Yan Putra Timur

Jalani Peran Ganda sebagai Direktur Sekaligus Pengajar

“Jangan sia-siakan semua ilmu, fasilitas, jejaring, maupun pengalaman”

Yan Putra Timur adalah sosok yang berpegang teguh pada mimpi dan cita-citanya. Sejak muda, laki-laki kelahiran Surabaya itu telah menaruh keinginan kuat untuk menjadi seorang wirausahawan. Berkat kegigihan dan ketekunannya, mimpi Yan akhirnya terwujud. Saat ini, Yan menjadi Direktur Utama PT Khalifah Indoraya, Direktur CV Permata Ciptamoda, sekaligus merangkap sebagai dosen pada salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Perjalanan Yan mewujudkan mimpinya itu tidak dapat terlepas dari kiprahnya saat menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR). Ya, Yan merupakan lulusan S1 Manajemen tahun 2012. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Ekonomi Islam FEB UNAIR dan lulus dengan predikat wisudawan terbaik pada Maret 2023.

Awal Perjalanan

Memerlukan perjuangan besar bagi Yan untuk dapat sampai pada titik ini. Yan bercerita, ia tidak menyangka bisa menempuh pendidikan sarjana bahkan hingga magister, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang kurang menguntungkan saat ia muda. “Pada saat itu pilihannya adalah melanjutkan kuliah dengan beasiswa atau melanjutkan kuliah di sekolah tinggi kedinasan yang tidak membutuhkan biaya,” ungkap Yan.

Kendati demikian, tekad Yan untuk berkuliah sudah bulat. Ia mendaftar Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) program studi (prodi) S1 Manajemen FEB UNAIR. Bukan tanpa alasan Yan memilih prodi tersebut. Ia termotivasi oleh sebuah buku yang ia baca ketika duduk di bangku SMA, dengan judul 50 CEO. Selain itu, pemilihan manajemen sebagai prodi tujuan juga menjadi langkah awal Yan untuk mewujudkan mimpinya menjadi wirausahawan.

Dalam buku tersebut kalau ditilik lebih detail, ternyata mayoritas CEO di Indonesia memiliki background pendidikan manajemen dan akuntansi. Maka sejak SMA saya sudah berencana untuk mendaftar di sekolah kedinasan atau universitas yang memiliki program studi manajemen dan akuntansi,” ujarnya.

Berkuliah Sembari Bekerja

Menyadari kondisi perekonomian yang kurang begitu beruntung, Yan terus memutar otaknya untuk mendapatkan penghasilan tambahan di tengah-tengah perkuliahan. Ia menyiasati dengan bekerja paruh waktu pada perusahaan retail fesyen sehingga kerap membuatnya pulang larut malam. “Tidak jarang saya mengalami kesulitan dalam membagi waktu dalam belajar sehingga tantangannya pada saat itu adalah bagaimana dapat memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk belajar,” tuturnya.

Tidak hanya itu, kondisi ekonomi yang demikian juga menyulitkan Yan untuk memperoleh kebutuhan buku sebagai bahan belajar. Namun, ia menyiasatinya dengan memanfaatkan buku yang ada di Ruang Baca FEB. “Karena kedua hal tersebutlah mungkin bisa dikatakan nilai IPK yang didapat saat lulus saat S1 agak pas-pasan yaitu 3,01. Selain itu, durasi waktu kuliah juga molor menjadi 6 tahun,” imbuhnya.

Meski merasa tidak puas dengan nilai yang ia peroleh, namun Yan tidak menyerah. Memasuki jenjang magister yang ia mulai 2021 lalu, ia bertekad untuk memperbaiki nilai akhir yang ia peroleh ketika S1. Terbukti, ia berhasil lulus dalam waktu yang begitu cepat dengan raihan IPK sempurna, 4.00.

Jadi Direktur Sekaligus Dosen

Setelah lulus sarjana, orientasi karir yang ada di benak Yan adalah wirausaha. Berbekal gaji yang ia kumpulkan saat bekerja paruh waktu sembari kuliah, Yan mencoba memulai usaha di bidang suplai kebutuhan dan perlengkapan peternakan. Usaha itu ia rintis sejak 2011 lalu, menjelang akhir masa studinya. Dalam menjalankan bisnisnya itu, ia menggandeng berbagai vendor, seperti pabrik pakan ternak, obat-obatan, vaksin, dan perlengkapan peternakan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, Yan secara perlahan berhasil mengembangkan perusahaannya. Hal itu tidak dapat lepas dari kemauannya untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Yan bercerita, tahun 2014-2015 adalah eranya jual-beli online mulai marak bermunculan. Tidak mau ketinggalan, ia membawa perusahaannya untuk ikut beradaptasi pada tren yang ada.

Sebagai seorang wirausahawan, Yan menyadari bahwa akan selalu ada masa di mana bisnisnya mengalami kenaikan maupun penurunan. Pandemi COVID-19 yang melanda pada 2020-2022 lalu menjadi cobaan bagi perusahaannya. Bergerak di bidang peternakan, tentu saja perusahaan Yan terkena imbas. Terlebih, saat itu dilakukan pembatasan mobilitas dan tidak sedikit bisnis makanan yang tutup sehingga berimbas pada perusahaan supplier

Selain menjadi direktur, Yan juga merangkap sebagai dosen di Universitas Negeri Surabaya. Tentunya, hal ini juga tidak lepas dari mimpi masa kecil Yan. Bagi Yan, menjadi wirausahawan maupun dosen, keduanya adalah profesi yang sangat ia cintai. 

“Pekerjaan sebagai wirausahawan saya jadikan sebagai salah satu cara untuk meraih kesuksesan di dunia, dan pekerjaan sebagai pendidik atau dosen saya jadikan sebagai cara saya untuk meraih kesuksesan akhirat dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat bagi anak didik,” tambahnya.

Bagi Yan, keberhasilan yang ia raih saat ini adalah berkat dukungan penuh dari keluarga. Tidak hanya itu, almamater tercinta Universitas Airlangga juga memegang peran penting dalam mendukung Yan meraih mimpinya. Ia berharap, UNAIR dapat mencetak lulusan berorientasi wirausaha sehingga dapat berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja di Indonesia.

Riwayat Pekerjaan

  • Direktur

    PT. Khalifah Indoraya

    2011 - now

  • Direktur

    CV. Permata Ciptamoda

    2013 - now

  • Dosen Tetap PTN-BH Program Studi S1 Ekonomi Islam

    Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Ekonomika dan Bisnis

    2023 - now

  • Peneliti

    Waqf Center for Indonesian Development & Studies (WaCIDS)

    2022 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Program Studi Manajemen

    Universitas Airlangga

    2007 - 2012

  • S2 Program Studi Ekonomi Islam

    Universitas Airlangga

    2021 - 2023

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga