Satria Arief Prabowo

Doktor Termuda dan Terlibat dalam Riset Vaksin Oral TB serta COVID-19 

Dr. H. Satria Arief Prabowo, MD, PhD., atau yang akrab disapa Satria merupakan alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan tahun 2008. Pria yang lahir di kota Surabaya tersebut menyelesaikan studi pendidikan dokter dan meraih gelar dokter pada awal tahun 2014. 

Selama menjalani studi di UNAIR, Satria mendapatkan kesempatan untuk belajar di University Medical Center Groninngen (UMCG), Belanda selama enam bulan. Yaitu dalam rangka mengikuti program clinical and research training di tahun 2012

“Selama mengikuti program pelatihan tersebut, saya dibimbing oleh Professor Tjip van der Werf,” ucap Satria. 

Raih Rekor MURI sebagai Doktor Termuda Indonesia di Bidang Kedokteran 

Pada saat menempuh pelatihan di Belanta, Satria juga berhasil mempublikasikan dua jurnal international yang terindeks Scopus dan Pubmed. Karenanya, setelah menyelesaikan studi dokter Satria direkomendasikan oleh pembimbing yang akrab disapa Prof. Tjip itu untuk menempuh program Phd atau doktoral (S3) tanpa menempuh program master (S2) di London. 

“Saya kemudian diterima untuk melanjutkan program PhD di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM),” terang Satria. 

LSHTM sendiri telah menduduki posisi peringkat nomor satu dunia untuk studi di bidang ketokteran tropis menurut Center for World University Rankings (CWUR) di tahun 2017. Selama studi S3 disana, Satria dibimbing oleh promotor Professor Helen Fletcher yang menjabat sebagai Durektur Tuberculosis Centre di LSHTM. 

Satria menyelesaikan studi S3 pada tahun 2018, yaitu ketika Satrai berusia 25 tahun. Karenanya, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Doktor Termuda Indonesia bidang Ilmu Kedokteran. 

Kembangkan Vaksin Oral Tuberkulosis dan COVID-19 

Saat ini Satria berprofesi sebagai konsultan di Immunitor Ltd. yang merupakan lembaga riset vaksin yang berkedudukan di Inggris. Disana, Satria terlibat dalam pengembangan vaksin oral untuk penyakit infeksi meliputi Tuberkulosis (TB). Saat terjadi pandemi COVID-19, Satria juga ikut dalam pengembangan vaksin COVID-19 tersebut. Saat ini, Satria juga sedang mempersiapkan diri untuk memulai pendidikan spesialisasi anak (pediatri) di Inggris. 

“Pada saat yang bersamaan, saya ikut terlibat dalam riset vaksin Tuberkulosis “RUTI” sebagai research associate bersama Archivel Farma SL dan LSHTM,” lanjutnya. 

Riset pengembangan vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Immunitor Ltd. tersebut bekerjasama dengan Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR. Bentuk vaksin yang sedang dikembangkan adalah tablet yang diminum. Dengan strategi tersebut, diharapkan vaksin akan lebih efisien dan dapat diberikan kepada lebih banyak orang dalam waktu lebih singkat dibanding bentuk injeksi atau suntik. 

“Vaksin oral ini bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia (imunitas) dalam melawan virus. Jadi berbeda dengan obat yang menarget virusnya secara langsung,” terangnya. 

Pada tahun 2019 lalu, Satria juga dipercayai menjadi tim penyusun guideline atau pedoman World Health Organization (WHO) untuk penanganan Tuberkulosis resisten-obat (TB-MDR) pada anak-anak dan remaja di wilayah Eropa. Pedoman tersebut telah dipublikasikan 

Rentetan Prestasi Selama Berkarir 

Selain meraih rekor MURI, Satria juga telah meraih banyak penghargaan selama kuliah dan berkarir sebagai konsultan. Beberapa penghargaan tersebut adalah, sampai saat ini Satria telah memiliki 11 karya publikasi di jurnal Internasional bereputasi yang terindeks Pubmed dan Scopus. 

Pada tahun 2012 Satria mendapatkan penghargaan sebagai “Best Presenter Award” pada kongres ilmiah internasional Student Congres of (bio) Medical Sciences (ISCOMS) di Groningen, Belanda dan International Medical Student Congress in Novi Sad (IMSCN) di Serbia. Pada tahun 2019, makalah riset Satria diterima untuk dipresentasikan di kongres dokter spesialis anak ahli penyakit infeksi se-Eropa dan mendapatkan skor paling tinggi, yaitu pada kongres European Society for Paediatric Infectious Disease (ESPID) di Ljubljana, Slovenia. 

Pada saat studi di FK UNAIR, Satria berhasil meraih juara 1 Mahasiswa beprestasi tahun 2011. Pada tahun 2012, Satria dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pendidikan dokter. 

Satria dan timnya juga pernah menjadi juara 1 dalam olimpiade ilmiah mahasiswa kedokteran se-Indonesia di National Medical Challenge yang diselenggarakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Satria juga selalu masuk 10 besar dalam judisium di FKM dan berhasil meraih IPK 3,9 untuk program pendidikan dokter. 

Harapan untuk Indonesia 

Satria memulai kuliah saat masih berusia 15 tahun. Memulai kuliah pada usia yang lebih awal tersebut tentu memerlukan pengorbanan tersendiri. Satria juga langsung melanjutkan PhD selepas mendapatkan gelar dokter yang tentu perlu mengorbankan beberapa hal dalam hidup. 

Namun sebagai dokter dan peneliti di bidang kesehatan, Satria berharap pada saat 100 tahun setelah kemerdekaan Indonesia, Indonesia bisa duduk sejajar dengan negara maju di bidang inovasi dan pelayanan kesehatan. Terlebih, pada tahun 2050, Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-4 di dunia. 

“Saya menganggap hal yang dibutuhkan sekarang komitmen dari semua pihak untuk bersinergi dalam rangka mewujudkan visi besar tersebut,” terangnya. 

Satria bermimpi Indonesia nantinya dapat menjadi pusat riset penyakit tropis dan infeksi dunia. Dapat mengirimkan kader terbaiknya untuk mendapatkan penghargaan hadiah Nobel yang selama ini masih didominasi oleh peneliti dari negara-negara maju. 

Riwayat Pekerjaan

  • Academic Doctor

    Brighton Sussex University Hospital

  • Penemu

    Riset Vaksin Oral TB serta COVID-19

  • present European Society for Paediatric Infectious Diseases (ESPID)

    2016

  • present Tuberculosis Centre, London School of Hygiene and Tropical Medicine Vaccine Centre, London School of Hygiene and Tropical Medicine

    2014

  • present Acid Fast Club, United Kingdom

    2014

Riwayat Pendidikan

  • Doctor of Philosophy (PhD)

    Infectious Diseases London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM),

  • S3 Kedokteran

    Universitas Airlangga

  • S1 Kedokteran

    Universitas Airlangga

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga