Merasa Passionnya di Dunia Obat-Obatan
Retno Tyas adalah alumni Fakultas Farmasi Unair (FFUA) yang sejak lulus meniti karier di Jakarta. Ia juga menjalani profesi sebagai apoteker, tetap berada dalam jalur yang sejalan dengan ilmu yang diperoleh di Fakultas Farmasi. Ia merasa bahwa obat-obatan adalah passion utamanya.
Retno Tyas adalah alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yang sejak lulus berkarier di ibu kota, Jakarta. Ia sempat menjabat sebagai Deputi 1 Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebelum akhirnya menjadi Konsultan WHO, organisasi kesehatan dunia yang merupakan bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sejak menjadi konsultan WHO, Retno langsung merasa pas. Ia mengatakan di salah satu badan PBB itu sesuai dengan passionnya untuk memaksimalkan potensi.
Dia menanamkan harapan besar pada WHO. Dia tertarik dan merasa tertantang seiring dengan bertambahnya tugas di WHO tersebut.
Retno merasa tertantang dan terus berusaha agar dapat menyelenggarakan layanan kesehatan kepada masyarakat secara maksimal dan paripurna.
Prinsipnya, semua orang di WHO harus selalu berusaha memenuhi keinginan seluruh masyarakat. Siapa saja agar benarbenar terlayani dengan baik. Hal itu sesuai dengan visi dan misi negara dalam mengupayakan masyarakat lebih sehat dan sejahtera.
Retno punya keinginan besar agar masalah kesehatan bisa diatasi secara maksimal. Kesehatan di sektor publik dan lembaga kesehatan bisa tertata dengan baik, mulai hulu sampai ke hilir.
Alumni Unair Harus Memiliki Networking yang Luas
Retno Tyas mengaku banyak memperoleh ilmu pada masa kuliah di Fakultas Farmasi Unair. Ilmu pengetahuan tersebut sebagai fondasi dalam mengarungi kehidupan sampai berada di posisinya sekarang. Kata kuncinya adalah melayani masyarakat agar hidup sehat.
Unair dirasakan telah menggemblengnya. Selain ilmu di bidang farmasi, kampus di Dharmawangsa Dalam itu ikut membangun karakternya. Termasuk, kemampuannya dalam leadership.
Alumnus Unair, menurut Retno Tyas, punya kekhasan tersendiri dibanding lulusan universitas lain. Mereka kreatif, inovatif, dan cenderung out of the box.
Ia mengaku semasa kuliah bukanlah orang yang menonjol di bidang akademik. Meski sempat menjadi asisten di laboratorium Kimia Analitik, nilainya tidak lebih unggul daripada mahasiswa lain. Baginya lebih nyaman memahami daripada harus menghafalkan setiap kalimat dalam pelajaran.
Unair memang punya tempat tersendiri di hati Retno. Ia mengaku jika ada kesempatan mencari informasi perkembangan almamaternya saat ini. Sebagai alumnus Unair, Retno mengingatkan agar kampus menghimpun kekuatan melalui jejaring alumni.
Apalagi, di era informasi terbuka seperti sekarang. Yang dibutuhkan adalah membangun networking dengan semua pihak, termasuk para alumni. Unair harus seperti alumninya, berpikir out of the box. (*)