokus untuk Belajar

Sejak SMA, Sisca termasuk siswi cerdas di sekolahnya. Ia menuntaskan SMA dalam waktu dua tahun dengan program percepatan. Namun disayangkan ia tidak bisa langsung melanjutkan ke pendidikan tinggi karena dirinya masih dianggap kelas 2 SMA, sehingga Sisca harus menunggu satu tahun untuk bisa masuk ke perguruan tinggi. 

Setelah menunggu satu tahun, akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke jurusan fisioterapi. ketika itu, Sisca adalah satu-satunya siswi dari SMA-nya yang melanjutkan studi di jurusan fisioterapi. Awalnya, ia ingin melanjutkan studi di salah satu kampus di Surakarta, namun karena belum membuka pendaftaran, akhirnya UNAIR menjadi pilihan. Sisca merupakan mahasiswa angkatan pertama jurusan Fisioterapi UNAIR.

“Saya kuliah serius. Teman-teman saya tau, saya kalau belajar selalu duduk didepan. Bahkan kalau ujian selalu dikasih bangku paling depan oleh teman-teman saya,” katanya.

Kegigihannya untuk terus belajar memang terlihat jelas dalam diri Sisca. Selain di UNAIR, ia juga pernah menempuh pendidikan di Universitas Esa Unggul dan Program Magister Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Surabaya. Menurutnya, belajar akan meningkatkan kapasitas otak dan membuatnya tidak mudah pikun. Selain itu, dengan terus belajar, ia mampu membangun koneksi dan interaksi sosial yang lebih luas.

Pekerjaan Rumah untuk Fisioterapi

Ia melihat salah satu permasalahan mendasar fisioterapi di Indonesia adalah rasio tenaga fisioterapis yang masih sangat kurang. Menurut Sisca, fisioterapis di Indonesia hanya sekitar 19.000, jumlah tersebut tentu saja tidak masuk akal dengan kondisi lapangan yang terdapat banyak kasus yang perlu ditangani fisioterapis. Dari itu, kita butuh lebih banyak lagi anak-anak muda yang menggeluti bidang tersebut.

“Masalahnya, kenapa animo sekolah fisioterapi itu masih jarang? Karena keran Kemenkes tidak di buka. Hanya 18 persen yang bekerja di Rumah Sakit pemerintah. Sisanya di swasta atau buka praktek sendiri,” ujar Ketua Kolegium Fisioterapi Indonesia tersebut.

Kekurangan tenaga formal tersebut akhirnya berpengaruh pada paradigma masyarakat terhadap fisioterapi. Hari ini, menurutnya, masih banyak masyarakat yang memilih pergi ke tukang pijat atau urut apabila terkena masalah tulang. Jarang sekali untuk langsung terpikir pergi ke fisioterapi. Padahal, tukang pijat atau tukang urut bukan tenaga profesional yang memang mempelajari tentang tulang serta perangkatnya sehingga sangat besar potensi kecelakaan yang ditimbulkan.

“Saya membayangkan kalau tenaga fisioterapis itu akan masuk ke desa-desa dan masyarakat. Mereka bisa mem-backup masyarakat yang futsal keseleo, main bola kecekluk. Mereka akan datang ke fisioterapis,” tambahnya.

Mendorong Fisioterapis Untuk Terus Belajar

Sisca, yang juga sebagai selaku Ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Jawa timur, terus mendorong tenaga fisioterapi untuk terus meningkatkan pendidikan dan kemampuannya. Menurutnya, seorang fisioterapi tidak cukup menamatkan diploma tiga, melainkan harus lebih tinggi untuk memberikan layanan yang paripurna. Dari sana, ia telah bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi di Malang untuk memberikan potongan biaya kepada fisioterapis yang ingin bersekolah S1 dari D3.

Dengan itu, akan semakin banyak tenaga fisioterapis professional. Harapannya, mereka mampu membuka klinik atau layanan fisioterapi sendiri, sehingga akan memudahkan masyarakat dalam mengakses dan tidak perlu birokrasi yang sulit, sebagaimana di rumah sakit. Selain itu, ia pun telah bekerja sama dengan program magister. Hal yang sama, untuk fisioterapis lulusan D4 atau S1 berhak mendapatkan potongan biaya untuk melanjutkan studi.

“Saya punya sertifikat internasional NMT (NeuroMuscular Taping), dosen dan founder-nya itu dari Italia. Dia satu tahun dua kali datang ke Indonesia dan saya akan datang ketemu dia. Itu adalah keilmuan yang harus dicapai,” pungkasnya.

Terus Tebarkan Kebermanfaatan

Baginya, kehidupan yang bermanfaat adalah tujuan utamanya. Dengan kemampuan yang dimiliki, Sisca ingin membantu banyak orang dengan apa yang diusahakannya. Selama perjalanannya sebagai praktisi, pengalaman melayani pasien tentunya tidak semua berjalan baik-baik saja. Ia pernah mendapatkan pasien yang cukup unik. Pasien tersebut mengalami kelumpuhan dan gangguan di leher. Karena dianggap “rewel”, ia banyak ditolak oleh perawat lainnya. Namun, dengan tangan dinginnya, Sisca mampu “menaklukkan” pasien tersebut.

“Bahkan dia (pasien, Red) tidak mau kalau tidak sama saya. Dia sering nungguin saya. Bayangkan saat itu saya masih single dan takut kalau ketemu dia,” kisahnya.

Kedepan, ia berharap UNAIR mampu menjadi katalisator perkembangan fisioterapi di Indonesia. Apalagi dengan fasilitas yang dimiliki seperti klinik dan rumah sakit membuat UNAIR akan mampu mencapai itu. Ia pun terus berharap agar gaung tentang fisioterapi dapat dirasakan oleh orang banyak, begitupun manfaatnya.

Riwayat Pekerjaan

  • Praktik Mandiri Fisioterapis

    Kineta Fisioterapi Sidoarjo

    2016

  • Ketua Program Studi D3 Fisioterapi

    Stikes Delima Persada Gresik

    205 - 2019

  • Dosen Program Studi S1 Fisioterapi

    ITSK RS dr. Soepraoen Kesdam V/Brw Malang

    2019 - now

  • CEO

    Klinik Fisioterapi Kineta Sidoarjo

Riwayat Pendidikan

  • Ahli Madya Fisioterapi, Fakultas Non Gelar Kesehatan

    Universitas Airlangga (UNAIR

    1985 - 1988

  • Sarjana Kesehatan Masyarakat, Manajemen Pelayanan Fisioterapi

    Universitas Esa Unggul Jakarta, 2001

    2001

  • Sarjana Sains Terapan Fisioterapi

    Universitas Esa Unggul Jakarta

    2003

  • Magister Pendidikan Olahraga

    Universitas Negeri Surabaya

    2010

  • Sarjana Fisioterapi

    Universitas Esa Unggul Jakarta

    2014

  • Profesi Fisioterapis

    Poltekkes Kemenkes Surakarta

    2018

  • Magister Kesehatan Masyarakat, Peminatan Fisioterapi Komunitas

    Institut Ilmu Kesehatan STRADA Kediri

    2022

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga