Berawal di PBB, Lalu Uni Eropa, Kini di Jenewa
Bonanza Perwira Taihitu nama lengkapnya. Tetapi seharihari akrab disapa Bona. Tidak banyak yang menduga jika mantan ketua Panitia FISIP Open Air itu kini menjadi salah satu diplomat yang mengemban tugas negara dan bangsa. Bona saat ini adalah Perutusan Tetap RI untuk PBB dan WTO di Jenewa, Swiss.
Pernah jadi Ketua Panitia FISIP Open Air
Bonanza Perwira Taihitu, alumnus Program Studi Hubungan Internasional (HI) FISIP Unair. Ia mahasiswa HI-FISIP angkatan 1991. Tetapi lahir di Jakarta 28 Juli 1973.
Bona selama kuliah FISIP Unair dikenal aktivis mahasiswa. Misalnya, di dunia kemahasiswaan, Bona pernah menjadi ketua Panitia Fisip Open Air. Saat itu pula ia pernah ataupun terpilih sebagai wakil Unair untuk pendidikan singkat di Singapura yang didanai oleh Singapore International Foundation
Selepas atau setelah lulus dari FISIP Unair pada 1997-1998, Bona merintis karier di Kementerian Luar (Kemlu) RI. Ia mulai masuk Kemlu 1999. Satu tahun setelah gerakan reformasi yang digelorakan para mahasiswa Indonesia.
Tugas Pertama Diplomatik di PBB New York
Babak selanjutnya Bona setelah masuk Kemenlu, antara lain, terus ikuti pendidikan diplomatik berjenjang. Lulus dalam peringkat pertama pada Sekolah Dinas Luar Negeri angkatan Caraka Muda IV. Saat itu juga bebarengan dengan pendidikan S2 Ilmu Hubungan Internasional di Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI).
Pelan tapi pasti karier diplomatik Bona makin meningkat. Menurut Bona selama 20 tahun aktif di dunia diplomasi multilateral, penugasan pertama di Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York.
“Itu pada tahun 2005-2008. Selanjutnya penempatan kedua saya di Kedutaan Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa,” ujarnya.
Sejak Februari 2019 Tugas di Jenewa.
Menjadi diplomat harus siap ditugaskan di belahan dunia mana pun membawa nama bangsa dan negara Indonesia. Terhitung Februari 2019, Bona ini kembali menempati pos diplomatik. Ia bertugas di pos multilateral di Perutusan Tetap Republik Indonesia (RI) untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, sejak Februari 2019. “Tanggung jawab yang diemban saya saat ini adalah sebagai orang ketiga di PTRI Jenewa. Yakni Koordinator Fungsi Politik II yang bertugas melakukan penanganan isu HAM dan Kemanusiaan,” tuturnya.
Menurut Bona, isu HAM (hak asasi manusia) dan Kemanusiaan menjadi spesialisasi penanganan dan penugasan. “Sebelumnya jabatan saya di Ditjen Kerja Sama Multialteral Kemlu. Yaitu sebagai Kepala Sub Direktorat untuk Hak Sipil dan Politik - Direktorat HAM dan Kemanusiaan,” papar pria sederhana itu.
Alumni Harus Fokus di Pengabdian masyarakat
Ranking Universitas Airlangga di peringkat dunia hanyalah salah satu dari yang harus diwujudkan alumni Unair. “Almamater saya,” kata Bona. Tetapi, yang lebih penting ialah kip rah alumni. Kiprah alumni terutama di pengabdian masyarakat menjadi hal yang paling gampang dilihat publik.
Pun mahasiswa Unair harus tampil dalam setiap ajang kompetisi keilmuan dan ekspose-ekspose karya ilmiah. Mahasiswa Unair juga harus menjadi garda depan gerakan-gerakan perubahan masyarakat sipil dan senantiasa menjadi agen perubahan yang sesungguhnya.
“Sebagai alumni saya berharap para tenaga akademik mewarnai berbagai diskursus akademis. “Harus banyak menulis di jurnal keilmuan yang berskala nasional dan internasional,” ujar