Siswanto

Sempat Kerja Paruh Waktu untuk Biaya Kuliah

Dr. Siswanto, MHP, DTM, adalah alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Unair yang saat ini menetap dan bekerja di Ibu Kota RI, Jakarta. Dia masuk FK Unair pada 1980 dan lulus tahun 1987.

Pria yang lahir di Tulungagung 56 tahun silam itu mengatakan, setelah lulus FK, sambil menunggu penempatan Inpres, dia bekerja di RS Al Irsyad Surabaya. Pada 1989, dia menjalani Inpres di Kulonprogo, DIY.

Siswanto juga pernah menjadi dokter teladan tingkat nasional mewakili DIY pada 1994. Tiga tahun kemudian, dia sekolah ke University of New South Wales, Sydney, Australia, mengambil Master of Health Planning.

Setelah pulang ke Yogya, dia dimutasi ke Kantor Departemen Kesehatan Kulonprogo. Tahun 2000, mutasi lagi. Kali ini ke Puslitbang Pelayanan Kesehatan di Jl. Indrapura 17, Surabaya (salah satu pusat di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI).

Siswanto juga pernah dua kali menjabat kepala bidang di Puslitbang Pelayanan Kesehatan Surabaya. Selama bekerja di unit ini, pada 2001 dia mengambil program Diploma of Tropical Medicine di Nagasaki University, Jepang.

Setelah itu, dia pindah ke Bogor menjadi Kepala Puslitbang Gizi dan Makanan pada 2010. Pasca reorganisasi Kemenkes tahun 2011, Siswanto diangkat menjadi Kepala Puslitbang Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik.

"Baru Maret 2016 lalu saya diangkat sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI," tuturnya.

Belajar Terus Sampai Akhir Hayat

Sebagai dokter yang dididik tentang etika kedokteran, kerja adalah pengabdian kepada masyarakat dan ibadah kepada Tuhan YME. Prinsip dalam berkarir ialah belajar terus-menerus sampai akhir hayat dalam rangka memberikan pengabdian kepada bangsa, negara, dan masyarakat luas. Jabatan boleh dikejar dan dicari, tapi harus dalam konteks aktualisasi diri untuk pengabdian kepada masyarakat.

Di kancah persaingan dunia yang semakin ketat, meskipun ranking daya saing Indonesia perlahan naik, posisinya masih di bawah Malaysia dan Thailand. World Competitiveness Index 2016 menunjukkan Indonesia berada di posisi 34. Malaysia di posisi 20 dan Thailand 31.

Melalui pengukuran 12 parameter (pilar) daya saing global, penilaian World Competitiveness Index dapat digunakan sebagai ukuran kemajuan bangsa. Dari 12 pilar tersebut, kalau diperas lagi, persoalannya terletak pada infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia (kesehatan, pendidikan, dan penguasaan iptek).

Karena itu, pembangunan kualitas SDM melalui kesehatan dan pendidikan adalah kunci utama. Untuk meningkatkan daya saing bangsa, penelitian dan pengembangan juga mempunyai peranan yang strategis, sebagai bagian dari inovasi dan sofistikasi (dua pilar terakhir dalam daya saing global).

Anak Petani di Tulungagung

Dari anak desa di Tulungagung bagian selatan yang kemudian menjadi mahasiswa FK Unair, menurut Siswanto, amat berkesan dan membekas di memorinya.

"Saya tinggalkan desa saya untuk meraih cita menjadi dokter lulusan Unair," kenangnya.

Ketika itu teman-temannya mengendarai sepeda motor untuk kuliah. Namun, Siswanto menggunakan sepeda untuk kuliah sampai tingkat tiga. Yang paling mengesankan, sepedanya sering hilang di tempat parkir. Hal itu karena keusilan teman-teman sekelas. Bukan hilang sungguh, tetapi sepedanya disembunyikan.

"Untuk biaya kuliah saya harus bekerja paruh waktu di sebuah apotek di Jalan Kusuma Bangsa. Tapi, dengan perjuangan dan dukungan penuh orang tua, saya bisa lulus tepat waktu sebagai dokter, pada Oktober 1987," katanya.

Lemah Membangun Kaderisasi

Menurut Siswanto, ambisi Unair menjadi universitas 500 besar dunia terbuka lebar. Tetapi, ada kelemahan Unair terkait dengan dua hal.

Pertama, lemah dalam membangun tim dan kaderisasi dari senior kepada junior. Unair masih mengedepankan aktualisasi individual, belum aktualisasi secara kelembagaan.

Kedua, Unair belum berkiprah secara adekuat pada tingkat nasional maupun internasional, baik itu menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Keterlibatan alumni Unair pada tataran nasional dan internasional serta aktualisasi diri kelembagaan melalui pendekatan tim merupakan langkah strategis untuk mengangkat Unair menjadi universitas bergengsi.

Selain itu, LP4M Unair dan ITD Unair bisa dikembangkan menjadi lembaga riset internasional untuk inovasi di berbagai bidang.

"Termasuk inovasi bidang life sciences, obat, vaksin, diagnostic kits, dan produk biologis lainnya," ujar Siswanto memberikan saran bagi almamaternya.

Riwayat Pekerjaan

  • Kepala Badan

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

    2016

  • Kepala Puslitbang

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

    2011 - 2016

  • Kepala Puslitbang Gizi dan Makanan

    2010 - 2011

  • Peneliti

    Puslitbang Pelayanan Kesehatan

    2000 - 2010

Riwayat Pendidikan

  • Diploma of Tropical Medicine (Diploma)

    Nagasaki University

    2001

  • Master of Health Planning (Master)

    University of New South Wales

    1997

  • Kedokteran (Sarjana)

    Universitas Airlangga

    1980 - 1987

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga