Tenaga Akademik Jangan Rangkap Jabatan
Penampilannya sederhana. Gaya bicaranya santun dan kalem. Prof. Damriyasa, begitu sapaannya di lingkungan kampus Universitas Udayana, Denpasar. Itulah sosok sekilas Prof. Damriyasa, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Unair (1987).
Perjalanan karir Prof. Damriyasa cukup menarik. Misalnya, dia tercatat sebagai salah seorang perintis Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia, bersama pakar kedokteran hewan dari Unair, UGM, dan ITB.
Ikhwal bagaimana menjadi bagian almamater Unair, Damriyasa bertutur bahwa akses itu didapat saat Universitas Udayana membuka Program Studi Kedokteran Hewan. Lalu ada seleksi untuk pindah ke Universitas Airlangga. Dia salah seorang yang lolos seleksi untuk melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Hewan Unair.
Karirnya di Universitas Udayana (Unud) dimulai pada 2006 dengan menjabat sebagai Dekan FKH Unud. Jabatan ini diemban hingga dua periode. Bahkan, di periode bersamaan (2010–2014), suami Ni Made Putri Suprianti Widariani ini juga menjabat Sekretaris Senat Unud.
Pada 2012, dia terpilih sebagai Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia dan Ketua Asosiasi Patobiologi Indonesia cabang Bali.
"Pada 2013 saya terpilih dalam paket pemilihan Rektor Unud sebagai Pembantu Rektor Bidang Akademik hingga sekarang," tutur doktor lulusan Justus Liebig Universität Giessen, Jerman, ini.
Damriyasa juga tercatat sebagai alumnus Program Magister Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar Unair pada 1993. Setelah lulus dari Unair, pria asal Desa Rendang, Karangasem, ini dipanggil untuk mengabdi di Unud.
Dalam perjalanan karirnya di Unud, Damriyasa memiliki filosofi kerja bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan serius, fokus, dan tulus ikhlas.
"Bagi saya pribadi, posisi ini bukan sebagai kejutan," ungkapnya.
"Untuk urusan akademis di universitas, saya sudah cukup pengalaman. Terutama dalam program-program dan pengambilan keputusan rektor, saya selalu terlibat. Buat saya, pekerjaan tidak harus menunggu perintah atasan," ungkapnya.
Tentang bagaimana visinya di dunia kedokteran, Guru Besar Kedokteran Hewan yang sudah menerbitkan 12 jurnal ilmiah internasional ini menyatakan tidak setuju posisi rangkap profesi.
"Sebaiknya dokter yang jadi dosen tidak buka praktik. Juga tidak rangkap jabatan lain. Ini agar pekerjaan kita fokus," tandasnya.
Perlu Meniru Sistem di Jerman
Dedikasi yang tinggi di dunia pendidikan membuat Prof. Damriyasa selalu berpikir menemukan sistem yang lebih baik. "Agar pendidikan di Indonesia sejajar dengan negara-negara maju," ujar pria kelahiran 31 Desember 1962 ini.
Menurut dia, sistem informasi yang baik akan mendorong perubahan. Misalnya, beban kerja dosen, baik mengajar, penelitian, maupun pengabdian. Bukti penugasan, absen, dan lain-lain harus sudah bisa diakses secara online.
"Jadi, kuncinya benahi sistem. Kalau dulu kinerja dosen kan ditulis dan ditandatangani dekan. Dengan sistem online jelas lebih mudah, transparan, dan terkontrol," tandasnya.
Dia mencontohkan sistem di Jerman. Di negara itu, penghasilan seseorang terlihat semua di sistem pajak dan keuangan. Hal itu memudahkan kontrol terhadap kekayaan seseorang.
Terkait isu-isu penyakit endemik seperti rabies dan flu burung, dia berpendapat bahwa dengan kondisi geografis Indonesia dan lalu lintas perdagangan ternak, pintu masuk bukan hanya lewat pelabuhan resmi.
"Tapi justru perdagangan tradisional yang marak. Inilah tantangan pemberantasan penyakit endemik," ujarnya.
Damriyasa menunjuk kasus rabies di Bali yang terbilang kejadian luar biasa (KLB).
"Hasil penelitian menemukan peran nelayan yang membawa anjing berpenyakit di Bali. Ini perlu perhatian serius," ujarnya.
Namun, dirinya lebih respek pada aspek epidemiologi, yakni bagaimana penyakit masuk ke suatu daerah. Ahli parasitologi veteriner ini berpendapat bahwa penanganan rabies di Bali ada dua hal.
Pertama, penanganan anjing liar dan vaksinasi. "Apakah cara eliminasi anjing itu manusiawi? Di bidang kedokteran hewan dikenal animal welfare. Jadi, eliminasi menurut saya jalan akhir. Lakukan dulu cara-cara pencegahan," tandasnya.
Puji Iklim Akademik Unair, Riset Sangat Agresif
Ditanya hal menarik yang paling berkesan selama menjadi mahasiswa Unair, dengan tersenyum, Damriyasa mengaku terkesan dengan etika mahasiswa dengan dosen dan pegawai.
"Iklim akademik di Unair itu kental sekali, saling menghargai dan kekeluargaan," pujinya.
Di bidang akademik, penulis buku Neoporosis pada Sapi (2008) ini juga mengaku kagum dengan perkembangan Unair.
"Sebagai almamater, saya lihat Unair cukup agresif, khususnya dalam capaian akreditasi internasional," pujinya.
Karena itu, dia optimistis, ambisi Unair masuk 500 perguruan tinggi terkemuka dunia sangat mungkin terwujud.
"Dengan agresivitas Unair, saya yakin itu bisa dicapai," ungkapnya.
Sebagai alumnus, dia punya saran untuk kemajuan Unair. Yang perlu menjadi perhatian ke depan adalah akademisi harus fokus pada talenta masing-masing.
"Ini harus didukung juga dengan fleksibilitas pengelolaan perguruan tinggi secara otonom," tandasnya.
Artinya, jangan ada campur tangan politik ke pendidikan.
"Kalau politik masuk kampus, kualitas pendidikan akan terabaikan. Itu harus dijaga kalau kita mau mempertahankan kualitas universitas," ujarnya.
Ke depan, dia juga ingin tak ada lagi disparitas dan kesenjangan antar perguruan tinggi di Indonesia.
"Misalnya, perguruan tinggi di Papua mampu sejajar secara kualitas dengan perguruan tinggi yang sudah maju di Indonesia," ujarnya. (*)