Menebar Manfaat ke Penjuru Dunia
Delvac Oceandy merupakan ahli Kardiologi Molekular yang dimiliki Indonesia. Kiprahnya dalam dunia kesehatan tidak main-main, sebagai alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) tahun 1996, ia sudah melanglang buana ke berbagai negara dan mendapatkan beragam penghargaan atas jasa, pengabdian, serta kebermanfaatan ilmu yang dimilikinya. Kini, ia tercatat sebagai pengajar sekaligus peneliti senior pada divisi Cardiovascular Science, The University of Manchester, Inggris.
Namun, walaupun sudah lebih dari 20 tahun berkiprah di luar negeri, penampilan Delvac tetap bersahaja. Ayah dua anak tersebut selalu mengajarkan keluarganya tentang tanah asalnya, Indonesia. Ia tetap menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan keluarga kecilnya. Gaya bicara yang khas suroboyoan serta tata krama ketimuran pun tetap ia pertahankan. Dengan gaya bicara dan kesederhanaan yang dimiliki, siapa sangka, beliau merupakan ilmuan Indonesia yang berkarya disalah satu universitas terbaik dunia.
Mendirikan Forum Ilmiah Mahasiswa
Cita-cita Delvac menjadi seorang dokter, mengantarkan hatinya pada FK UNAIR. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia cukup aktif dalam beragam kegiatan di lingkungan kampus. Terutama dalam hal akademik. Ia tercatat beberapa kali mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional atau PIMNAS dan mendapatkan pendanaan dari hal tersebut.
Selain itu, ia pun menjadi pendiri dari Forum Ilmiah dan Studi Mahasiswa (Forisma) FK UNAIR yang masih bertahan hingga kini. Forum tersebut berfokus pada kegiatan keilmiahan dan penalaran, dengan salah satu targetnya adalah delegasi untuk PIMNAS. Dari situ jugalah, ia bercita-cita menjadi seorang peneliti hingga mampu menerbitkan lima paper pada jurnal nasional selama pendidikan sarjana.
“Pada saat itu, FK UNAIR sangat kurang partisipasinya (dalam mengikuti PIMNAS). Sudah ada beberapa namun lebih banyak dari FKH dan Fakultas Sains. Jadi, kami fokus membenahi itu bagi mahasiswa FK,” ujarnya.
Sejak kuliah pun, ia sudah tertarik dengan pembahasan mengenai ilmu tentang kardiovaskular serta biologi molekular. Alasannya sederhana, baginya, kedua ilmu tersebutlah yang mampu ia cerna dan talar dengan lebih cepat dan lebih baik.
“Waktu masuk ke klinik saya sangat suka bagian yang medik, bukan yang bedah. Jadi di kedokteran ada dua macam yang bedah dan yang medik,” tambah dokter yang juga pecinta sepak bola tersebut.
Perjalanan sebagai Peneliti
Setelah lulus pada 1996, Delvac mencoba peruntungan di berbagai lembaga penelitian, walaupun ia juga tidak menutup kemungkinan untuk bisa menjadi pengajar atau klinisi. Perjalanannya dimulai ketika ia mendapatkan surat balasan dari Direktur Lembaga Eijkman, Prof. Dr. Sangkot Marzuki, untuk pergi ke Jakarta.
“Setelah di Eijkman, wawasan saya terbuka lagi, tidak hanya Surabaya dan sekitarnya. Tapi Jakarta hingga internasional, banyak orang luar negeri disana (Eijkman). Akhirnya timbul keinginan untuk sekolah di luar negeri,” ujarnya.
Dengan berbekal pengalaman yang dimiliki serta bantuan dari seniornya di Eijkman, ia pun berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan dalam bidang biologi molekular University of Queensland, Australia, dengan bantuan beasiswa dari pemerintah Australia. Melandanya krisis moneter di Asia pun akhirnya menjadi batu loncatan baginya, setelah berdiskusi Panjang, Delvac pun memutuskan melanjutkan pendidikan doktoralnya pada bidang molekular genetik di universitas yang sama.
“Saya PostDoctoral, kemudian melamar di berbagai tempat di Amerika dan Eropa. Dan saya di interview di dua tempat, satu di Portland Amerika, satu di Manchester. Dari du aitu saya cocok di Manchester karena bidangnya jantung,” ujar anggota British Society of Cardiovascular Research tersebut.
Menengok Meritokrasi di Negara Maju
Menjadi Diaspora yang jauh dari tanah kelahiran tentunya tidak selamanya mudah. Disisi lain, ia mampu membuka cakrawala berpikir yang jauh lebih luas dan mendapatkan pengalaman yang lebih beragam. Lebih-lebih, Inggris dan Eropa menyimpan banyak kisah menarik yang dapat dipetik pembelajarannya, salah satunya tentang Pendidikan.
Namun, rasa rindu pada suasana kampung halaman memang tidak bisa terbendung. Hampir 25 tahun berkarir di negeri orang, kadang membuatnya merasa sendiri. Ia bersyukur, memiliki pasangan yang juga orang Indonesia, sehingga, bebannya di perantauan dapat dibagi.
Jauh disana, ia melihat, bagaimana meritokrasi di negara maju sangat kental. Masyarakat akan dihargai dari sudut pandang keilmuan dan kemampuan yang dimiliki, bukan latar belakang kehidupan. Delvac mencoba berkaca pada diri sendiri. Sebagai seorang minoritas dan memiliki warna kulit yang berbeda, ia dapat diterima dengan baik, bahkan dihargai.
“Dari Research Associate, Research Fellow, sampai Independent Researcher, Lecturer, sampai sekarang Reader. Jadi dari bawah sampai saat ini. Tentunya tidak selamanya lancar ya, jadi ada naik turunnya juga,” tambahnya.
Menurutnya, hal tersebut dapat dibangun dari tradisi keilmuan yang dipupuk sejak lama. Dirinya melihat, bagaimana negara maju sangat menghargai ilmu pengetahuan dan kecakapan dalam berdiskusi. Ketika mengunjungi museum, Delvac melihat perkembangan ilmiah telah populer bahkan ratusan tahun lalu.
Berawal Dari Hal Kecil
Dalam karirnya, ia memulai dengan suatu yang sederhana. Baginya, ketika kita mampu meninggalkan kesan baik pada hal sederhana, maka bukan tidak mungkin akan meraih hal yang lebih besar lagi. Ia ingat bagaimana memulai dari diskusi ilmiah kecil sewaktu berkuliah di UNAIR dan mencoba mengikuti beragam lomba di tingkat universitas hingga melangkah di tingkat nasional. Pengalaman dan langkah kecil itulah yang menghantarkan pada capaian besar.
Akhirnya, ia pun mampu meraih berbagai penghargaan internasional, seperti British Heart Foundation (BHF) Intermediate Fellowship, AMP Queensland Biomedical Research Award dari Australian Society for Medical Research, hingga ESC Young Investigator Award dan ESC Best Presented paper dari European Society of Cardiology. Tidak hanya itu, sebagai peneliti aktif, jutaan Poundsterling pun telah ia terima sebagai hibah untuk pendanaan penelitiannya.
“Kalau adik-adik di UNAIR itu bisa menang di UNAIR, maka bisa juga menang di tingkat Australia, di Eropa. Jadi kalau mau kerja terus, bisa juga juara di tingkat dunia,” tutupnya.
Bagi UNAIR, Delvac berharap agar UNAIR menjadi perguruan tinggi tingkat dunia yang berkiprah dan berperan bagi dunia pendidikan di kancah internasional. Baginya, UNAIR telah banyak menelurkan orang-orang hebat yang karyanya terus bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.