Harianto Widodo

Masa Kuliah Jadi Pembelajaran Kehidupan

Harianto Widodo mengaku selama menjadi mahasiswa Jurusan Manajemen di Fakultas ekonomi (kini Fakultas ekonomi dan Bisnis – FeB) prestasinya tidaklah menonjol.

Meski demikian, Harianto ternyata mampu berprestasi di universitas kehidupan. Dia sukses. Kini dia menjadi orang dalam yang bisa meniti ke puncak karir di pt pegadaian. Dia menjabat direktur i pt pegadaian.

Harianto menuturkan, semasa kuliah dirinya tak pernah menunjukkan prestasi yang wah, menggemparkan, dan menjadi perhatian rekan-rekan lainnya. ”saya ini biasa-biasa saja. tapi, saya terbiasa belajar dari lingkungan. Mungkin itu yang membawa saya sampai di sini,” katanya, saat ditemui di kantornya, kawasan Kramat Raya, Jakarta.

Dua hal yang menjadi titik pembelajaran dalam perjalanan hidupnya adalah pengalaman yang didapatkannya. pertama, daya tahan menjalani kondisi yang serba ngepas. Dengan hanya memiliki kiriman Rp 35 ribu per bulan pada masa itu, dia harus mencari tempat kos, mencukupkan makan, dan memenuhi kebutuhan tugas atau pelajaran.

Dulu itu banyak pengeluaran untuk fotokopi. Membagi uang antara makan dan kos, dan pelajaran, harus tepat. Kalau tidak bisa kekurangan. ”Daya tahan untuk menanggung kesengsaraan itu yang bikin saya ulet. Mampu bertahan sampai lulus,” ceritanya.

Kedua, istikamah, fokus, dan konsisten menjaga apa yang telah didapatkan. Dia tak mau berpindah pekerjaan. itu yang membuat dirinya sampai ke jenjang seperti saat ini.

Syukuri Pekerjaan, Serius Kenali Lingkungan

Harianto termasuk orang yang punya komitmen dan pandai bersyukur. Dia tak mau berpindah-pindah pekerjaan karena sempat merasakan sulitnya mendapatkan pekerjaan tersebut. Setelah lulus pada 1992, dia mengaku sempat menemui kendala, kegalauan, karena belum mendapatkan pekerjaan. Dia juga sempat dikritik orang rumah. sebab, setelah lulus kuliah, ternyata dia tidak langsung bekerja. ”saya sempat nggak enak juga. Orang tua bilang, sudah lulus sana, jangan di rumah,” ucapnya. Selama sekitar delapan bulan pascalulus, Harianto sempat menganggur. Dia pun memilih ke rumah saudaranya di Jakarta, sembari melamar kerja. sempat tak diterima beberapa kali, tawaran akhirnya datang dari pt pegadaian.

Menurut dia, almarhum sang bapak memberi nasihat, jadi orang itu harus antepan. Mantap, fokus, dan sungguh-sungguh. Karena itu, apa yang didapat harus disyukuri, dimasuki serius. ”Ya, nggak pikir pindah-pindah. takut masih ada risiko. istikamahlah,” tutur pria asal tulungagung tersebut.

Di dalam perusahaan dia banyak belajar dengan lingkungan. Mulai dari belajar personalia, keuangan, sDM. ”saya sering komunikasi. Kantor dan teman itu jadi tempat diskusi dan bertanya. semakin banyak pemahaman, semakin banyak yang saya dapatkan,” tandasnya. Setelah berpindah posisi dan berpindah kota, dia pun dipercaya menjadi direksi. sempat tak ingin menerima tawaran karena merasa masa kerja masih panjang, Harianto akhirnya harus ikut fit and proper test dan lolos.

Karir ayah dua anak ini semakin moncer karena mampu mengusung semangat transformasi. ide-ide yang dipendamnya sejak lama ternyata berhasil dijalankan saat dirinya menjadi pimpinan.

Dia menuturkan, apa yang dilakukannya merupakan akumulasi dari pemikiran dan ide sejak masuk kerja. ”Banyak ide yang saya usulkan 10 tahun lalu, 15 tahun lalu, akhirnya saya eksekusi sendiri. Waktu itu mungkin belum relevan. ternyata saat ini efektif,” papar pria 54 tahun tersebut. Pola pikir kritis, sitematis, dan memodelkan planning untuk perusahaan itu dipelajari dari pengalaman. Harianto mengakui, universitas kehidupanlah yang membuat dirinya sukses. 

Dalam universitas kehidupan itu, ada satu fase yang membuat daya tahan akan hidup serba pas-pasan dan penuh perjuangan, yakni fase di universitas airlangga.

Prinsip On The Track

Jalan paling cepat adalah jalan lurus, jangan memutar. Begitulah prinsip yang dimiliki Harianto dalam menjalani berbagai permasalahan di dunia pekerjaan atau saat masih kuliah dahulu. Menurut dia, dalam perjalanan apa pun rintangan harus dihadapi sampai benar-benar maksimal, sampai mentok. Dia pantang memutar, mencari alternatif sebelum masalahmasalah itu bisa diatasi. ”prinsip saya begitu. Jalan paling cepat itu jalan lurus. Jangan memutar, belak-belok biar sampai tujuan. Hadapi saja, itu menempa diri,” tuturnya.

Karena itulah, dia bisa melangkah hingga sejauh ini. Dibesarkan dengan selalu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, tak menyerahkannya begitu saja ke bawahan, memperkaya khazanah strategi dan ide. ”ini proses. Jangan lepas tangan. saya justru sering mengajak mereka memecahkan masalah bersama-sama, tidak meninggalkan bawahan begitu saja,” ucap dia.

Apresiasi Pengelolaan Kampus

Jarak yang jauh dari pusat, menurut Harianto, memang memengaruhi perkembangan sebuah kampus. untuk mem-branding-nya diperlukan strategi tersendiri. 

Dia yakin, dengan struktur kampus yang diisi orang berkompeten, banyak tercipta produk yang bagus. itu terbukti dengan lulusan dan kampus yang bersaing dengan kampus besar macam ui ataupun Gadjah Mada.

Dinamika kampus unair sekarang sudah bagus. ”Ya, mungkin program mengasah kreativitas ditingkatkan, kepekaan lingkungan ditingkatkan,” ucapnya.

Di era digital, menurut dia, lulusan unair tak melulu harus dipaksakan untuk masuk ke BuMn, perusahaan ataupun institusi negara. Dia merujuk salah satu alumnus unair yang mendirikan pinjaman.co.id. ”Harusnya program untuk membangkitkan semangat kreativitas, melahirkan orang seperti itu ditingkatkan,” tandasnya.

Bangun Link Alumni

Rasa iri sempat tersirat saat Harianto menyaksikan iluni ui dan Kagama. institusi alumni dari kampus ui dan uGM tersebut dikenal memiliki ikatan yang cukup kuat. Sepak terjang jaringan iluni ataupun Kagama juga sudah cukup maksimal. Beberapa kali dia melihat ada langkah-langkah organisasi alumni dua kampus tua di indonesia tersebut yang menjadi perhatian. ”penting link ini, tapi bukan yang seolah-olah. Bila benar-benar digarap, ini menjadi alat efektif untuk membantu unair menjadi kampus 500 terbaik dunia,” ujarnya.

Copyright © Universitas Airlangga