Alumni FK Unair Harus Punya Daya Saing di Era MEA
Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai sejak Desember 2015, kompetisi sumber daya manusia (SDM) di Indonesia semakin ketat. Persaingan dengan tenaga-tenaga asing yang masuk ke Indonesia tidak terelakkan lagi, termasuk di kalangan kedokteran.
Karena itu, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unair, Prof. Dr. dr. Soetojo, Sp.U(K)., terus bekerja sangat keras untuk meningkatkan kualitas lulusannya. “Agar dokter lulusan FK Unair lebih siap berkompetisi di era MEA,” ujarnya.
Bahkan, dokter lulusan FK Unair harus lebih hebat dan lebih unggul dibanding dokter lulusan luar negeri. “Lulusan FK Unair harus mampu mandiri, inovatif, dan unggul,” tegas Prof. Soetojo.
Menurut dokter spesialis urologi ini, kualitas lulusan FK Unair yang diharapkan itu sejalan dengan target Unair masuk dalam 500 universitas top dunia pada 2020.
Karena itu, ayah tiga anak tersebut bertekad agar FK Unair bisa menjadi penggerak dalam mencapai target 500 universitas top dunia.
FK memang layak menjadi ujung tombak untuk mencapai target besar itu. Fakultas itu merupakan cikal bakal Unair. Didirikan pada 1913, FK memiliki banyak lulusan yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Bahkan, di luar negeri. Mahasiswanya banyak, doktornya banyak, dan punya guru besar terbanyak di Unair.
FK punya 43 program studi (prodi) dan 29 departemen. Mahasiswa FK terdiri atas program S-1, S-2, S-3, spesialis, dan subspesialis.
Berawal dari Tabanan, Bali
Karir Prof. Soetojo diawali di Kediri, Tabanan, Bali, sebagai dokter Inpres (Instruksi Presiden). Waktu itu statusnya sudah calon pegawai negeri sipil (CPNS).
Dia memilih Bali karena masa pengabdiannya tidak terlalu lama, hanya tiga tahun. Selain itu, letaknya tidak terlalu jauh dari Jawa. Sementara dokter di Jawa harus mengabdi lima tahun sebelum diperbolehkan melanjutkan pendidikan dokter spesialis.
Namun, ada pengecualian untuk beberapa daerah di Jawa. Antara lain di Pandeglang dan Bawean, pengabdian cukup dua tahun. Pengabdian bisa lebih cepat –hanya satu tahun– jika dokter-dokter baru itu bersedia ditempatkan jauh di luar Jawa. Misalnya, di Irian Jaya atau Timor Timur (sekarang Timor Leste).
Selama tiga tahun di Bali, anak seorang guru di Desa Duyungan, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, itu mencatat prestasi sebagai Dokter Puskesmas Teladan 1989/1990. Sebagai kepala puskesmas, Prof. Soetojo membawahkan tiga puskesmas pembantu dan sekitar 70 pegawai.
Ketika di Bali itu, dia juga menjalani masa prajabatan dan diangkat sebagai PNS. Dua anaknya pun lahir di masa pengabdian itu.
Usai masa pengabdian, dia melanjutkan pendidikan spesialis urologi (reproduksi dan organ saluran kemih) di FK Unair selama 6,5 tahun. Soetojo lulus spesialis urologi pada 1997.
Begitu lulus, dia mendapat tawaran dari Prof. Soenarjo, Kepala Departemen Urologi FK Unair yang juga Ketua Staf Medik Fungsional (SMF) RSUD Dr. Soetomo, untuk menjadi pengajar. Namun, statusnya tetap sebagai staf RSUD Dr. Soetomo.
Rumah sakit itu memang juga menjadi rumah sakit pendidikan FK Unair. Artinya, dokter-dokter yang diangkat Departemen Kesehatan pun bisa mengajar.
Pada 2001, dia melanjutkan program doktor di FK Unair juga dengan biaya sendiri. Setelah lulus pada 2004, dia ditawari sebagai staf dosen untuk dilimpahkan ke Departemen Pendidikan Nasional (Diknas).
Karirnya di pendidikan berlanjut sebagai Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran (FK) Unair pada 2007–2010, Kepala Departemen Urologi/SMF 2010–2015, dan kemudian Dekan FK (2016–2020). (*)