Rendy Pandugo

Kegigihan yang Tidak Mengkhianati Hasil

“Bekerja sepenuh hati untuk menghasilkan karya yang menginspirasi,”

Mempercayai kemampuan diri sendiri dalam mencapai tujuan karir merupakan hal yang tidak dimiliki semua orang. Namun, tidak demikian halnya dengan Rendy Pandugo, alumni Universitas Airlangga (UNAIR) yang percaya bahwa impiannya layak diperjuangkan. Rendy kini tak hanya berhasil mewujudkan impiannya menjadi musisi ibukota, ia juga sukses mencuri perhatian melalui warna baru yang ditawarkannya dalam belantika musik Indonesia.

Sedari kecil, pria kelahiran Medan ini memang tertarik untuk mempelajari instrumen musik. Namun, setelah menjalani sekolah musik dan kursus gitar elektrik, Rendy akhirnya keluar karena merasa tidak cocok dengan kurikulum yang digunakan. Saat itu, ia bahkan mengaku mendapat peringkat terbawah di kelas. Tak hilang akal, Rendy kemudian memutuskan untuk mempelajari dan membuktikan kemampuan bermusiknya melalui aktivitas band bersama teman-temannya. Di bangku SMP dan SMA, band-nya dikenal kerap memenangkan kompetisi tingkat kota hingga provinsi.

Berkuliah sambil Eksplorasi

Walau menyadari passion di bidang musik, Rendy masih haus akan ilmu lain. Itulah yang menyebabkan alumni SMA 2 Surabaya ini menempuh program sarjana di Universitas Airlangga (UNAIR). Berkuliah tidak mematikan jiwa bermusiknya. Justru, Rendy terus mengasah minat bermusiknya dengan membentuk band bersama mahasiswa UNAIR yang dinamai “Riviera”. Band Riviera tercatat pernah memboyong juara tiga di ajang A Mild Live Wanted 2007, dan berhasil menggarap album bersama dengan pemenang-pemenang lainnya yakni D’Massive dan Geisha.

Baginya, perkuliahan menjadi hal yang layak disyukuri karena bisa mendapatkan ilmu dan privilese yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Selama kuliah ga hanya dihabiskan untuk kuliah doang, tapi saat itu saya juga mencoba memperluas pertemanan utamanya ke orang-orang yang punya minat yang sama yaitu musik,” jelasnya.

Di akhir masa kuliahnya, Rendy membentuk duo Di-Da. Duo yang berhasil menembus label ternama Universal Music Indonesia. Rendy yang pada band-band sebelumnya hanya berposisi sebagai gitaris, akhirnya menjadi gitaris sekaligus vokalis utama di duo Di-Da. Tepat setelah lulus, Rendy akhirnya hijrah ke Jakarta dengan membawa impiannya sejak SMP, berkarir sebagai musisi. Sayang, setelah sempat menghasilkan dua single yang cukup terdengar di pasaran, duo Di-Da kalah bersaing dengan boyband yang saat itu tengah booming.

Sempat Ingin Akhiri Impian

Sadar tidak bisa hanya bergantung pada manajemen atau label, akhirnya Rendy berupaya membuat portofolio pribadi di situs berbagi musik SoundCloud. “Saya menyadari ternyata walaupun sudah pernah rilis album dan berada di naungan label, saya harus tetap kerja keras mengusahakan agar lagu dan suara saya didengar oleh orang. Saya nggak bisa hanya diam saja untuk menghidupi mimpi saya,” sebutnya.

Setelah sepi pendengar selama beberapa bulan pertama, akun miliknya langsung banyak dikunjungi akibat salah satu unggahan selebtwit di media sosial Twitter. Banyaknya follower bukan jaminan tawaran untuk tampil berdatangan. Rendy bahkan mengaku sempat ingin mengakhiri karir musiknya di awal tahun 2014. “Saat itu sempat berpikir, apa kerja kantoran aja ya biar ada gaji tetap?,” sebutnya.

Unggahan-unggahannya di SoundCloud kemudian membawa Rendy menjadi juri Starvoices Indonesia, ajang pencarian bakat menyanyi besutan SoundCloud pada tahun 2014-2015. Rendy juga menerima tawaran dari Acha Septriasa untuk menyanyikan soundtrack dari film “Aku Cinta Kamu”, berjudul “Firasat” yang ia nyanyikan bersama Piyu Padi. Tak hanya itu, Rendy kemudian juga menempa segala pengalaman yang berkaitan dengan musik. Sebut saja manggung di berbagai tempat, menjadi penyanyi untuk acara pernikahan, hingga bernyanyi reguler hingga suaranya habis.

Garap Album Pertama di Swedia

Rendy sempat menolak dua kali tawaran label Sony Music Entertainment setelah kemudian menerima tawaran dengan kesepakatan khusus mengenai materi albumnya yang berbahasa Inggris. Pada tahun 2017, alumni Manajemen UNAIR tersebut merilis album studio perdana bertajuk “The Journey” dengan 11 lagu yang merupakan rangkuman perjalanan bermusik Rendy selama 5 tahun.

Lagu-lagu dalam album ini melibatkan sejumlah musisi lokal dan internasional, serta direkam di studio musik di Stockholm, Swedia. Album ini menjadi album pertama bagi Sony Music Entertainment Indonesia yang memiliki seluruh lagu bahasa Inggris dan dirilis di 4 negara yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Lewat album solo pertamanya, Rendy berhasil menarik perhatian dan apresiasi dari penikmat musik karena lagunya yang berkarakter, jujur, dan manis. Melejitnya album ini membuat nama Rendy Pandugo sempat bertengger di beberapa tangga lagu di Indonesia.

Kembangkan Talenta

Musisi yang kerap dijuluki John Mayer-nya Indonesia ini tak lantas berpuas diri. Ia terus menjajal berbagai kemungkinan dalam musik. Rendy yang dulu hanya berkutat sebagai gitaris dalam band, kini menjadi solois, bahkan telah merambah instrumen piano, dan mendirikan label sendiri bernama Piece Of Paradise (P.O.P) demi menghasilkan lagu-lagu yang semakin berkualitas. Musik bukan hal yang baru bagi Rendy, tapi kesuksesan datang di saat Rendy memilih keluar dari zona nyaman. Melalui berbagai tantangan dan pengalaman kurang mengenakan, Rendy justru menjadi sosok yang semakin kuat dalam menghidupi mimpinya sebagai seorang musisi.

Bakat Rendy juga dipercayai oleh musisi lain untuk memproduksi dan bertanggung jawab atas musik mereka. Hingga saat ini, ia telah merilis puluhan lagu yang sarat akan makna dan melodi indah. Selama karir, puluhan lagunya berhasil dinominasikan dan menang dalam berbagai penghargaan bergengsi. Meski demikian, Rendy mengaku apresiasi paling tinggi yang diberikan adalah saat karya yang ia hasilkan dapat benar-benar menginspirasi pendengarnya. Ia akan terus berkarya dan bereksperimen demi menghidupi karir musisinya.

Copyright © Universitas Airlangga