Pintar Melihat Peluang dan Punya Daya Juang Tinggi Jadi Kunci Keberhasilan
Yusni Elma, S.A.P (Elma) adalah alumni S1 Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga tahun 1991. Keputusan Elma melanjutkan studi di jurusan tersebut dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa ilmu Administrasi Publik dapat diaplikasikan dimana saja sebagai ilmu dasar organisasi.
Selama kuliah, salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika Elma melaksanakan KKN di daerah Gresik. Masih teringat dengan jelas bahwa saat itu masyarakat begitu antusias dengan kehadiran mahasiswa Unair, khususnya pemilik rumah yang ditempati oleh kelompoknya. Bahkan hingga saat ini, kelompok KKNnya masih menjalin komunikasi dengan pemilik rumah.
“Lebih berkesan lagi ketika menulis skripsi, saya dipaksa dan didukung penuh oleh Prof. Soetandyo Wignjosoebroto, MPA untuk melakukan studi kualitatif membahas PTUN yang saat itu banyak dibahas di media cetak. Bahkan saya diberi banyak buku hingga surat pengantar masuk ke perpustakaan UGM untuk mencari referensi dan contoh studi kualitatif untuk menulis skripsi,” kenang Elma.
Merintis Usaha Dengan Suami
Setelah lulus, Elma bekerja sebagai manajer koperasi di Sumatera Barat. Selain itu, dia juga merintis usaha dengan suami yang merupakan salah satu teman ketika KKN di Gresik. Usaha pertama yang dikelola oleh keduanya adalah CV. Elmas Sentosa Abadi.
“Usaha pertama yang kami buat adalah wartel, mulai beroperasi awal tahun 1994,” ucapnya.
Pada tahun 1998, Elma memutuskan untuk berhenti bekerja di koperasi dan mendirikan PT. Satria Komindo Utama. Perusahaan yang bergerak di bidang penjualan alat wartel dan telekomunikasi umum dengan cabang di Provinsi Riau, Jambi, dan Bengkulu. Usaha yang awalnya bermula dari satu outlet wartel, berkembang menjadi empat puluh dua outlet yang tersebar di empat provinsi.
Pergeseran teknologi informasi ditandai dengan munculnya GSM dan CDMA membuat keduanya segera beralih bisnis pada usaha selular bekerjasama PT. Telkom sebagai authorized dealer flexi untuk Sumatera Barat, dan menjual turunan produk anak perusahaan Telkomsel lainnya.
Merintis Usaha Air Minum Dalam Kemasan
Perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat teknologi CDMA tak mampu lagi bersaing. Pada tahun 2012, Elma memutuskan untuk meninggalkan perusahaan telekomunikasinya dan beralih pada industri air kemasan.
Tepat pada tahun 1998, Elma juga membeli lahan dengan sumber mata air di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Tepat pada tahun terjadinya kerusuhan reformasi. Di tahun 2002, Elma berusaha mengurus izin mendirikan bangunan pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) merk AIGA namun terhalang masalah izin pemerintah setempat. Hingga pada tahun 2008 akhirnya pabrik AMDK di bawah CV. Elmas Sentosa Abadi miliknya dapat mulai produksi dan menguasai pasar air kemasan di Sumatera Barat dan Riau.
“Saat ini pabrik kami menerima produksi beberapa merk dan penjualan air baku pada industri sejenis,” ucap Elma.
Perusahaan AMDK milik Elma terus berkembang. Hingga pada tahun 2017, dirinya dipercaya untuk membantu mendirikan pabrik AMDK merk O’Ake milik PT. Halut Mandiri di Maluku Utara.
Tak Lewatkan Kesempatan Bisnis Transportasi Udara
Sembari merintis usaha AMDK, Elma mengambil kesempatan untuk bekerjasama dengan perusahaan transportasi udara, Jatayu Airline di tahun 2002 dengan memegang rute Padang-Jakarta-Padang. Melihat prospek di bidang transportasi udara, Elma kembali memegang GSA Riau Airline untuk rute Padang-Pekanbaru-Johor (Malaysia)-Padang.
