Sri Adiningsih

Entas Anjal dari Jalanan, Kembalikan ke Sekolah

Anak-anak jalanan (anjal) adalah salah satu isu di perkotaan, tak terkecuali di Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, mereka kerap ditemui di banyak tempat: terminal, stasiun, pertokoan, dan angkutan umum. Mereka biasanya mengamen dan berjualan asongan.

Pada suatu malam, lebih dari satu dekade yang lalu, Sri Adiningsih dalam perjalanan pulang ke Surabaya setelah mengunjungi beberapa kota untuk kegiatan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dia trenyuh saat melihat anak-anak itu berkeliaran di jalanan.

Padahal, tutur Sri, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB lebih. Batin Sri berkecamuk. Anak-anak tersebut seharusnya istirahat di rumah, bukan malah berkeliaran di jalanan. Lulusan Queensland University, Australia, itu lantas mencari lebih dalam situasi anak-anak jalanan tersebut. Ada dua penyebab mereka turun ke jalan. Pertama, mereka butuh uang untuk biaya sekolah. Kedua, mereka memang menjadi korban eksploitasi.

Bersama Yayasan Insani yang didirikan bersama rekan-rekan yang memiliki kepedulian sama, dia menyimpulkan dua macam penyebab itu terjadi di dua tempat berbeda. Anak-anak korban eksploitasi umumnya berada di wilayah Wonokromo dan sekitarnya. Sedangkan anak-anak jalanan yang ingin membiayai hidupnya umumnya beredar di sekitar Pasar Turi.

Sri lantas menggandeng LSM Plan Indonesia, salah satu LSM besar yang memiliki jaringan internasional luas. Salah satu pimpinannya dia beritahu terkait kondisi tersebut. Dia pun ikut terharu dengan penderitaan anak-anak tersebut sampai tidak bisa tidur selama berminggu-minggu.

Akhirnya, Plan Indonesia bekerja sama dengan Plan Jepang berusaha melakukan penyelamatan anak-anak jalanan.

Program yang digerakkan Sri memiliki tiga jargon: Go Back to School, Go Back to Parent, dan Go Back to Profession. Dengan berbagai tantangan yang ada, program tersebut terus menggelinding. Hingga 2013 lalu, total sudah 250 anak-anak jalanan yang berhasil dientaskan. Mereka akhirnya kembali ke sekolah.

Sri mengaku tidak tahu apa alasan utama melakukan tindakan mulia tersebut. Yang dia tahu, dia selalu tidak tega melihat orang tidak berdaya. Begitu naluri kepeduliannya terusik, dia akan membantu dengan sekuat tenaga.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur 1998–2002 tersebut memang sangat peduli terhadap anak-anak. Dia pula yang ikut mendorong revisi Undang-Undang Perlindungan Anak. Salah satunya adalah hak untuk rehabilitasi ketika terpidana anak sudah bebas dari hukuman.

Kemudian, dia juga yang mendorong agar Surabaya mencanangkan wajib belajar 12 tahun. Yakni, dari SD hingga SMA, anak-anak bisa bersekolah di Surabaya harus gratis. Tujuannya, selain memang pendidikan adalah hak warga negara, juga untuk mengurangi anak-anak turun ke jalanan karena mencari biaya sekolah.

Sri adalah sosok yang sangat disegani di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair. Dia pernah menjabat beragam posisi di fakultas tersebut. Mulai dari kepala departemen, wakil dekan, hingga ketua program studi.

Kini, kepakaran Sri sebagai ahli gizi disalurkan di KONI Jatim. Dia mendampingi atlet-atlet Jawa Timur agar konsumsi gizinya optimal, baik untuk pemulihan dari cedera maupun untuk meningkatkan performa mereka saat berkompetisi. (*)

Riwayat Pekerjaan

  • Ahli Gizi

    KONI Jawa Timur

  • Ketua Program Studi

    Universitas Airlangga

  • Wakil Dekan

    Universitas Airlangga

  • Ketua

    Lembaga Perlindungan Anak (LPA)

    1998 - 2002

Riwayat Pendidikan

  • Master

    Queensland University

  • Kesehatan Masyarakat (Sarjana)

    Universitas Airlangga

    1970 - 1977

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga