Perawat Sejati Berkiprah untuk Negeri
“Banyak berbuat baik, akan banyak teman”
Pemimpin sejati bukan hanya membuat gagasan namun juga mampu untuk mengimplementasikannya. Penulis buku terkenal, John C. Maxwell, berkata bahwa pemimpin adalah orang yang mengetahui jalan, melewati jalan tersebut, dan menunjukkan jalan itu untuk orang lain. Rupanya kata-kata itu terlihat jelas pada diri Harif. Obsesi menjadi ketua muncul karena kesadaran akan organisasinya yang harus segera dilakukan percepatan.
Berbekal segudang gagasan serta pengalaman, pria bernama lengkap Dr Harif Fadhillah SKp SH M Kep MH itu berhasil mendapat kepercayaan untuk menahkodai kepengurusan organisasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) selama dua periode berturut-turut, yakni 2015-2020 dan 2020-2025.
Kiprah di PPNI
Sebelum menjadi ketua umum, alumni Doktor Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) itu sudah berkiprah di PPNI sejak tahun 2005. Beberapa jabatan penting di PPNI pun pernah ia emban yakni sekretaris I, wakil Sekretaris jenderal dan terakhir menjadi sekretaris jendral pada tahun 2010 hingga 2015. Dalam perjalanannya menjadi anggota, Dr Harif mengaku banyak menemukan celah yang harus segera diperbaiki di dalam tubuh organisasi PPNI.
Beberapa diantaranya adalah masalah sistem organisasi, standarisasi profesi hingga kesejahteraan para perawat itu sendiri. Masalah-masalah yang ia temukan terus menerus ia suarakan dalam berbagai kesempatan, bahkan tak jarang Dr harif juga berdiskusi dengan pengurus PPNI di berbagai daerah demi terselesaikannya suatu masalah.
Proses yang ia temui lambat laun semakin rumit hingga Dr Harif berpikir akan lebih mudah jika dirinya memegang kendali dalam organisasi. Atas dasar itulah Dr harif memberanikan diri untuk mencalonkan diri menjadi ketua umum. Keputusan tersebut membuat dirinya bersaing dengan para seniornya di PPNI. Namun berkat jam terbangnya yang sudah tinggi serta relasi kepada pengurus-pengurus di daerah yang telah dibangun sejak dini, maka pada tahun 2015 Dr Hanif berhasil terpilih secara aklamasi menjadi ketua umum organisasi profesi itu.
Dalam masa kepemimpinannya, bisa dikatakan Dr Harif merupakan seorang yang Revolusioner. Banyak kebijakan-kebijakan yang dibuat dan disempurnakan olehnya. Kebijakan yang paling berdampak besar adalah pembuatan sistem dan penguatan organisasi dalam tubuh PPNI. Berkat sistem organisasi yang di bangun, maka koordinasi pengurus pusat dengan daerah serta keuangan dan anggaran organisasi semakin terorganisir dengan baik. Hal itu juga berdampak pada output yang dihasilkan.
Dr Harif menyebut dalam satu tahun kepemimpinannya, PPNI berhasil mendirikan kantor pusatnya di Jakarta. Selain itu berbagai produk juga berhasil dihasilkan diantaranya buku standar keperawatan, peraturan organisasi, sampai draf undang-undang keperawatan yang akan diajukan ke DPR untuk disahkan. Dr Harif mengatakan bahwa membangun sistem adalah suatu hal yang urgent, sebab jika sistemnya baik maka akan berdampak baik secara berkesinambungan.
“Pada organisasi yang sifatnya volunteer dan organisasi masa berbasis keanggotaan ini tentu utamanya adalah bagaimana mengelola keanggotaan dengan baik,” ucap Dr Harif.
Menjadi Perawat Hingga Pengajar Perawat
Bisa dibilang kecintaan Dr Harif pada dunia keperawatan sangat mendalam. Semua itu bermula saat dirinya lulus dari jenjang Sekolah Menengah Atas. Dr Harif sebenarnya terobsesi untuk melanjutkan studi di Fakultas Pertanian. Dirinya terus berusaha mengikuti seleksi masuk demi menggapai cita-citanya tersebut, namun karena permintaan orang tua, Dr Harif juga menyiapkan cadangan di Akademi Keperawatan Jakarta. Rupanya Dr Harif diterima pada kedua kampus tersebut.
Dr Harif sempat merasa bingung untuk memutuskan tempat yang akan menentukan arah karirnya kedepan. Dalam masa perenungan itu, sang ayah mendapat musibah berupa kecelakaan. Luka yang diderita cukup parah hingga harus dilakukan rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari. Dalam kesehariannya, Dr Harif yang saat itu menemani ayahnya menyaksikan sendiri ketulusan dari seorang perawat dalam merawat sang Ayah. Dengan beberapa pertimbangan, sang ayahnya pun berpesan agar lebih baik dirinya memilih menjadi seorang perawat.
“Beberapa menit setelah itu, saya mengikuti apa yang disarankan orang tua saya walaupun sangat berat hati karena di Fakultas Pertanian itu menjadi obsesi saya sejak kelas satu SMA ” ujar Dr Harif.
Namun Ia sangat percaya bahwa ridho Allah adalah ridho orang tua. Dr Harif merasa ikhlas dalam menjalani masa studinya hingga lulus. Dalam menjalani profesi, Dr harif pun terlihat sangat tekun mengabdikan dirinya untuk menjadi perawat. Tercatat pria kelahiran Curup, 3 Agustus 1969 itu sudah menjadi perawat di Rs Islam Jakarta selama 25 tahun mulai dari tahun 1991 hingga dirinya diangkat menjadi ketua umum PPNI di tahun 2015. Dr Harif juga aktif membagikan ilmunya sebagai dosen di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta Setelah menamatkan studi doktornya di Universitas Airlangga. Cita-cita Dr Harif bukan hanya sebatas membuat produk hukum untuk kepentingan perawat namun juga dapat mencetak perawat yang dapat dicintai masyarakat.