Tidak berhenti disitu. Elma kemudian mendirikan perusahaan PT. Rangkiang Panenan Puti di bidang Tour & Travel. Melalui partisipasi aktifnya di forum Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-GT), perusahaan Tour & Travelny menjadi agen penjualan tiket seluruh airline.
“Masuk pada masa pandemi, perusahan tour & travel kami harus tiarap dan kalah bersaing dengan aplikasi travel*ka dan sejenisnya,” terang Elma.
Hadapi Tantangan Dengan Berani
Memiliki dan memimpin perusahaan dengan bidang usaha di luar background keilmuannya menjadi tantangan tersendiri bagi Elma. Modal yang dia miliki adalah keberanian, atau lebih tepatnya “nekat” kata orang Jawa.
Elma mengakui bahwa ilmu manajemen dalam sebuah organisasi yang dulu sempat dia pelajari berperan sangat penting untuk membantunya mengelola perusahaan. Ditambah dengan kesenangannya berorganisasi, bertemu banyak orang, menambah teman dan relasi membantunya mendapatkan banyak ilmu penting yang dapat menunjang kegiatan bisnisnya.
“Saya merasakan ilmu yang sesungguhnya adalah di lapangan dan pergaulan,” lanjutnya.
Penghianatan dan Pengalaman Pahit Lainnya Tak Turunkan Semangat Berbisnis
Dikerjain. Ditipu. Ditikung oleh orang kepercayaan dan rekan kerja tak lantas memadamkan semangat Elma untuk terus berbisnis. Kesulitan untuk mencari pekerja yang loyal, kesulitan untuk mengurus perizinan pemerintah, kesulitan mendapatkan modal dari bank, dan menghadapi penolakan masyarakat pada beberapa bidang bisnisnya juga tak menyurutkan semangat Elma.
Semua kesulitan tersebut terbayar ketika dirinya berhasil menyelesaikan semua permasalahan tersebut. Mampu membuka lapangan pekerjaan dan memberi kehidupan yang layak bagi banyak orang adalah kepuasan yang tidak ternilai harganya.
“Nilai yang saya terapkan adalah tidak perlu pintar tapi perlu cerdas dalam menyikapi sesuatu. Bisa melihat peluang dan berani melakukannya walau tahu ada resiko mengalami kerugian atau bahkan kegagalan,” jelas Elma.
Menurut Elma, seorang pebisnis tidak perlu menguasai semua ilmu. Tapi seorang pebisnis harus tahu sedikit di banyak ilmu. Pengetahuan tersebut berguna untuk mengelola tim yang akan melakukan beberapa hal di kegiatan bisnis secara khusus.
Aktif Berorganisasi
Elma aktif dalam berbagai organisasi. Menurutnya, dengan berorganisasi dia bisa bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari pertemuan itulah, ilmu yang sesungguhnya berada. Tempat bertanya, berdiskusi, hingga meminta bantuan. Minimal membantu memberi referensi atau informasi.
“Mencari peluang mengembangkan jejaring dan mitra bisnis dapat dimulai dengan aktif berorganisasi,” terangnya.
Organisasi juga sangat membantu dalam upaya penyelesaian masalah, khususnya yang berkaitan dengan advokasi pada pemerintah. Menurutnya, kebijakan publik atau aturan pemerintah tidak bisa dilawan secara personal, melainkan dapat bersuara melalui organisasi agar didengar oleh pengambil keputusan kebijakan publik.
Sebagai seorang pengusaha, Elma menyadari bahwa dia tidak bisa pensiun kecuali ada anak yang berkenan meneruskan bisnis orang tua. Sambil menunggu momen tersebut datang, Elma harus memiliki daya juang untuk terus mengembangkan bisnis yang sudah ada dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Elma berharap, Unair sebagai salah satu universitas terkemuka di Jawa Timur dapat menyesuaikan kurikulumnya untuk menjawab tantangan dan kebutuhan global agar SDM yang dihasilkan benar-benar kompeten saat masuk di dunia kerja. Elma juga berharap, Unair dapat terus melakukan promosi di SLTA luar pulau, memotivasi para siswa agar lanjut ke pendidikan tinggi.
“Unair memiliki alumni yang luar biasa. Semoga semua alumni Unair dapat terkoordinir dengan baik sehingga bisa saling berkolaborasi dan menginspirasi,” pungkas Elma.